Cara Menyapih Anak dari ASI ke Susu Formula

Tak selamanya menyapih anak itu bisa dialihkan ke susu formula. Berdasarkan pengalamanku pribadi yang melalui proses menyapih anak kurang lebih sekitar satu bulan lamanya, menyapih anak dari ASI ke susu formula itu tak berhasil dilakukan karena anakku lebih menyukai rasa susu UHT. Mungkin berbeda dengan anak-anak lain yang menyukai rasa susu formula, tapi tidak berlaku untukku yang mencoba beberapa merk susu.

Menyapih anak

Cara menyapih anak yang sukses harus didukung oleh support system yang baik. Yakinkah hati dan pikiran mama semuanya untuk kuat menghadapi masa menyapih yang bisa jadi mudah ataupun sulit. Beri keyakinan juga pada pasangan bahwa mama dan papa bisa melalui proses menyapih anak bersama dengan saling menguatkan. Minta dukungan juga saat nanti anak rewel harap bantu untuk menenangkannya. Jika serumah dengan orang tua atau anggota kelurga yang lain jangan lupa untuk dilibatkan agar mendukung proses menyapih anak, karena biasanya nenek atau kakek si kecil cenderung tidak tega melihat cucunya menangis meraung-raung saat mulai disapih.

Baca: Sunscreen Ibu Hamil

Sounding atau Membicarakan Proses Menyapih dengan Anak

Beberapa minggu sebelum anakku menginjak umur 2 tahun, aku mulai memberikan dia pengertian untuk berhenti menyusui karena umurnya sudah bertambah jadi tidak lagi menerima ASI. Aku yang lumayan sering membacakan buku, belum menemukan buku seputar menyapih. Berbekal berselancar di dunia maya, akhirnya aku menemukan postingan berjudul "Cara Menyapih dengan Qur'an" di blog yenisovia[dot]com. Salah satu kalimatnya memberikan saran untuk berulang-ulang mengucapkan yasir wala tu'asir (Ya Allah mudahkanlah jangan dipersulit). Aku pun kemudian tak putus berdoa hampir setiap hari di tiap-tiap waktu mustajab agar Allah mudahkan menyapih anak. Aku pun terus melakukan sounding ke anak dengan berbagai cara seperti "Nanti kalau udah 2 tahun, nggak nyusu lagi ya... minum air dan makan yang banyak", kira-kira begitu. Anakku pun tidak meng-iya-kan ataupun menggeleng, dia hanya diam saja mendengarku berucap demikian.

Baca: Skincare Ibu Menyusui

Di hari yang lain aku berucap "Kalau udah 2 tahun ga nyusu lagi ya. Allah bilang nyusunya cukup sampe 2 tahun aja. Abis tu minum air, makan, minum susu pake gelas. Nyusunya stop stop no no." Perlahan-lahan anakku pun mau tidur tanpa menyusui. Jelang usianya 2 tahun, salah satu alasan yang membuatku semakin yakin untuk menyapih anak adalah karena tiap pagi anakku sudah tak lagi minta ASI. Dari situ perlahan aku mulai memantapkan hati untuk mulai menyapih. 

Menyapih Anak dengan Perlahan

Menyusui bagi saya pribadi selain memberi nutrisi terbaik pertama pada anak adalah tentang memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus padanya. Wajar sekali jika seorang ibu merasa tak tega menyapih anak karena mungkin masih tak sanggup berpisah dengan jantung hatinya, tatapan mesra saat sedang menyusui, maupun genggaman tangan mungilnya. Maka dari itu aku pun memilih untuk melakukannya dengan perlahan, bertahap, walaupun tetap ditarget tapi sedikit demi sedikit. Ini juga ku lakukan demi kesehatan, karena umumnya seorang ibu yang berhenti menyusui itu payudaranya akan membengkak dan menimbulkan rasa sakit yang bikin nggak nyaman.

Alhamdulillah masa-masa badan panas dingin itu hanya ku lalui sehari saja.

Seminggu pertama, aku berhasil menyapih di pagi hari, tapi saat akan tidur siang ASI masih ku berikan. Permulaan yang baik karena di pagi hari anakku memang sudah tidak lagi minta ASI, sebisa mungkin kita ajak beraktivitas dimulai sejak dia bangun. Biasanya aku ajak belanja sayur, pernah juga jalan kaki membeli sarapan, mencorat-coret kertas dengan krayon, dan permainan lainnya yang bikin dia lupa untuk menyusui. Sejak satu tahun anakku sudah ku beri susu UHT, salah satu alasannya karena praktis apalagi saat dibawa bepergian.

Masuk minggu kedua, stop ku beri ASI saat akan tidur siang. Di titik inilah drama dimulai, anakku menjerit di siang hari bolong, mogok makan, dan akhirnya terlelap dalam pangkuanku. Alhamdulillah di masa menyapih siang hari ini suami sedang work from home, jadi proses menyapih ini ku rasakan lebih mudah karena ada suami yang siap bantu gendong si kecil atau memisahkan denganku saat dia mulai meraung-raung. Di minggu kedua ini, saat berhasil tidur siang maka si kecil masih ku berikan ASI saat bangun.

Apakah aku tidak stress? oh tentu saja aku stress, bukan karena khawatir gagal saja. Tapi melihat tangisannya sejak berurai air mata hingga kering air matanya, ibu mana yang tega? yang bisa ku lakukan selain menguatkan hati adalah sering berdoa, meminta pertolongan  dan petunjuk sama Sang Maha Kuasa agar senantiasa diberi kemudahan dalam proses menyapih anak. Yakin kalau proses menyapih ini bukan untuk menyakiti namun untuk kebaikan kita dan anak juga.

Berlanjut ke minggu ketiga, anakku hanya menyusui malam hari saja saat mau tidur. Jadi sepanjang hari kita padatkan berbagai aktivitas, terutama bermain di luar untuk mengalihkan perhatiannya pada ASI. Di minggu ketiga ini rasanya proses menyapih sudah lebih mudah. Tak terbayang jika aku mulai menyapih dengan drastis atau dimulai saat malam hari. Mungkin tengah malam aku yang dalam kondisi kelelahan seharian harus menangani anak yang meraung-raung dan berteriak ingin ASI. Belum lagi mengganggu tetangga sekitar yang sedang istirahat malam. 

Di minggu keempat, perjalanan menyapih anak lebih mudah lagi dan perlahan tidak menyusui di malam hari. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat, untuk mama/ibu/bunda/mami yang sedang berjuang untuk menyapih anaknya, ku berikan pelukan virtual dari Bogor. Semoga senantiasa diberikan kesabaran dan keikhlasan untuk melalui proses menyapih ini. Sekarang anakku sudah masuk usia pra sekolah, perjalanan menyapih anak ini tak serta merta memberikan kelegaan tapi juga memberikan rasa haru luar biasa. Setelah menyapih masih berlanjut proses toilet training yang membutuhkan waktu lebih lama. Mungkin lain kali ada lagi postingan tersebut disini. Cerita menyapih anak ini sebelumnya sudah ku rangkum di thread twitter pribadi @gioveny_ namun sudah tenggelam jauh. Ku simpan dengan rapi catatan menyapihku disini, semoga kelak bermanfaat bagi para ibu yang sedang meyakinkan diri untuk menyapih anak. Sekarang udah ada juga lho buku tentang menyapih anak, mungkin ada yang mau bacakan untuk anaknya bisa banget.


Posting Komentar

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)

Lebih baru Lebih lama