August 22, 2020

Harapan untuk Diri Sendiri

by , in
Dalam keputusan besar yang kau pilih tentunya ada doa yang senantiasa tercurah untukmu, keluarga kita, dan kehidupan kita selanjutnya.


Dalam hati sempat terbersit iri melihat ukhti lain didampingi selalu oleh suaminya karena memang begitu kan seorang imam seharusnya dan seorang istri juga menjaga hal-hal yang bisa menutup pintu surga baginya. Eh kejadian deh di pertengahan tahun ini.

Kau merumahkan diri sendiri dan berusaha menjadi ahli pada bidang desain grafis. Walau seribu ragu selalu menyerang dan membuat pikiran juga hati tak pernah tenang tapi kau selalu bersemangat terutama untuk makan hari ini.


Seorang optimis berubah menjadi sering pesimis kalo urusan uang dan kami untuk saat ini bertolak-belakang. Meja kerjamu beberapa waktu ini tak nampak lagi kopi. Ini semua demi kesehatan ya toh? Kesehatan yang juga termasuk mental.


Pada masanya nanti mungkin kita akan saling meninggalkan satu sama lain karena maut, namun sebelum itu datang mari kita berbenah sama-sama.
August 20, 2020

Merdeka dalam Diri

by , in
Sebenarnya kemerdekaan itu apa sih?
Merdeka dengan bebas melakukan apa saja di dunia?
Merdeka dari pikiran masing-masing?
Merdeka dari pengkhianatan dan penjajahan orang lain atas diri kita?



Ketika memori-memori baik hilang dari kepalamu. Sedetik, dua detik, dalam sekejap isi otakmu penuh dengan kepalsuan orang lain. Kau pun tak sanggup tertawa, memikirkannya saja mual. Cukup sehari isi otakmu penuh, memikirkannya hingga bergemuruh. Dalam tiap niat baik yang mungkin orang salah mengartikan, terselip deru nafas yang memenuhi rongga dadamu.

Merdeka! Pekikmu sekarang, Sang Saka Merah Putih pun berkibar dengan gagahnya. Walau kini dilanda corona, tetapi semangat perjuangan tetap membara. Berjuang untuk hidup bersih, berjuang demi keadilan, berjuang demi kebaikan. Kemerdekaan yang kita rasakan hari ini tentu sangat bermakna karena masih lebih banyak menghabiskan waktu di rumah aja, pergi ke pusat perbelanjaan masih khawatir, makan di luar masih mikir-mikir, pun demikian halnya dengan bepergian jarak jauh yang bisa jadi memunculkan klaster baru. Ah apa masih enggan kita mengelak bahwa kehidupan normal yang baru memang harus disusuri. Walau berliku-liku tapi kita tidak sendiri, seluruh dunia menyadari wabah ini.

Lantas? Apa kita hanya akan berdiam diri terus meratapi nasib karena wabah tak jua pergi? Hidup yang terus berjalan akan membawa kita pada satu tujuan yang sama. Mertua saya sih bilang "Yah dimanapun kita berada kalau ditakdirkan sakit ya bakal tumbang juga", perjuangan kita belum berakhir kawan. Merdeka seutuhnya dan kembali ke kondisi normal adalah satu dari sekian hal yang saya inginkan. Walau banyak hikmah yang bisa diambil selama pandemi ini namun tak selamanya saya mau menjadi burung dalam sangkar yang tak bisa bebas kemanapun pergi.

Mari kita senantiasa berdoa untuk keselamatan diri khususnya. Semoga negeri ini tetap bisa mempertahankan kemerdekaan dengan berbagai prestasi yang membawa harum bangsa Indonesia. Mudah-mudahan rakyatnya semakin rukun dalam keberagaman, toleransi tinggi, dan saling menghormati. Negeri kita ini indah bila kita turut menjaga dan bangga dengan beragam hal-hal positif yang ada di tanah air tercinta. Dirgahayu Indonesiaku!

*artikel ini diikut sertakan minggu tema komunitas Indonesian Content Creator*

August 01, 2020

Corona adalah Pertanda Bahwa Allah Kangen Sama Kita

by , in
Covid mengubah segala lini kehidupan duniawi manusia. Tak pandang agama, tak pandang bulu, tak pilih-pilih mau si kaya atau si miskin. Baru saja melihat tayangan YouTube Moslem Mind yang membahas 'Ketika Allah Kangen sama Kita'. Pertama adalah Allah memberikan ujian hidup pada perjalanan hidup manusia agar manusia tersebut kembali mendekatkan diri pada Allah. Kedua, Allah rindu pada hamba-hambaNya yang bertaubat. Ketiga, Allah rindu pada manusia yang tidak bisa mendapatkan apa yang mereka mau dengan mudah.


Virus corona yang tak jua pergi dari muka bumi ini, saya percaya adalah satu dari sekian banyak cara Allah menyadarkan manusia yang selama hidup memikirkan duniawi saja termasuk saya. Beragam profesi dan latar belakang terhempas virus COVID-19 yang belum beranjak dari bumi pertiwi. Segala tatanan kehidupan porak-poranda dan membentuk pola kehidupan normal yang baru. Tiap orang dihimbau untuk menghindari kerumunan, menjauh satu sama lain alias jaga jarak, sampai menerapkan pola hidup sehat yang tentu manfaatnya kembali ke diri kita masing-masing yang melakukannya.


Berbagai kebijakan disusun mulai dari pemerintah hingga rakyat jelata mengencangkan ikat pinggang. Pemutusan hubungan kerja, pemotongan upah pegawai, menutup toko-toko offline, menjual aset, mulai berdagang, dan bermacam upaya lain dioptimalkan untuk sekadar bisa menyambung hidup. Keahlian-keahlian pada bidang-bidang pekerjaan pun mulai terlihat mana yang efektif dan terus bermanfaat untuk orang lain khususnya di masa pandemi ini seperti desain grafis, web developer, digital marketing, kuliner, sampai pengrajin masker, dan hand sanitizer. Awalnya ragu-ragu menjadi yakin dan percaya bahwa rezeki datang darimana saja arahnya dan itu Allah yang jamin.


Untuk saya pribadi, masa-masa pandemi ini membuat banyak berpikir tentang perilaku orang lain yang selalu saya pikir panjang dulu alasan kira-kira kenapa orang tersebut berbuat demikian, menikmati alam yang makin bersih langitnya, dan sering-sering introspeksi diri. Sesungguhnya kita ini hidup di dunia ya hanya sementara dan hanya Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rencana demi rencana yang manusia susun bisa begitu mudah ambyar dan terhempas. Itu semua biar apa? Biar kita kembali mendekatkan sama Sang Maha Pencipta. Tak melulu hidup soal uang, karena pada akhirnya uang tak bisa mengusir corona toh?

Dari semua draft yang nangkring, postingan ini yang terpublish untuk sekadar menyemangati diri sendiri. Semangat Ven, ayo mulai lagi!




Mom Blogger

Kumpulan Emak Blogger

My Instagram