August 22, 2019

Peradaban berawal dari Recehan?

by , in
Orang pertama yang meminang seseorang yang payah.

Baca: Kepayahan

Pada sandaran sofa yang empuk dan menjadi singgasananya hampir tiap waktu. Dia memilih tertawa walau candaan yang terlontar itu garing, segaring kerupuk-kerupuk kesukaannya. Dia bangkit di saat-saat tertentu dan tidur saat seisi dunia telah habis dibaca.

Dengan sabar dia menjelaskan hal-hal yang asing ditelingaku yang jangkauannya suram ini. Dengan tuntas dia merapikan hal-hal yang kusut di dalam dan di luar pikiran. Dengan tegas dia menampik hal-hal yang tak sesuai dengan kami, untuk kemudian kembali saling mengingatkan dan menguatkan.

Walau lebih banyak menepi dan jauh dari hingar-bingar yang selama ini ku jalani. Memilih hidup bersamanya aku menjadi manusia yang lebih baik. Perempuan yang dimanusiakan dan tidak disepelekan walau sering lupa apa yang diceritakan, dia tak bosan mengingatkan dan mengulangi dengan sabar, sabar, dan sabar.


Maafkan istrimu ini yang sering terkantuk-kantuk saat pembicaraan kita mengarah ke hal-hal yang terlalu sangat serius sekali. Tentu kau paham bahwa aku lebih suka ini dan bukan itu. Walau judul postingan ini mungkin tidak nyambung sama sekali, tapi tak apa, toh blog ini hanya kita yang baca. Selamat terlahir kembali papah sayangku Semoga Allah SWT mentakdirkan kita sehidup sesurga, aamiin ya robbal alamiin.



August 13, 2019

Before 30 (Part 1?)

by , in
Sebenarnya usia 30 tahun itu seperti apa sih?
Jelang usia kepala 3 saya mulai membayangkan dan mencari-cari. Perempuan yang mencapai usia 30 tahun itu harus apa? Harus gimana? Kenapa harus gitu? Gimana kalau nggak ada perubahan sama sekali?

Free pukpuk

Usia yang bukan 20-an lagi. Apa masih bisa saya menjadi diri sendiri? Tidak selalu dituntut harus berwibawa, bijak, dan kalem. Itu bukan saya banget. Apalagi di dalam rumah. Saya rasa ada tahap perkembangan di masa kecil yang belum tercukupi sehingga berdampak hingga saat ini. Tidak hanya satu orang yang bilang saya ini kekanak-kanakan. Memangnya kekanak-kanakan dinilai dari apa? Nggak bisa diam kalau di dalam rumah? Main boneka di kamar? Atau masih takut tidur sendiri? Nangis kalau disakiti? Nyanyi-nyanyi sambil joget-joget? Apa itu yang disebut kekanak-kanakan? Apa itu sebuah kelemahan?


Hidup yang selalu saya bawa serius bahkan sebelum menikah, menuntut saya untuk menyelesaikan jenjang-jenjang kuliah yang tak saya inginkan sepenuhnya. Sekarang setelah menikah dan menjelang usia 30 tahun, saya harap bisa menjadi lebih baik lagi namun tetap menjadi diri sendiri. Tingkah-polah yang saya lakukan berujung pada kebahagiaan diri sendiri. Berharap tidak merugikan orang lain dan mengganggu ketertiban umum. Setidaknya saya tau cara bahagia dengan tidak menggantungkannya pada orang lain dan menghadiahi diri sendiri walau hanya dengan sebutir coklat. :)



August 01, 2019

Diantara Harapan dan Kenyataan

by , in
Orang tua jaman sekarang menyekolahkan anaknya di Sekolah Islam Terpadu supaya pendidikan agamanya mendalam katanya.

Orang tua jaman sekarang ingin anaknya soleh dan solehah tapi perilakunya sendiri tidak mencerminkan itu.

Orang tua jaman sekarang hijrah dengan cara menyebarluaskan seluas-luasnya konten-konten hijrah dengan maksud sebagai self reminder, tapi anaknya di rumah sibuk "berketuhanan" dengan handphone orang tuanya sendiri bahkan sampai berebut antara adik-kakak-adiknya yg lain.

Saat muncul film dua garis biru, bingung. Duh nanti kalau anakku nonton itu malah meniru sisi negatifnya gimana???

Saat bicara bahasa seks dengan temannya via jam yang lagi hype saat ini, orang tuanya hanya bisa mengelus dada dan menanyakan bertubi-tubi. Darimana kamu dapet kata-kata itu???

Guru dan teman-temannya di sekolah jadi sasaran empuk. Tolong bantu saya ya bu, anak saya bicara ini itu.

Kalimat-kalimat ini adalah bahan refleksi diri untuk saya, karena menjadi orang tua itu seumur hidup. Sejak jabang bayi dalam kandungan, saya sudah menjadi seorang ibu. Lantas? Apa saya bisa menjadi ibu yang soleh? Yang mendidik dengan iman sampai ke relung jiwa.

___

Catatan hati seorang ibu yang memilih freelance blogger di sela-sela waktu luangnya.

Source: Pexel

Mom Blogger

Kumpulan Emak Blogger

My Instagram