February 27, 2019

Berbagi Ruang: Esai Kehidupan Ibu Utami

by , in
Before reading

Saat pertama kali menggenggam buku ini, saya dalam kondisi hamil. Perempuan hamil yang excited membaca buku lain. Ternyata saya nggak sanggup membaca tulisan Bu Tami saat itu, sekitar setahun yang lalu. Heran. Di kepala saya saat itu, duh buku bacaan yang berat. Esai loh ini bukan fiksi dong? Berat, berat, berat, padahal sesungguhnya itu terjadi pada berat badan saya. Akhirnya buku Bu Tami terlupakan dan baru sanggup baca setelah melahirkan.



 After reading

Perlahan-lahan saya berpindah dari ruang satu ke ruang lain. Saat dulu terasa berat, lalu saat mulai membaca lagi rasanya ringan sekali. Kalimat demi kalimat saya tuntaskan, benar memang 'tak perlu tergesa-gesa menikmatinya'. Dari dua ratusan halaman yang saya baca, rasanya wawasan bertambah. Banyak ilmu-ilmu yang baru saya tau kalau ada teorinya. Ah, teori mungkin hanyalah deskripsi yang jauh berbeda dari kenyataan bagi sebagian orang. Namun bagi saya yang suka menghafal teori, esai ini memantulkan ingatan-ingatan tersendiri. Saya jadi ingin menjadi mahasiswa bu Tami, memperhatikan beliau saat mengajar, membaca tatapan matanya, dan mendiskusikan berbagai hal sambil menyeruput teh tanpa gula seperti yang beliau uraikan dalam esainya.


Ternyata membaca esai itu asik ya! Kegiatan sehari-hari yang selalu kita lakukan bisa dikupas lebih mendalam dan dibumbui teori. Tentunya bukan sekedar teori yang hanya numpang lewat setelah saya hafalkan saat dibangku sekolah.



February 19, 2019

MPASI Pertamaku

by , in
Hari-hari menjelang Cikal memasuki masa MPASI, rasanya super excited. Terlebih lagi saya ada di lingkaran pertemanan yang berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya, kalau bisa mendekati sempurna kenapa nggak?

Tapi lambat laun saya sadar, apa yang saya rasakan sama persis saat akan membeli kebutuhan bayi pertama kami. Saya pun berpikir ulang, menimbang-nimbang, bertanya sana-sini. Bukan saya jahat karena tidak memberikan yang terbaik, tapi apa yang terbaik itu harus mahal? Harus lengkap peralatan makannya? Harus lengkap peralatan masaknya? Harus steril dan bersih banget sampai mewajibkan membeli peralatan masak double, Double jumlah dan double standard.

Alhamdulillah saya masih nginjek bumi, perasaan saya melanglang-buana ke langit tapi pikiran saya masih di bumi. Akhirnya saya beli peralatan masak sesuai kebutuhan dan memberi makan bayi saya sesuai kemampuan. Toh, masa MPASI ini hanya sampai usia 1 tahun. Saya memang khawatir anak saya stunting karena tidak diberi asupan gizi dengan maksimal, tapi saya lebih khawatir lagi kalau sudah berusaha membagi waktu untuk menyiapkan ini-itu namun harus menunjukkan wajah marah saat proses menyuap makanan ke Cikal. Ya begitulah adanya, bayi juga punya rasa bosan dan mood makannya kadang jelek jadi hanya mau cemilan seperti biskuit dan buah saja.

Bayi kami mulai makan biskuit bayi sejak 5 bulan, murni karena saya uji coba dan pengaruh keluarga terdekat.
"Kasih pisang aja, dulu si anu dikasih pisang dari 4 bulan. Kenapa sih sekarang harus start 6 bulan?"
"Kasih air putih aja, kasihan dia haus mungkin karena nangis terus"
Kemudian yang terjadi bayiku gumoh dan aku memilih diam. Walaupun di rumah aku sudah uji coba makan biskuit bayi, bukan berarti seenaknya dong? Alhamdulillah bayiku nggak apa-apa, toh aku juga malas berdebat panjang lebar apalagi orang yang pengetahuannya tidak up-to-date dan minat baca bukunya rendah.

Gemes sih sebenernya, tapi keadaan kadang menuntut kita demikian kan?
My kids my rules.
Harusnya sih paham.
Having children different from being parents.


Untuk mamah-mamah muda yang sedang galau mau ngasih makan apa untuk anaknya. Banyak-banyak lah membaca sebelum bertanya. Baca buku panduan MPASI dari Ikatan Dokter Indonesia, cari tau dokter spesialis anak yang yang menerbitkan buku tentang MPASI seperti dokter Metahanindita dan dr. Kanya yang suka berbagi pengetahuan di Instagram. Ibu nggak sendirian kok bu!

di awal MPASI saya membelikan bubur bayi yang biasa dijual di pinggir jalan, saya bawa wadah sendiri. Sampai di rumah saya tambahkan protein hewani seperti telur puyuh, udang, ayam, cumi, ikan teri, dan lain-lain. Jadi dari awal anak saya sudah makan menu lengkap 4* yang disaring. Kalau anak bosan, saya berikan bubur instant seperti SUN, Milna, dan Promina. Vitamin penambah zat besi pun saya berikan FeRRIZ drop sehari satu kali sebelum makan supaya nggak gumoh.

Saya belum percaya diri memasak bubur untuk bayi dan waktu memasak yang dibutuhkan juga jadi pertimbangan lain. Oh iya, buah-buahan saya berikan dalam bentuk utuh jadi si kecil akan menghisap atau dikenyot. Awal-awal saya pakai alat bantu food feeder kidsme yang dijual sepaket dengan teether plus mainan karet untuk mandi.


Segala hal yang berkaitan dengan MPASI ini saya buat mudah sesuai kemampuan tapi nggak asal. Saya juga mengamati perkembangan bayi yang makan bubur pinggir jalan hampir tiap hari. Alhamdulillah sehat dan mau makan, kalau lagi bosan atau hujan ya seduh bubur instan. Pernah juga beli bubur ayam yang biasa orang dewasa makan, beli sate hati ayam dan telur puyuhnya juga lalu disaring. Alhamdulillah, hari demi hari proses ini kami nikmati. Kami pun ngga langsung memberikan susu formula untuk Cikal, karena kebutuhan untuk pertumbuhannya sudah cukup.

Untuk ibu-ibu idealis yang baca ini, saya pernah kok di posisi ibu... Tapi saya cepet sadar dan tau diri juga, walaupun lebih sering di rumah pekerjaan rumah masih lebih banyak jika dibandingkan dengan 'drama' MPASI yang mungkin terlalu dibuat-buat. Santai saja, Allah memilih kita menjadi ibu karena naluri keibuan kita otomatis muncul dalam segala hal di tiap tumbuh kembang anak-anak kita.


Setelah naik tekstur menjadi nasi tim. Aku sulit menyesuaikan selera anak karena terbiasa beli bubur bayi. Bubur bayi kan rasanya enak, sementara nasi tim kalau lauknya nggak pas ya terasa hambar di lidah. Saranku pake kaldu jamur, tambahkan kecap, dan rajin masak makanan berkuah. Insya Allah anak lahap dan kalau bisa dari awal ya mpasi homemade masakan ibunya, bukan beli :)
February 13, 2019

Menjadi Ibu

by , in
Saat kau khawatir buah hatimu belum buang air besar.

Saat kau harus mengingat dengan baik kanan dan kiri payudaramu dipakai menyusui.

Saat jam tidurmu diobrak-abrik.

dan saat-saat selanjutnya yang tak pernah ada standar operasional yang pasti.

Namun, 

Sudah pasti, kita adalah Ibu terbaik untuk anak-anak yang Allah amanahkan.

Sudah pasti, kita adalah orang tua terbaik yang Allah minta untuk terus belajar.

Sudah pasti pelukan kita yang anak-anak rindukan walau tanpa sepatah kata yang diungkapkan.

Tumbuh bersama lanangku sayang, tumbuh seiring berjalannya waktu.



Satu hari yang penuh cinta. Cinta dari keluarga yang utama. Cinta dari suami dan adik satu-satunya, Sang Maha Pencipta cinta memang luar biasa, segala hal terlihat jauh dari harapan tapi ternyata hamba yang berlumur dosa ini harus lebih banyak bersabar.

Terimakasih cinta, setelah hari ini Insya Allah Sang Pencipta semakin menguatkan kasih sayang diantara kita.



February 06, 2019

Hal yang Sebaiknya Dilakukan Sebelum Punya Anak

by , in

Judul yang sangat sok tahu.
Untuk orang tua baru alias mamah muda macam aku ini, hal-hal yang dilakukan sebelum punya anak aku sadari setelah memiliki buah hati. Berdasarkan pengalaman 'cetek' beberapa bulan ini.

Pernah juga posting hal-hal yang dilakukan sebelum menikah. Mungkin berguna untuk pembaca.

Setelah punya bayi, saya sadar waktu saya dirampas paksa. Waktu untuk tidur, waktu untuk makan, waktu beribadah, waktu untuk mandi, dan waktu-waktu lain yang harus dihabiskan berdua dengan si kecil. Saat si kecil tidur, waktu utak-atik handphone seperti saat ini nikmat banget. Kalau lagi ngantuk berat ya ikut tidur juga sih. Mungkin saya aja ini sih yang belum bisa efektif mengelola waktu. Hiks

Jadi sebelum punya anak, manfaatkan waktu dengan maksimal, karena setelah ada bayi biasanya jadwal kita mengikuti jadwal si kecil.

Berlapang dada, ini hal yang masih saya pelajari. Saat anak sakit, kita yang salah. Saat anak jatuh, kita yang salah. Saat anak nangis, kita yang salah. Bukan kita sih yang sering menyalahkan diri sendiri, tapi orang lain terutama orang terdekat.

Sabar, sabar, dan sabar. Perlu banyak-banyak sabar supaya setelah punya anak nggak main pukul, main banting, main lempar, main tendang, dan main-main yang lain sehingga bisa membahayakan anak. Fyuh *usap dada*

Menghidupi anak ya memang secara harfiah begitu adanya, membuat anak kita hidup dengan pola asuh yang kita berikan. Anak hidup dari air susu ibu, kalau dikasih susu formula memangnya anak bisa seduh susu sendiri?

Merangkak, merambat, berjalan, berlari, semua tahapan yang anak lalui akan menjadi bekal sampai dia bisa berdikari.

Semua ada ada masanya, masa-masa nempel terus maunya lengket kaya prangko. Hingga akhirnya tumbuh dan nggak mau ikut orang tuanya kemana-mana. Enjoy it!

Ask: emang prangko masih ada?

Di luar sana ada saudara, sahabat, teman, tetangga yang hari demi hari mungkin mendambakan buah hati. Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!


February 02, 2019

Awal Mula

by , in
Kadang orang tua itu lupa, menakar hidup anaknya setelah menikah dengan keadaan dia saat ini.

Atau

Menakar kehidupan anaknya setelah menikah dengan kehidupan anak orang lain yang terlahir bergelimang harta.

Kadang orang tua itu lupa bahwa prioritas rumah tangga masing-masing orang pasti berbeda. Walaupun sekedar memasang kran air yang lebih baik katanya. Halah cuma gini doang nunggu begitu jawabnya.

Sering orang tua lupa bahwa dahulu kala mereka juga merangkak dari nol dan mereka menikmati susah senang bersama. Orang tuanya tak mengusik karena berada di garis kehidupan yang sama.

Lantas, mengapa hari gini segala sesuatu seolah harus langsung naik kelas. Padahal bayi kami baru belajar merangkak segaris dengan orang tuanya.

Ah, tak perlu dirisaukan. Besok kita beli pulau instagramable pun orang lain tak perlu tau.


Mom Blogger

Kumpulan Emak Blogger

My Instagram