Belajar Perlahan

Hidup mungkin tidak harus selalu terasa seperti ini.

dr. Jiemy Ardian, Sp.KJ 

---

Hari itu rasanya langit runtuh. Segala kemungkinan terburuk yang pernah terlintas dalam pikiran, benar-benar terjadi. Esok hari, ada pilihan untuk terus melanjutkan hidup atau diam. Berhenti sejenak. Menikmati sedihnya.

Pilu, semua terasa abu-abu. Waktu perlahan pergi, membawa luka yang baru. Bergulung-gulung kami dibuatnya, jatuh-bangun, dan patah. Kami rekatkan perlahan agar kuat menghadapi kenyataan. 

Satu dua tangis terpanggil. Sepuluh seratus berderet rapi dalam kotak masuknya. Dijelajahi satu per satu belum juga bertemu titik temu. Sempat menepi sejenak, tak lama terbawa arus lagi. Perjuangan ternyata sesulit ini ya. Terasa lambat tapi mungkin memang ujian kesabaran. 

Belajar mengikhlaskan, melepaskan, memasrahkan pada Sang Maha untuk ke sekian kalinya. Selalu dianggap buru-buru. Padahal hati dan pikiranku rasanya diburu waktu. 

Sering ku alihkan pikiran itu. Sering ku hibur diriku sendiri. Berkawan malam dan sepi. Memeluk kenyataan yang ku coba tuk ikhlaskan. Hati dan pikiranku bertaut pada Mu Yaa Rabb :'

Aku sehat. 

Aku menikmati hidupku. Menikmati sedihnya. Menikmati senangnya. Menikmati ujian Mu.

Tiada daya dan upaya melainkan semuanya atas kuasa Allah SWT. 





Posting Komentar

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)

Lebih baru Lebih lama