Peradaban berawal dari Recehan?

Orang pertama yang meminang seseorang yang payah.

Baca: Kepayahan

Pada sandaran sofa yang empuk dan menjadi singgasananya hampir tiap waktu. Dia memilih tertawa walau candaan yang terlontar itu garing, segaring kerupuk-kerupuk kesukaannya. Dia bangkit di saat-saat tertentu dan tidur saat seisi dunia telah habis dibaca.

Dengan sabar dia menjelaskan hal-hal yang asing ditelingaku yang jangkauannya suram ini. Dengan tuntas dia merapikan hal-hal yang kusut di dalam dan di luar pikiran. Dengan tegas dia menampik hal-hal yang tak sesuai dengan kami, untuk kemudian kembali saling mengingatkan dan menguatkan.

Walau lebih banyak menepi dan jauh dari hingar-bingar yang selama ini ku jalani. Memilih hidup bersamanya aku menjadi manusia yang lebih baik. Perempuan yang dimanusiakan dan tidak disepelekan walau sering lupa apa yang diceritakan, dia tak bosan mengingatkan dan mengulangi dengan sabar, sabar, dan sabar.


Maafkan istrimu ini yang sering terkantuk-kantuk saat pembicaraan kita mengarah ke hal-hal yang terlalu sangat serius sekali. Tentu kau paham bahwa aku lebih suka ini dan bukan itu. Walau judul postingan ini mungkin tidak nyambung sama sekali, tapi tak apa, toh blog ini hanya kita yang baca. Selamat terlahir kembali papah sayangku Semoga Allah SWT mentakdirkan kita sehidup sesurga, aamiin ya robbal alamiin.



Posting Komentar

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)

Lebih baru Lebih lama