Love Letter

Lembaran-lembaran hari kita lalui bersama.
Pagi berangkat, siang pulang lagi.
Melahap suapanku satu demi satu.

Di setiap pagi kau meminta agar aku menjemputmu saat bel pulang. 
Asal kau tau, aku tak bisa menjanjikan apa-apa.
Dalam perjalanan pulang aku selalu berpikir apa usiaku akan sampai di waktu pulang menjemputmu yang menunggu penuh harap.

Bagaimana bila aku celaka di jalan?
Bagaimana bila aku jatuh di kamar mandi?
Bagaimana bila Allah SWT tak menghendaki kita bertemu lagi saat kau pulang sekolah?

Di usiamu yang sekarang juga aku berharap bisa menjadikanmu seorang kakak.
Tapi tanggung jawab memilikimu begitu besar, karena engkau adalah titipan Sang Maha Kuasa.

Mungkin itu yang menjadi alasan sampai hari ini aku belum dikaruniai anak lagi.
Menjaga baik-baik fitrahmu agak sulit karena aku pun masih harus banyak belajar.

Tiba hari dimana bibir mungilmu tak lagi menegaskan untuk menjemputmu saat pulang sekolah, seolah kau tau pasti kelak aku akan ada tanpa diminta.
Menyiapkan helm kuningmu
Menanyakan bagaimana harimu
Memastikan bahwa kau bahagia menjalani peran sebagai murid di sekolah. 

Baik-baik nak di dunia, tak tau kapan Sang Maha Pemilik Cinta kelak pasti memanggil kita pulang ke haribaan-Nya.
Aku berusaha merawatmu dengan hal-hal yang baik, semoga kelak engkau mendapatkan yang baik-baik juga.

mother
made with AI


Kian hari... usiaku makin senja
Inginnya ku pilih senja tercantik seperti lukisan Sang Maha Kuasa di langit petang sore hari.
Kelak kau akan mengerti, duniamu bukan hanya tentangku saja yang selalu ada untukmu.
Dunia lebih besar dari itu

Tak perlu susah payah kau taklukan, cukup dalam sujud sholatmu saja 
Memohon pada Sang Maha agar dunia hanya berhenti pada genggaman tanganmu, bukan di hatimu.

Tak mengapa menjadi orang biasa asal senantiasa kita rayu Sang Pencipta agar menjadi insan mulia.

2 Komentar

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)

Lebih baru Lebih lama