Pertengahan Sebelum Pengakhiran: Bagian Dua


Sekitar bulan Mei 2021, aku sempat mengkhawatirkan kondisi benteng komplek yang berisiko tinggi untuk runtuh lagi tertimpa pohon-pohon liar termasuk bambu-bambu besar. Di bulan Januari 2022, tembok itu benar runtuh dan Juli menjadi saksi saat tembok-tembok itu terkena longsor satu per satu termasuk bagian depan komplek. Nyatanya ini bukan hal yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya karena ancaman selalu ada di depan mata.

Postingan ini saya publikasikan sebagai bentuk self healing karena trauma yang kami, khususnya saya, alami begitu besar hingga hari ini. Self healing melalui postingan blog ini bukanlah yang pertama kalinya. Jika suatu hari nanti ada orang-orang yang memanfaatkan postingan self healing ini sebagai masalah atau bahan adu domba (lagi) dan meminta saya untuk menurunkan postingan, itu sudah pernah terjadi juga. Jadi postingan menyerupai kronologi ini akan tetap ada karena dibuat secara sadar oleh saya pribadi tanpa paksaan juga pengaruh apapun. Sebagai bentuk refleksi dan apresiasi diri untuk kami melangkah dengan ridho Allah SWT saya melanjutkan ini.

Awal tahun kian memburuk karena kami bergantian sakit, dan aku terkena bukan sakit biasa. Percaya atau nggak percaya itu tidak menjadi persoalan karena tidak ada yang meminta anda untuk membacanya. Di pikiran saya saat itu tidak ada lagi hari esok, maka saya harus membereskan semua yang ada di rumah hari ini. Satu per satu mulai dari bagian belakang rumah, dapur, kolong kasur, atas lemari, mungkin ini hari terakhir saya hidup dan tak ada lagi hari esok. Dari hari ke hari saya terus mencari apalagi yang bisa saya rapikan, agar ketika saya mati tak ada debu maupun cucian kotor yang tertinggal. 

Di hari-hari terakhir kami disana, pendekatan diri kepada YME pun semakin dekat dilakukan karena kami bersyukur bisa berkumpul kembali setelah Covid-19 berhari-hari yang tak jua menunjukkan hasil negatif. Saya lupa sejak tanggal berapa tak bisa tidur dengan tenang, kualitas tidur buruk, asupan makanan yang buruk, dan perubahan kebiasaan yang drastis membuat saya juga terheran-heran dengan diri saya sendiri. Terbangun jam dua pagi, saya mandi, lalu solat malam, dan mengaji. Semakin saya beribadah, semakin kuat gangguan yang datang menghampiri saya. Beberapa kali cicak mati, buntut tikus di teras rumah, wangi kemenyan, suara gamelan di tempat cucian, dan hal-hal yang tidak biasa. 

Sekali lagi saya pastikan bahwa postingan ini bukan untuk membuat anda percaya atau menerka-nerka saya berbohong atau tidak, saya salah atau tidak, saya berlebihan atau tidak. Murni ini yang saya rasakan, bukan mencari pembelaan atau penghakiman apalagi ajakan untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu yang mungkin membaca ini. Mata kepala saya pun menjadi saksi orang-orang yang lewat di depan rumah saya tanpa ada orang lain yang tau, tanpa saya foto, dan tanpa prasangka pada waktu itu.  

Datang hari dimana tubuh saya lunglai tak berdaya, hanya mulut yg masih bisa berucap tapi seluruh anggota badan lemas tak bisa bergerak. Itu terjadi mendadak, di rumah lama dan di rumah orang tua saya. Sampai akhirnya datang seseorang yg membantu kami untuk memulihkan keadaan. Wilayah disana termasuk sepi dan lokasinya paling pojok, jarang lalu lalang orang lain lewat. Kondisi saya yang semakin melemah pun tidak ada yang tau. Akhirnya orang tua saya datang kemudian saya menjalani pengobatan baik secara mental maupun spiritual.

Ini kali ketiga kesehatan mental saya ambruk, tapi yang ketiga kali ini semakin menjadi-jadi karena ada unsur sihir juga penyakit ain dan jin titisan plus buhul jiwa yang merasuk ke dalam badan saya. Hingga hari ini kami, khususnya saya masih pemulihan. Tentunya menerima segala hal yang terjadi belakangan ini tak mudah, namun perlahan kami terus bergerak melanjutkan hidup yg sangat luar biasa.

Bagi pembaca yang mungkin bertanya-tanya apakah sedang mengalami hal yang sama atau tidak, bisa ditanyakan langsung ke ahlinya. Saya hanya menguraikan sedikit apa yang saya alami belakangan ini. Insya Allah sudah bangkit dan pulih juga sudah beraktivitas normal. Satu dari sekian banyak nasihat selama saya berada di masa pemulihan adalah bahwasanya hidup dan mati kita benar-benar nyata ada di tangan allah SWT. Bilamana ada sihir yang menghampiri, melalui perantara jin dan sebagainya, bahkan jika kita sampai meninggal itu semua pun bisa terjadi atas kehendak Allah SWT. Takdir baik dan buruk yg kita alami hari ini, kemarin, esok dan seterusnya semua atas izin Allah SWT. Cerita panjang lebar yang tidak dibuat-buat pun Insya Allah tidak ditambah dan dikurangi terurai atas kehendak Allah SWT. 

Sayangi dirimu 

Peluk erat tubuhmu yg sudah berjuang hingga hari ini. Mendukung dalam tiap aktivitas, hingga sakit, lelah, namun bangkit lagi. Setelah runtuh dari feby dan fiersa menemani perjalanan resolusi saya. Jelang bulan-bulan menuju tutup tahun, Yura Yunita menemani proses penyembuhan. Ada yang bilang, jika kamu percaya ghoib, maka kamu akan terus merasa diikuti dan lain-lain. Jujur.. saya pasrahkan hidup dan mati hanya pada Sang Maha Ghoib Allah SWT. Sudah pernah mengalaminya sendiri dan untuk traumanya masih lekat membekas berjejak dan mungkin yg membaca ini bisa segera saja bertaubat. 

Apa yang kita anggap akan menjadi sebuah kebaikan untuk orang lain, bisa jadi dianggap keburukan oleh orang-orang yang tertutup mata batinnya. Mohon maaf lahir dan batin

Posting Komentar

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)

Lebih baru Lebih lama