August 24, 2020

Mengenang Kepergianmu

by , in
Di masa covid ini ada beberapa pejabat disana yang wafat. Seketika aku ingat ibu, seorang kepala perpustakaan yang baiknya melebihi ibuku sendiri (?). Ah mungkin hanya beda karakter saja. Sekitar 9 tahun yang lalu, Aku meminta bagian untuk kuliah lapangan mengurus perpustakaan saja. Sebab yang diminta hanya satu orang dan kawan-kawan yang lain membantu bagian lain. Padahal tadinya aku sempat tak masuk kelompok siapapun karena tak punya geng hahaha. 


Sampai akhirnya aku diminta untuk stay di perpustakaan yang masih bergabung dengan pusdatin. Sambil skripsi, mengajar bahasa inggris, aku datang seminggu 2x seingetku. Awalnya mau menjadikan perpustakaan sebagai objek penelitian, tapi aku nggak paham lah sama jurusan kuliah kejeblos ku. Sampai akhirnya lulus karena membantu dosen pembimbing yang yah tentunya dengan skripsi yang tidak sempurna. Kemudian aku lanjut mengabdi di perpustakaan yang menggunakan outsourcing untuk membangun perpustakaan di gedung baru.


Dipanggil ibu udah biasa, dipanggil mbak yah ada juga, dalam hati terbersit juga keinginan untuk jadi mahasiswa disana. Tapi lanjut kuliah itu untuk apa sih? Jawabannya adalah untuk bisa move on dari pekerjaanku yang gitu gitu aja. Lulus kuliah pun akhirnya aku lanjut lagi kuliah dengan berbagai pertimbangan dari orang tua khususnya ibuku. Sekolah terus kapan nikahnya? Nanti gelar ketinggian nggak dapet-dapet jodoh lho. Iya kalo standarku ketinggian juga, nyatanya kan nggak. 


Kepindahan kampus ke lokasi baru dan masuknya aku menjadi mahasiswa yang melepaskan pekerjaan sebagai staf perpustakaan membuat kesehatan ibu drop dari hari ke hari. Terakhir bertemu bahkan ibu seperti tidak mengenalku, chemotherapy yang ibu jalani membuatku nggak tega dan merasa bersalah. Sampai akhirnya hari itu datang dan aku nggak bisa langsung ke pemakaman.


Bu, sekarang aku udah punya anak dan memilih di rumah aja. Terimakasih sudah meyakinkan kalo aku nih pinter, bisa bahasa inggris itu yg utama. Bisa lanjut sekolah ku rasa itu adalah hadiah terbesar dari ibu untukku. Melepaskan rasa kangen sama ibu mungkin tidak cukup lewat tulisan ini. Walau kerjaanku banyakan manfaatin internet gratis tapi ibu nggak pernah marah dan malah ikutan nonton YouTube sambil ikutan sampulin buku hahaha. Semoga Allah perkenankan kita ketemu lagi ya bu, semua orang mungkin anggap aku anak ibu dan ya ibu yang mengakui sendiri ke orang-orang kalo aku anaknya :')

Sekarang ibu udah bahagia di alam sana. Walau ku tak pernah ziarah ke makam ibu, tapi ku yakin doa ku sampai. Keyakinan ibu ke aku bikin aku percaya sama diriku sendiri dan aku sekarang dapet mertua yang baik juga bu. Ah rasanya banyak banget yang pengen diceritain (T______T)

Credit to: unsplash [dot] com


August 22, 2020

Harapan untuk Diri Sendiri

by , in
Dalam keputusan besar yang kau pilih tentunya ada doa yang senantiasa tercurah untukmu, keluarga kita, dan kehidupan kita selanjutnya.


Dalam hati sempat terbersit iri melihat ukhti lain didampingi selalu oleh suaminya karena memang begitu kan seorang imam seharusnya dan seorang istri juga menjaga hal-hal yang bisa menutup pintu surga baginya. Eh kejadian deh di pertengahan tahun ini.

Kau merumahkan diri sendiri dan berusaha menjadi ahli pada bidang desain grafis. Walau seribu ragu selalu menyerang dan membuat pikiran juga hati tak pernah tenang tapi kau selalu bersemangat terutama untuk makan hari ini.


Seorang optimis berubah menjadi sering pesimis kalo urusan uang dan kami untuk saat ini bertolak-belakang. Meja kerjamu beberapa waktu ini tak nampak lagi kopi. Ini semua demi kesehatan ya toh? Kesehatan yang juga termasuk mental.


Pada masanya nanti mungkin kita akan saling meninggalkan satu sama lain karena maut, namun sebelum itu datang mari kita berbenah sama-sama.
August 20, 2020

Merdeka dalam Diri

by , in
Sebenarnya kemerdekaan itu apa sih?
Merdeka dengan bebas melakukan apa saja di dunia?
Merdeka dari pikiran masing-masing?
Merdeka dari pengkhianatan dan penjajahan orang lain atas diri kita?



Ketika memori-memori baik hilang dari kepalamu. Sedetik, dua detik, dalam sekejap isi otakmu penuh dengan kepalsuan orang lain. Kau pun tak sanggup tertawa, memikirkannya saja mual. Cukup sehari isi otakmu penuh, memikirkannya hingga bergemuruh. Dalam tiap niat baik yang mungkin orang salah mengartikan, terselip deru nafas yang memenuhi rongga dadamu.

Merdeka! Pekikmu sekarang, Sang Saka Merah Putih pun berkibar dengan gagahnya. Walau kini dilanda corona, tetapi semangat perjuangan tetap membara. Berjuang untuk hidup bersih, berjuang demi keadilan, berjuang demi kebaikan. Kemerdekaan yang kita rasakan hari ini tentu sangat bermakna karena masih lebih banyak menghabiskan waktu di rumah aja, pergi ke pusat perbelanjaan masih khawatir, makan di luar masih mikir-mikir, pun demikian halnya dengan bepergian jarak jauh yang bisa jadi memunculkan klaster baru. Ah apa masih enggan kita mengelak bahwa kehidupan normal yang baru memang harus disusuri. Walau berliku-liku tapi kita tidak sendiri, seluruh dunia menyadari wabah ini.

Lantas? Apa kita hanya akan berdiam diri terus meratapi nasib karena wabah tak jua pergi? Hidup yang terus berjalan akan membawa kita pada satu tujuan yang sama. Mertua saya sih bilang "Yah dimanapun kita berada kalau ditakdirkan sakit ya bakal tumbang juga", perjuangan kita belum berakhir kawan. Merdeka seutuhnya dan kembali ke kondisi normal adalah satu dari sekian hal yang saya inginkan. Walau banyak hikmah yang bisa diambil selama pandemi ini namun tak selamanya saya mau menjadi burung dalam sangkar yang tak bisa bebas kemanapun pergi.

Mari kita senantiasa berdoa untuk keselamatan diri khususnya. Semoga negeri ini tetap bisa mempertahankan kemerdekaan dengan berbagai prestasi yang membawa harum bangsa Indonesia. Mudah-mudahan rakyatnya semakin rukun dalam keberagaman, toleransi tinggi, dan saling menghormati. Negeri kita ini indah bila kita turut menjaga dan bangga dengan beragam hal-hal positif yang ada di tanah air tercinta. Dirgahayu Indonesiaku!

*artikel ini diikut sertakan minggu tema komunitas Indonesian Content Creator*

August 05, 2020

Menikmati Film-Film di Masa COVID-19

by , in
Dari beberapa film yang saya lihat selama pandemi ini. Saya makin sadar kalo film Indonesia itu makin bagus, dari mulai alur ceritanya dan pemilihan pemeran juga pesan dalam film itu sendiri. Semuanya luar biasa. Rindu saya nonton film-film bagus dalam negeri pun terobati dan penat agak mereda. 

1. Imperfect 

Saya selalu terkesan dengan filmnya Ernest termasuk film ini yang menceritakan seorang wanita karir yang mengubah penampilannya karena tuntutan pekerjaan dan lingkungan. Segala sesuatunya pun berubah tak hanya pola makan saja. Lingkaran pertemanannya berubah, pola pikir, sampai kebiasaan berpakaian, semuanya diubah demi meraih kriteria ideal yang banyak diidamkan sebagian besar perempuan. Namun ada titik dimana apa yang wanita ini rasakan usahanya sia-sia dan tetap saja salah dimata orang lain termasuk kekasihnya. Rahasia kecil pun terungkap dari mulut sang ibu yang secara tidak langsung membuat sang anak merasa tak disayangi sejak kecil. Film yang diperankan Jessica Mila & Reza Rahardian ini bener-bener relate banget sama kehidupan sehari-hari yang selalu lakukan body shaming, mom shaming, dan bentuk bullying lainnya tak terkecuali saya.



2. A Copy of My Mind

Ending yang bikin saya sedih karena tokoh laki-laki yang diperankan Rico Jericho meninggal karena membela kekasihnya yang diperankan oleh Tara Basro. FYI, disini ada adegan ranjang. Rico Jericho adalah seroang pengetik subtitle pada cd bajakan dan Tara Basro adalah penikmat film-film itu. Pada suatu hari sang wanita protes karena subtitle dalam film yang dia beli kualitas terjemahannya jelek sehingga akhirnya dia bertemu dengan sang 'penerjemah'. Singkat cerita Tara Basro yang kerja di salon sederhana pindah ke salon yang pelanggannya menengah ke atas. Dia dikirim ke penjara untuk melayani perempuan yang terjerat kasus berat. Saat akan pulang, Tara Basro tak sanggup menahan godaan untuk mencuri koleksi film tahanan wanita tersebut. Padahal koleksi yang dia ambil adalah salah satu barang bukti kuat yang kalau sampai ke tangah yang salah berakibat fatal.


3. Rumah dan Musim Hujan

Meja makan adalah sorotan utama yang menjadi fokus film ini sejak awal namun saya baru menyadari setelah meminta suami untuk cari tau maksud film ini tuh apa. Jujur saya bingung dengan ending yang bikin bingung. Ternyata semua rahasia yang ada di film itu ya memang fokusnya ada di meja makan, saat dimana tiap-tiap jiwa yang hadir menyimpan rahasia masing-masing yang tak perlu dibicarakan saat makan. Seolah-olah ada peraturan tidak tertulis yang menyebutkan bahwa tabu membicarakan sebuah 'masalah' di meja makan. Yah maklum, baru setelah menikah saya makan di meja makan. Padahal emang nggak mudeng aja sih hahaha


4. Mooncake

Nah kalo film ini awalnya ku tonton karena ada Morgan Oey wkwkwk. Disini Morgan berperan sebagai orang yang mengidap Alzheimer karena ibu dan istrinya meninggal. Tapi sampe akhir film, saya nggak nemu penjelasan penyebab istrinya meninggal. Morgan pun bertemu dengan BCL saat menjadi joki 3 in 1 dan menyerahkan cetakan kue bulan serta meminta BCL untuk membuatkan kur itu. BCL adalah seorang janda dengan satu anak dan satu adik, segala pekerjaan dilakoninya untuk menyambung hidup. Morgan pun meninggal di akhir cerita dengan peran yang baik.



5. What They Don't Talk About When They Talk About Love

Film ini nggak terduga sama sekali sih kalo bakal ada adegan ciuman Nicholas Saputra dan Ayusitha, apalagi hubungan badan yang dilakukan Ayusitha dan pacarnya yang bertompel. Nonton film ini tuh menyesakkan dada sih karena peran mereka semua menjadi penyandang disabilitas. Nggak nyangka Nicholas bisa juga ya ganteng-ganteng berperan sebagai orang gagu. Latar belakang film ini ada di sebuah sekolah luar biasa sekaligus asrama.



6. Ghost Writer 

Literally penulis novelnya beneran kerjasama dengan penghuni rumah yang disewa oleh penulis novel dan adiknya. Sampai akhirnya sang penghuni pun tak menyetujui novelnya terbit karena ada hal-hal yang tak sesuai dengan kesepakatan. Perjanjian itu dilanggar karena isi novel tersebut ditambahkan hal-hal yang mendramatisir. FYI, saya nonton film ini karena baru tau ada keterlibatan Ernest di dalamnya hahaha dan doi update kalo Ghost Writer 2 mau tayang, jadi makin penasaran deh sebagus apa.


7. Serendipity 

Nah kalo film ini ditonton karena ratingnya bagus. Pemainnya ada Kenny Austin yang kinclong abis & Maxime. Berkisah tentang seorang anak perempuan yang terpaksa bekerja menemani om senang saat main judi supaya hoki sekaligus menebus hutang almarhum ayahnya. Ibu si gadis main gila dengan ayah pacarnya. Sampe akhirnya drop out dari sekolah karena pekerjaannya itu. Finally sih happy ending tapi nggak buat Maxime.



8. Tabula Rasa


Dari beberapa film Indonesia yang saya lihat belakangan ini, saya baru kepincut sama film Tabula Rasa yang dari awal cerita sudah mengundang kesedihan yang mendalam. Tokoh laki-laki bernama Hans yang berasal dari Papua dikirim ke Jakarta karena kemampuannya bermain bola. Beberapa waktu kemudian kakinya cidera dan tim sepak bola Hans tak bertanggung jawab akan hal itu. Hans pun mencoba bunuh diri dengan menaiki jembatan penyeberangan yang di bawahnya adalah jalur kereta rel listrik.

Pagi harinya Hans ditemukan dalam kondisi berdarah di kepala. Ibu yang menemukan Hans tergeletak ini adalah orang minang, seingetku dipanggilnya Emak. Percakapan selanjutnya di film ini banyak menggunakan bahasa minang. Ambu pun mengajak Hans pulang ke warung masakan padangnya untuk memberi dia makan gratis. Hans pun tidak mau memperoleh makanan secara cuma-cuma dan akhirnya dia mencuci piringnya sendiri.



Masih ada lagi sebenernya film-film yang ditonton karena pemerannya Rizky Nazar atau Michelle Ziudith hahaha. Tapi cukup daftar di atas aja deh yang saya rekomendasikan sebagai bukti kalo film Indonesia tuh oke lho! Patut dibanggakan.
August 01, 2020

Corona adalah Pertanda Bahwa Allah Kangen Sama Kita

by , in
Covid mengubah segala lini kehidupan duniawi manusia. Tak pandang agama, tak pandang bulu, tak pilih-pilih mau si kaya atau si miskin. Baru saja melihat tayangan YouTube Moslem Mind yang membahas 'Ketika Allah Kangen sama Kita'. Pertama adalah Allah memberikan ujian hidup pada perjalanan hidup manusia agar manusia tersebut kembali mendekatkan diri pada Allah. Kedua, Allah rindu pada hamba-hambaNya yang bertaubat. Ketiga, Allah rindu pada manusia yang tidak bisa mendapatkan apa yang mereka mau dengan mudah.


Virus corona yang tak jua pergi dari muka bumi ini, saya percaya adalah satu dari sekian banyak cara Allah menyadarkan manusia yang selama hidup memikirkan duniawi saja termasuk saya. Beragam profesi dan latar belakang terhempas virus COVID-19 yang belum beranjak dari bumi pertiwi. Segala tatanan kehidupan porak-poranda dan membentuk pola kehidupan normal yang baru. Tiap orang dihimbau untuk menghindari kerumunan, menjauh satu sama lain alias jaga jarak, sampai menerapkan pola hidup sehat yang tentu manfaatnya kembali ke diri kita masing-masing yang melakukannya.


Berbagai kebijakan disusun mulai dari pemerintah hingga rakyat jelata mengencangkan ikat pinggang. Pemutusan hubungan kerja, pemotongan upah pegawai, menutup toko-toko offline, menjual aset, mulai berdagang, dan bermacam upaya lain dioptimalkan untuk sekadar bisa menyambung hidup. Keahlian-keahlian pada bidang-bidang pekerjaan pun mulai terlihat mana yang efektif dan terus bermanfaat untuk orang lain khususnya di masa pandemi ini seperti desain grafis, web developer, digital marketing, kuliner, sampai pengrajin masker, dan hand sanitizer. Awalnya ragu-ragu menjadi yakin dan percaya bahwa rezeki datang darimana saja arahnya dan itu Allah yang jamin.


Untuk saya pribadi, masa-masa pandemi ini membuat banyak berpikir tentang perilaku orang lain yang selalu saya pikir panjang dulu alasan kira-kira kenapa orang tersebut berbuat demikian, menikmati alam yang makin bersih langitnya, dan sering-sering introspeksi diri. Sesungguhnya kita ini hidup di dunia ya hanya sementara dan hanya Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rencana demi rencana yang manusia susun bisa begitu mudah ambyar dan terhempas. Itu semua biar apa? Biar kita kembali mendekatkan sama Sang Maha Pencipta. Tak melulu hidup soal uang, karena pada akhirnya uang tak bisa mengusir corona toh?

Dari semua draft yang nangkring, postingan ini yang terpublish untuk sekadar menyemangati diri sendiri. Semangat Ven, ayo mulai lagi!




Mom Blogger

Kumpulan Emak Blogger

My Instagram