October 18, 2020

Memulai Hobi Berkebun

by , in

Semenjak kepindahan kami ke rumah ini, kami khususnya aku senang merawat tanaman-tanaman di taman kecil depan rumah kami. Waktu kecil aku pernah membayangkan, menanam biji-biji dari buah-buahan yang selesai ku makan. Namun hal itu tentu saja hanya di angan-angan. Sekarang alhamdulillah aku bisa merealisasikan apa yang pernah tersirat dalam ingatanku dan baru ku sadari itu. 


Beberapa bulan setelah pindah, coronavirus melanda negeri ini. Beruntung rasanya kami pindah di waktu yang tepat. Taman kecil di depan rumah menjadi kebun percobaanku yang sedang merealisasikan keinginan masa kecilnya. Aku mulai menanam biji alpukat, biji salak, biji cabe, sampai daun bawang. Semuanya tumbuh satu per satu menjadi sumber kebahagiaan tersendiri buatku. Selama masa pandemi hobi berkebun tanaman hias pun menjadi trend karena sebagian besar waktu pekerja kantoran dilakukan di rumah aja. Tanaman-tanaman yang dulu biasa saja, sekarang berharga mahal dan diburu orang. Tanaman liar yang orang pikir tak akan ada harganya pun sekarang dikemas menarik dengan pot terracotta dan tawon yang makin memikat daya tarik. Sungguh pintar orang memanfaatkan peluang dan mengambil keuntungan dari pandemi ini. 


Toko perabot rumah tangga pun sekarang menyediakan pot. Beruntung rasanya kami tinggal di wilayah yang dekat dengan toko perkakas berkebun berharga miring sehingga selalu ramai karena bisa dijual lagi. Tak dipungkiri, aku pun kecipratan semangat untuk berkebun. Kalau diingat-ingat, sebenarnya naluriku untuk berkebun itu sudah ada sejak masa SMP. Datang lebih pagi dari kawan-kawan yang lain, aku pun memilih menyirami bunga-bunga di taman depan kelas. Memang sudah ada petugas piket yang dijadwal bergiliran untuk melakukan kewajiban satu ini, tapi dengan senang hati aku melakukannya walau bukan jadwal piketku. Kalau orang-orang tuh pengen cari tanaman-tanaman yang sekarang mahal dan langka, ku sarankan datang saja ke sekolah-sekolah hehehe. Saat SD pun aku senang sekali menyiram tanaman depan kontrakan tiga petak kami, walau hanya daun keladi yang gatal itu. 


Dulu aku nggak paham dan tidak peduli dengan nama-nama daun. Tapi sekarang, mulai mengenal satu per satu bahkan ikut berburu semenjak teras rumah kami ditembok pada satu sisinya. Rumah kami pun menjadi lebih sedap dipandang mata dan privacy terjaga. Begitupun tetangga yang memiliki taman yang indah, tentu saja aku terinspirasi untuk mempercantik halaman rumah kami juga. Sadar atau tidak, saat kita menanam, kita turut serta membantu tanaman bertasbih lho. Yuk mulai menanam, mungkin kapan-kapan ku foto deh hasil berkebunku

Tasbih


October 10, 2020

Online Blogger Gathering: Peduli Hutan Indonesia

by , in

Bersyukur sekali rasanya bisa terpilih di antara 30 orang blogger yang ikut memeriahkan online gathering bareng @bloggerperempuan dengan tema "Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan". Acaranya dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya lho, masih inget nggak kapan terakhir kali temen-temen menyanyikan lagu ini? Suasana online gathering nya jadi khidmat banget deh. Kak @rianibram yang jadi pemandu acara ini pun bikin suasana makin semarak. Biasanya lihat di Televisi nasional aja ya kan, sekarang bisa online bareng.

hutan indonesia

Terselenggaranya event ini salah satunya dengan harapan bisa semakin menumbuhkan rasa cinta kita kepada Hutan Indonesia. Rasa cinta itu bisa dibuktikan secara nyata dengan adopsi hutan sehingga saling membantu berupa dana donasi. Dengan mengadopsi hutan, tentu saja kita ikut membantu orang-orang yang menjaga hutan dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Sebelum sharing session dimulai pun kita diajak main games seru lho supaya lebih konsentrasi ya kan menyimak cerita-cerita dari para narasumber.

hutan Indonesia

Menjaga pohon-pohon di hutan agar fungsi ekologisnya terjaga ya salah satunya dengan adopsi hutan karena melalui pohon asuh ini, kita bisa membantu masyarakat adat dan lokal agar hutan terlindungi dari deforestasi.  Dengan pohon asuh, hutan tetap terjaga, masyarakat bisa menjaga kawasan hutan, dan kesejahteraannya pun meningkat. Hutan Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja terlebih lagi di masa pandemi sekarang ini yang dimanfaatkan oleh para perambah liar saat petugas dan penjaga hutan lengah karena fokus mengatasi virus corona, hutan-hutan di Bogor yang seharusnya menjadi daerah resapan air berubah menjadi penginapan, dan masih banyak lagi kerusakan lainnya. Dengan cara berbagi inilah kita setidaknya sudah berbuat sesuatu untuk hutan Indonesia. 

Mas Irham Hudaya dari @leuserconservationforum juga bercerita tentang Hutan Leuseur di Aceh dan berbagai ancaman-ancaman yang dihadapi seperti illegal logging. Keanekaragaman hayatinya yang beranekaragam menjadikan Kawasan Ekosistem Leuser sebagai kawasan penyangga TN Gunung Leuser yang menjadi salah satu warisan dunia UNESCO. Disana juga ada Stasiun penelitian Soraya yang menjadi salah satu tempat penelitian keanekaragaman hayati flora dan fauna yang dilindungi. Stasiun Soraya juga memiliki potensi ekowisata yang beragam lho seperti kegiatan menelusuri hutan, arung jeram atau rafting di sungai Alas, selain itu kita juga bisa berkunjung ke titik-titik air terjun di sekitar Stasiun Soraya.

stasiun soraya

Kak @satyawinnie pun mengajak kami jalan-jalan virtual ke Desa Ketambe, salah satu wilayah di Aceh Tenggara yang menghadirkan paket komplit untuk berwisata alam mulai dari air panas, juga flora, dan faunanya yang beranekaragam. Ketambe merupakan alternatif untuk masuk ke Taman Nasional Leuser. Menuju Ketambe juga lebih mudah dari Medan atau Kutacane, sebuah kota dekat ke Ketambe. Desa Ketambe ini cakupan wilayahnya tidak terlalu luas sehingga bisa dijelajahi dalam waktu yang singkat.

desa ketambe

Pengalaman online gathering kali ini begitu berharga untuk saya karena lebih membuka mata saya untuk mencintai dan ikut melestarikan kekayaan alam Indonesia. Kami juga para blogger diharapkan terus mengkampanyekan tulisan-tulisan yang menggugah pembaca agar peduli dengan keberlangsungan hutan di Indonesia. Dengan demikian kepedulian kita terhadap alam pun semakin terasah. Hutan sebagai salah satu penyangga kedihupan sudah sepatutnya dijaga agar janggan sampai musnah. Yuk mari lestarikan kekayaan lingkungan dan ikut jaga hutan untuk anak cucu nanti.

View this post on Instagram

Lagi ikutan online gathering bareng @bloggerperempuan nih . Ngobrolin tentang pelestarian hutan lewat adopsi hutan. Sebenernya kalo kita ikut serta dalam program adopsi hutan ini, sama aja kaya kita punya anak yang berupa pepohonan di hutan lho. . Seru deh obrolan kali ini diawali dengan games konsentrasi gitu dipandu kakak @rianibram 😂 . Lanjut ngobrol bareng kak @irham94, kak @satyawinnie, & kak Tian.. diajak jalan-jalan juga lihat hutan-hutan yang ada di Indonesia. Ada desa ketambe, air yang jernih, orang utan yang lagi bergelantungan di pohon, & masih banyak lagi kawasan lainnya. . Yuk kita jaga dan lestarikan bersama kekayaan alam di Indonesia yang beranekaragam ini ❤ . PS. Ada danbo lho lagi pake masker di slide terakhir hihihi . Special thanks buat yg fotoin & ngasuh bocah hahaha @keluarrumahproject . #HIIxBPN #AdopsiHutan @bloggerperempuan @hutanituid

A post shared by Gioveny (@gioveny_) on



September 29, 2020

Mendidik Anak, Masa Kini dan Masa Lalu

by , in

 Aku ingat betul masa-masa itu, masa luntang-lantung belum mendapat pekerjaan setelah wisuda pascasarjana. Aku belum memiliki niat yang kuat untuk menjadi dosen, aku juga tidak ada rencana untuk lanjut doktor, penelitian bukan passion ku. Ya, benar adanya aku suka menulis, tapi bukan tulisan ilmiah yang bikin aku susah tidur dan gampang makan. Saat skripsi dan tesis berat badanku selalu naik, bingkai wajah saat foto wisuda tentu saja membengkak dengan pipi yang tumpah juga double chin.


Saat itu aku enggan melamar kerja ke ibukota, kota ini membuatku nyaman hingga rasanya enggan beranjak keluar dari zona nyaman. Sampai akhirnya staf di kampus berbaik hati menyodorkan lamaran pekerjaanku pada bidang-bidang yang membutuhkan. Aku pun menyibukkan diri dengan membentuk lembaga baru bernama Indonesian Youth on Disaster Risk Reduction (IYDRR). Tenaga dan pikiran dengan penuh semangat ku tuangkan disana. Sampai akhirnya aku "menyerahkan diri" mengabdi sebagai guru playgroup di sekolah dekat rumah. 


Tak pernah ku bayangkan sebelumnya kalau aku akan menjadi guru "kecil". Dari mulai guru sampai kepala sekolah keheranan dengan kehadiranku, anak es dua kok mau ya jadi guru playgroup? 


Jujur saat itu aku dalam tekanan, di satu sisi aku sangat ingin terus membersamai IYDRR namun terhalang restu orang tua yang selalu menanyakan walau secara tidak langsung mau sampai kapan aku 'seliweran' tak ada kepastian begitu. Di sela-sela mengajar pun aku curi-curi kesempatan untuk menghadiri undangan blogger, bahkan sampai juara untuk musikal khatulistiwa walau bukan yang pertama tapi aku bangga dengan pencapaianku pada saat itu. 


Aku tidak pernah menyesal membersamai anak-anakku yang lucu dan menggemaskan. Kebahagiaan melihat wajah mereka tak bisa dibayar dengan uang. Beberapa hari setelah mengajar pun aku rindu sama mereka, mungkinkah anak-anak itu masih ingat aku? Yang jelas mereka menanyakan aku kemana dan kenapa tak bersama mereka lagi. 


Sekarang aku mendidik anak kami, tak cukup hanya 2 jam membersamainya untuk bermain seperti saat di playgroup. Bisa lupa masak, lupa makan, dan lupa tidur, karena di usia bermainnya dia senang sekali bermain denganku dan menirukan apapun yang kami perbuat mulai dari memasak, berbicara, sampai mencuci sesuatu. Jika jam 10 dulu murid-muridku pulang, saat ini masak disambi bermain plus mengajak ngobrol. Sungguh, kesabaran yang ku pelajari di playgroup seringnya lose control karena anak kami yang begitu aktif dan cerdas. Bersyukur sekarang aku pernah menjadi bagian keluarga sebuah sekolah, walau hanya 6 bulan tapi itu sangat berarti sekali bagiku.


Anak-anak


September 22, 2020

Mengenal Pikun yang Tak Wajar

by , in

Sebelum menikmati film Morgan Oey yang berperan sebagai penderita Alzheimer beberapa waktu yang lalu, saya pernah menonton film Love dengan Sophan Sophian sebagai penderita Alzheimer juga. Penderita Alzheimer di film-film ini melakukan hal yang sama berulang kali dan begitu terus setiap hari. Daya ingatnya sangat lemah, walaupun sudah diingatkan berulang kali oleh orang-orang di sekitarnya. Perlu kesabaran yang luar biasa bagi orang-orang yang merawat penderita Alzheimer. Saya memang belum pernah bertemu langsung dengan orang yang mengidap penyakit satu ini, membayangkannya saja antara kasihan, sedih, sekaligus geregetan. Sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk mengetahui lebih lanjut apa itu Alzheimer melalui Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia.

Keluarga

Di Indonesia, Alzheimer biasa dikenal dengan pikun dan menganggap itu adalah hal yang wajar. Padahal penderita Alzheimer ini membutuhkan penanganan yang tepat lho. Lewat program kampanye #ObatiPikun dan pengembangan aplikasi deteksi penyakit alzheimer yaitu e-Memory Screening (EMS), PT Eisai Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) berusaha mengedukasi masyarakat bahwa pikun bukanlah sebuah proses penuaan yang normal melainkan penyakit yang harus ditangani. Alzheimer adalah salah satu bagian dari demensia yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai gejala-gejala yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari, kemampuan komunikasi, dan otak. Deteksi dini penyakit satu ini bisa dilihat melalui aplikasi  E- MEMORY SCREENING (EMS) yang tersedia di playstore. EMS bermanfaat sebagai alat edukasi bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui penyakit demensia. Di aplikasi EMS ini juga tersedia direktori/ daftar Rumah sakit yang mempunyai dokter spesialis neurologis. Semakin awal kita mengetahui penyakit ini, bisa semakin cepat ditangani, sehingga kepikunan dapat dicegah. 

Aplikasi pikun

Seseorang yang pikun itu diantaranya memiliki ciri-ciri pertama, lupa nama orang yang sering ia temui. Kedua, sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. Ketiga, sering melupakan hal yang penting dan sering tersesat bahkan di lingkungans sekitar rumahnya. Beberapa ciri-ciri tersebut berdasarkan penelitian dialami oleh lebih dari 50 juta orang Indonesia. Demensia ini termasuk salah satu ancaman bagi para lanjut usia di Indonesia lho, maka dari itu semakin banyak lansia yang terdeteksi Demensia Alzheimer lebih awal, semakin cepat juga penanganannya, sehingga harapannya mereka bisa menjalani kehidupan yang produktif. Kerusakan otak pada pengidap Demensia akan bertambah seiring penambahan usia. Penyakit Demensia memberikan dampak tidak hanya bagi penderitanya tapi juga keluarga dan lingkungan mulai dari aspek psikososial, sosial, dan beban ekonomi. Demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain. 

Demensia

Beberapa orang juga berisiko terjangkit penyakit Demensia lho, seperti pengidap hipertensi, stroke, depresi, obesitas, perokok, pengaruh obat-obatan, kurang olahraga, sampai karena keturunan. Untuk kita yang masih sehat, mulai dari sekarang harus lebih banyak mengkonsumsi makanan yang bernutrisi, rutin berolahraga, dan senantiasa mendekatkan diri pada Sang Pencipta agar kesehatan terjaga. Pengobatan yang teratur dan berkelanjutan merupakan hal utama pada pengobatan ini, karena putus obat atau pengobatan yang tidak teratur akan menyebabkan gejala semakin memburuk.

Cegah pikun

Bagi pembaca yang hidup bersama orang pengidap Demensia, tetap semangat. Memang tak semudah yang diucapkan oleh orang lain yang belum pernah sama sekali merawat pengidap demensia. Bertahanlah untuk membantu orang dengan demensia melakukan aktivitas yang mereka mampu dan sukai. Pengetahuan kali ini benar-benar membuka pikiran saya bahwa orang-orang dengan penyakit tersebut tak hanya ada di film, nggak kebayang jika saya yang mengidapnya atau merawat langsung penderita demensia.

 


August 28, 2020

Mengagumi Hutan di Indonesia dengan Bersyukur dan Tidak Merusaknya

by , in
Jika diminta memilih pergi ke hutan atau ke pantai, dulu tentu ku jawab pergi ke hutan. Hanya orang-orang terpilih yang mau bersusah-payah menerabas pepohonan dipayungi kanopi alam untuk menikmati dan menyesap dalam keindahannya. Bukan bermaksud sombong, namun saya selalu kagum dengan orang-orang terpilih yang sanggup mendaki puncak-puncak gunung di Indonesia maupun di luar negeri. Beruntung sekali jika menemukan air terjun dibalik rimbun pohon-pohon yang tinggi, dari jauh akan terdengar jelas aliran derasnya yang jatuh ke bumi seolah memberi tanda dan semangat untuk tidak menyerah teruslah masuk menyusuri jalan menuju air terjun. Saya jadi mengenang kembali masa-masa 'berburu' air terjun yang dalam bahasa sunda dikenal dengan curug bersama teman-teman kuliah. Rasanya damai sekali saat memandangi air terjun itu, walau ada juga perasaan khawatir seandainya ada batu besar yang ikut terbawa derasnya air. Sejuk dan dinginnya membekas indah dalam ingatan dan tak ragu juga untuk meminum langsung air terjun pada waktu itu.

Papandayan, 2013

Hutan menjadi sumber kebahagiaan bagi saya yang senang wisata alam, mengagumi ciptaan Sang Maha Kuasa yang tak jemu dipandang. Ternyata hutan memang bukan sekadar untuk berwisata saja, masih ada masyarakat yang melestarikan hutan agar sumber dayanya tetap terjaga. Tak hanya manusia, makhluk hidup lain pun tinggal di hutan seperti beraneka jenis burung, serangga, sampai tanaman dari yang bermanfaat untuk manusia namun ada juga jenis yang beracun. Harmonisasi alam menjadikan hutan sebagai hamparan lahan yang wajib kita lestarikan bersama. Di Bogor ada hutan pinus yang dikenal juga dengan nama Gunung Pancar, selain pemandangan hijau kita juga bisa berendam air hangat. Bahkan sekarang bisa berkemah dengan fasilitas yang sudah disediakan, jadi tak perlu bingung pinjam tenda, sleeping bag, dan peralatan lain.


Saat pelesiran ke Banyuwangi pun saya mendatangi hutan pinus yang mirip dengan Bogor, Hutan Pinus Songgon, banyak lokasi-lokasi yang dihias dengan  ragam pernak-pernik seperti lampion, payung, gapura dengan bentuk love, dan kita bisa melihat pengunjung yang rafting di sungai. Pohon pinus ternyata sangat bermanfaat dan menguntungkan bagi para pengusaha industri, dilansir dari rimbakita[dot]com hampir seluruh bagian pinus, seperti batang kayu, kulit, getah, dan daun memiliki manfaat ekonomis. Menjadi bahan baku furniture, bahan baku kertas dan alat tulis, bahan baku peti kemas sampai bahan pencampur pupuk. Kulit dan daun pohon pinus juga merupakan sumber vitamin C dan antioksidan, ekstrak daunnya juga menghasilkan senyawa pycnogenol yang merupakan salah satu bahan baku produk suplemen dan obat nyeri.

Baca: Babymoon ke Banyuwangi 

Hutan lain yang saya kunjungi adalah hutan yang ada di Papandayan, selain bau belerang yang menyengat saat pendakian. Selanjutnya kita disuguhkan pemandangan hutan mati yang berdasarkan sejarah dikutip dari datawisata[dot]com, hutan mati gunung Papandayan bermula dari letusan maha dahsyat gunung Papandayan yang telah terjadi ratusan tahun silam. Di Papandayan kita bisa melihat hamparan bunga edelweiss yang cantiknya Masya Allah. Bersyukur banget saya bisa sampai disana walau penuh perjuangan dan tak lepas dari dukungan teman-teman. 


Saya pun mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung pohon kayu putih yang ada di sepanjang jalan saat di Alor. Ini pertama kalinya saya melihat hutan kayu putih yang sedikit berdaun dan batangnya berwarna putih. Sungguh menakjubkan ciptaan Allah, beraneka macam tumbuhan, pepohonan, dan makhluk hidup ada di Indonesia. Hutan di tanah air tercinta ini masuk dalam urutan ketiga hutan terluas di dunia lho, prestasi yang tentunya patut dipertahankan agar keanekaragaman hayati hutan-hutan di negeri ini terlindungi.

Baca: Belajar dari Alor


Salah satu bentuk apresiasi untuk hutan di bumi pertiwi adalah  dengan dicetuskannya Perayaan Hari Hutan Indonesia yang sekaligus menjadi aksi bersama untuk mensyukuri manfaat hutan yang berlimpah, mulai dari pangan dan obat-obatan, akar budaya Indonesia, sampai fungsi hutan sebagai penyerap karbon serta penjaga iklim dunia. Kontribusi nyata dari kita untuk hutan-hutan di Indonesia bisa melalui adopsi hutan yaitu dengan berdonasi yang akan disalurkan untuk kegiatan pelestarian hutan, pengembangan masyarakat sekitar hutan, serta mendukung pendidikan dan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. 


Masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan tentu memiliki cara tersendiri untuk merawat dan melindunginya termasuk warga kasepuhan. Kasepuhan yang pernah saya kunjungi adalah Kasepuhan Ciptagelar, perjalanan kesana tergantung niat dari pengunjung jika ingin sampai dengan selamat katanya. Kasepuhan Ciptagelar berada di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Berlokasi di lereng bukit bagian selatan Taman Nasional Gunung Halimun dan termasuk dalam Kesatuan Adat Banten Kidul. Warga disana hidup dari hasil bumi yang ditanam, dipetik, dan dipanen sendiri. Kawasan Kasepuhan Ciptagelar tidak pernah mengalami kekeringan, air mengalir jernih dan aliran Sungai Cibeno dimanfaatkan juga sebagai sumber energi listrik menggunakan turbin. Masyarakatnya pun memasak dengan kayu bakar dan sangat menghormati nasi agar jangan sampai tidak habis saat makan apalagi terbuang sia-sia. Pengambilan kayu dan jumlah yang bisa diambil pun juga ditentukan, sehingga hutan tetap lestari karena dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan menjunjung tinggi aturan adat.


Upaya berbagai pihak untuk menjaga dan melestarikan hutan-hutan yang ada di bumi nusantara ini secara pribadi saya dukung penuh karena generasi-generasi selanjutnya harus merasakan dan tentunya merawat hutan agar tetap lestari tak lekang oleh waktu. Manfaat hutan yang saya rasakan hari ini, inginnya dirasakan juga turun-temurun agar kita selalu ingat bahwa kekayaan alam yang Tuhan berikan harus disyukuri dan dipertahankan. Mari bersama-sama kita gotong royong menjaga hutan agar keindahan hutan Indonesia tetap alami dan terlindungi. Sekarang sih saya sedang memulai menanam pohon buah-buahan di sekitar rumah, kalau kamu?

Curug Mania Goes to Leuwi Hejo


August 24, 2020

Mengenang Kepergianmu

by , in
Di masa covid ini ada beberapa pejabat disana yang wafat. Seketika aku ingat ibu, seorang kepala perpustakaan yang baiknya melebihi ibuku sendiri (?). Ah mungkin hanya beda karakter saja. Sekitar 9 tahun yang lalu, Aku meminta bagian untuk kuliah lapangan mengurus perpustakaan saja. Sebab yang diminta hanya satu orang dan kawan-kawan yang lain membantu bagian lain. Padahal tadinya aku sempat tak masuk kelompok siapapun karena tak punya geng hahaha. 


Sampai akhirnya aku diminta untuk stay di perpustakaan yang masih bergabung dengan pusdatin. Sambil skripsi, mengajar bahasa inggris, aku datang seminggu 2x seingetku. Awalnya mau menjadikan perpustakaan sebagai objek penelitian, tapi aku nggak paham lah sama jurusan kuliah kejeblos ku. Sampai akhirnya lulus karena membantu dosen pembimbing yang yah tentunya dengan skripsi yang tidak sempurna. Kemudian aku lanjut mengabdi di perpustakaan yang menggunakan outsourcing untuk membangun perpustakaan di gedung baru.


Dipanggil ibu udah biasa, dipanggil mbak yah ada juga, dalam hati terbersit juga keinginan untuk jadi mahasiswa disana. Tapi lanjut kuliah itu untuk apa sih? Jawabannya adalah untuk bisa move on dari pekerjaanku yang gitu gitu aja. Lulus kuliah pun akhirnya aku lanjut lagi kuliah dengan berbagai pertimbangan dari orang tua khususnya ibuku. Sekolah terus kapan nikahnya? Nanti gelar ketinggian nggak dapet-dapet jodoh lho. Iya kalo standarku ketinggian juga, nyatanya kan nggak. 


Kepindahan kampus ke lokasi baru dan masuknya aku menjadi mahasiswa yang melepaskan pekerjaan sebagai staf perpustakaan membuat kesehatan ibu drop dari hari ke hari. Terakhir bertemu bahkan ibu seperti tidak mengenalku, chemotherapy yang ibu jalani membuatku nggak tega dan merasa bersalah. Sampai akhirnya hari itu datang dan aku nggak bisa langsung ke pemakaman.


Bu, sekarang aku udah punya anak dan memilih di rumah aja. Terimakasih sudah meyakinkan kalo aku nih pinter, bisa bahasa inggris itu yg utama. Bisa lanjut sekolah ku rasa itu adalah hadiah terbesar dari ibu untukku. Melepaskan rasa kangen sama ibu mungkin tidak cukup lewat tulisan ini. Walau kerjaanku banyakan manfaatin internet gratis tapi ibu nggak pernah marah dan malah ikutan nonton YouTube sambil ikutan sampulin buku hahaha. Semoga Allah perkenankan kita ketemu lagi ya bu, semua orang mungkin anggap aku anak ibu dan ya ibu yang mengakui sendiri ke orang-orang kalo aku anaknya :')

Sekarang ibu udah bahagia di alam sana. Walau ku tak pernah ziarah ke makam ibu, tapi ku yakin doa ku sampai. Keyakinan ibu ke aku bikin aku percaya sama diriku sendiri dan aku sekarang dapet mertua yang baik juga bu. Ah rasanya banyak banget yang pengen diceritain (T______T)

Credit to: unsplash [dot] com


August 22, 2020

Harapan untuk Diri Sendiri

by , in
Dalam keputusan besar yang kau pilih tentunya ada doa yang senantiasa tercurah untukmu, keluarga kita, dan kehidupan kita selanjutnya.


Dalam hati sempat terbersit iri melihat ukhti lain didampingi selalu oleh suaminya karena memang begitu kan seorang imam seharusnya dan seorang istri juga menjaga hal-hal yang bisa menutup pintu surga baginya. Eh kejadian deh di pertengahan tahun ini.

Kau merumahkan diri sendiri dan berusaha menjadi ahli pada bidang desain grafis. Walau seribu ragu selalu menyerang dan membuat pikiran juga hati tak pernah tenang tapi kau selalu bersemangat terutama untuk makan hari ini.


Seorang optimis berubah menjadi sering pesimis kalo urusan uang dan kami untuk saat ini bertolak-belakang. Meja kerjamu beberapa waktu ini tak nampak lagi kopi. Ini semua demi kesehatan ya toh? Kesehatan yang juga termasuk mental.


Pada masanya nanti mungkin kita akan saling meninggalkan satu sama lain karena maut, namun sebelum itu datang mari kita berbenah sama-sama.

Mom Blogger

Kumpulan Emak Blogger

My Instagram