Baca Buku: Nenek Hebat dari Saga

Akhirnya timbul hasrat dalam diriku untuk mau lagi melakukan aktivitas baca buku. Aku memang termasuk orang yang sering terlambat baca buku yang sedang populer, seperti Harry Potter pada masanya dan juga Totto Chan. Ternyata merasakan suasana pedesaan Jepang berlanjut sampai aku menonton serial manga Non Non Biyori dan film Grave of The Fireflies. Film terakhir itu begitu mengharukan dan menyentuh, mungkin kalau masa penjajahan di Indonesia ada yang menuliskan dengan cantik seperti kisah-kisah masyarakat Jepang setelah Bom Hiroshima tak kalah seru juga.

Aku yang berkeinginan lagi untuk rajin baca buku, membuka lembaran-lembaran harta karun suami yang berjudul "Nenek Hebat dari Saga". Sebuah buku yang diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang oleh Kak Indah S. Pratidina. Buku ini akan membuat kita tersenyum, terenyuh, dan mungkin berpikir ulang tentang nilai-nilai kesederhanaan. Begitu sedikit ulasan yang dituliskan pada bagian belakang sampul buku.

Nenek Hebat dari Saga yang dikisahkan buku ini berlatar belakang di sebuah pedesaan dengan rumah gubuk namun memiliki pemandangan indah juga aliran arus sungai yang secara tidak langsung menjadi supermarket bahan makanan bagi Nenek dan seorang cucunya. Tentu saja cucunya tidak serta merta menerima kenyataan saat dia ternyata harus tinggal berdua saja dengan orang tua dari ibunya. Banyak kebijaksanaan dari Sang Nenek yang membentuk cucunya menjadi orang yang sukses ketika dewasa. Aku pun tertarik untuk menguraikannya disini.  

Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

Seperti halnya dalam menggunakan media sosial yang seharusnya kita memanfaatkannya dengan bijak. Satu postingan dalam media sosial bisa jadi membuat lapar orang yang melihat postingan tersebut, padahal orang yang posting merasa bahagia karena baru pertama kali menyicipi makanan itu. Selalu ada dua sisi, karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain maka kendalikanlah hati kita saat melihat segala hal. Terlebih lagi saat kita menunggu-nunggu kebahagiaan datang karena merasa sudah membahagiakan orang lain. Padahal kebahagiaan itu tidak bergantung pada orang lain, jika ingin bahagia ya tentukan saja apa yang membuat kita detik itu bahagia.

Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan. 

Saat kita berbuat baik kepada orang lain, mungkin dalam hati terbersit ingin mendapatkan balasan kebaikan pula dari orang yang sama. Padahal kebaikan-kebaikan yang kita perbuat bisa jadi merupakan tabungan kebaikan yang kelak akan Allah SWT berikan balasannya pada anak cucu kita. Jadi balasan kebaikan itu bisa saja tidak langsung dibalas oleh Allah SWT. Terlebih lagi kebaikan yang kita lakukan dalam diam seperti memindahkan duri tajam di jalan atau hal yang terlihat sederhana lainnya. 

Kemiskinan meningkatkan kreatifitas.

Dalam buku diceritakan bahwa mereka tidak memiliki penghangat ruangan. Sehingga saat musim dingin tiba, mereka menggunakan termos air panas yang diletakkan di kaki dalam selimut saat tidur. Hal ini mengingatkanku saat masa kecil dulu masih tinggal di kontrakan petak. Botol-botol bekas shampoo, kecap, minuman, dan lain-lain ku gunakan dengan riang gembira untuk bermain masak-masakan di samping rumah. Saat itu aku tak merasa hidupku miskin, walau pada kenyataannya saat dewasa aku baru mengetahui kalau ayahku kala itu hanya seorang buruh harian dan ibuku harus berhutang ke tukang sayur. Sampai-sampai adikku mempertanyakan apakah dulu aku hidup miskin atau tidak saat melihat foto-foto kami di rumah kontrakan tersebut.

Menghargai kebahagiaan orang lain walau tampak sederhana.

Cucu dari Nenek dalam buku ini akhirnya memiliki satu set krayon yang jumlahnya lebih banyak dengan warna yang lebih lengkap dibandingkan teman-teman di kelasnya. Hal itu membuatnya semangat dan rajin sekolah. Kesederhanaan kecil yang membuat orang lain bahagia ini yang berusaha aku ajarkan ke anakku. Kami yang terbiasa naik kendaraan pribadi saat keluar rumah, sudah lama tidak merasakan nikmatnya naik kendaraan umum. Masa liburan sekolah yang lalu, ku ajak anakku menemukan pengalaman baru naik kendaraan umum seperti Kereta Rel Listrik (KRL), angkot, dan bus. Pengalaman mahal ini membuat anakku banyak belajar untuk bersyukur dalam berbagai kondisi. Aku pribadi bahagia karena bisa naik kendaraan umum di jam yang nyaman tentunya sekaligus bernostalgia. Tak melulu pesan kendaraan instan lewat aplikasi online, kendaraan umum tetap bisa diandalkan.

Kehidupan memang tidak selalu mudah, tapi kesulitan itu sepaket dengan kemudahnnya

Begitulah hidup yang penuh dengan ujian seperti yang tercantum dalam Al Qur'an Surat Al-Insyirah Ayat 5-6, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Membeli tahu yang kurang layak jual karena rusak selama di perjalanan, mengharapkan sayur-mayur yang hanyut terbawa arus sungai, menunggu datangnya musim tertentu untuk bisa makan enak, bukan hal-hal yang sanggup dibayangkan untuk saat ini bila itu terjadi padaku. Cerita dalam buku ini menggambarkan bahwa kemiskinan pada saat itu ya nyata adanya. Saat anak-anak memilih membantu orang tuanya untuk bekerja dibandingkan dengan berangkat sekolah menuntut ilmu. Kisah nyata ini pernah ku jumpai juga saat melakukan penelitian di daerah Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Anak-anak terpaksa putus sekolah karena diharuskan orang tuanya untuk membantu mencari uang. Semoga hari ini sudah lain lagi ceritanya dan keadaan sudah lebih baik seiring dengan pembangunan jalur puncak dua juga perkembangan wisata di wilayah Sukamakmur. 

Tiba hari saat cucu sang nenek harus meraih impiannya melanjutkan sekolah di Hiroshima. Hidupnya  sungguh berubah karena dorongan dari Ibu yang terpaksa harus menitipkan anaknya untuk tinggal bersama sang nenek di hari saat bibinya akan pulang ke Saga naik kereta. Bersamaan dengan kenyataan pahit yang harus anak kecil itu terima, banyak pengalaman luar biasa juga kesempatan untuk menjalani hari-hari yang menyenangkan. Sang Nenek tak kuasa menahan kepergian cucunya kala itu, karena mimpinya yang begitu besar. Terlebih lagi bisa tinggal bersama lagi dengan ibunya dan bertemu setiap hari, tanpa harus menunggu liburan sekolah.

Kisah yang sederhana namun memantik kerinduan juga. Betapa seorang nenek-nenek tetap berdaya di penghujung hidupnya yang sendirian. Walau tinggal dalam gubuk tua reyot namun tak menghentikan semangat hidupnya untuk tetap berbuat baik kepada orang lain. Mungkin kalau suatu saat nanti bisa liburan atau belajar ke Jepang, bisa jadi menyenangkan rasanya menikmati suasana pedesaan disana. Makan ikan segar, menikmati suasana baru, namun harus waspada gempa juga karena letak geografisnya yang masuk dalam area Cincin Api Pasifik (begitu kata google). Kapan ya bisa kesana? :D

Sampai jumpa di baca buku berikutnya, kalau semangat bacanya masih ada hehehe

Baca Buku
Made by AI


2 Komentar

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)

  1. alhamdulillah buku-buku saya mulai dibaca, semoga tidak jadi di-decluttering ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ wokwokwok

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama