Lorong Waktu

Weekend yang lalu pak suami mengunduh serial televisi masa lalu yaitu lorong waktu. Dengan layar kotak, kami nonton bareng di televisi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Disinari cahaya matahari bulan suci namun ditemani dengan pendamping hidup. Mungkin kalau saat pertama kali nonton film ini sudah tau kita akan bersanding hidup dengan siapa, masa depan dihadapi dengan penuh percaya diri dan tak muncul kosakata galau.

Yukepo dot com

Aneh, melihat pak haji, zidan, dan pak ustadz muncul di televisi sementara aku duduk bersama suami dan anak kami. Mungkin ini lorong waktu yang sebenarnya. Beberapa tahun yang lalu bahkan kami nggak tau bakal duduk bersama dipayungi atap yang sama. Masya Allah...


Minggu berganti bulan, tiap detik ada saja tingkah polah anak kami yang selalu dirindukan tiap orang. Tiap minggu ada saja hal yang kami kami lakukan sama-sama. Entah sekedar bercengkrama sehabis menyuci pakaian atau memperbaiki kerusakan di rumah. Datang hari gajian, lain lagi ceritanya. Terus saja berlalu seperti itu.

Lain hal dengan pertemanan. Fase demi fase kami lewati, akhirnya prioritas yang bicara. Walau aku sempat tak bisa menerima keadaan saat teman-teman mulai sulit ditemui bahkan sekedar membalas pesan pun hanya singkat saja. Yah namanya juga pesan singkat ya, mungkin sesingkat hidup ini juga panjangnya.

Lorong waktu, masa yang harus kami jalani dengan pertimbangan dan permakluman. Jangan sampai tau-tau sudah tua tanpa bermanfaat apa-apa.


0 Comments