Berbagi Ruang: Esai Kehidupan Ibu Utami

Before reading

Saat pertama kali menggenggam buku ini, saya dalam kondisi hamil. Perempuan hamil yang excited membaca buku lain. Ternyata saya nggak sanggup membaca tulisan Bu Tami saat itu, sekitar setahun yang lalu. Heran. Di kepala saya saat itu, duh buku bacaan yang berat. Esai loh ini bukan fiksi dong? Berat, berat, berat, padahal sesungguhnya itu terjadi pada berat badan saya. Akhirnya buku Bu Tami terlupakan dan baru sanggup baca setelah melahirkan.



 After reading

Perlahan-lahan saya berpindah dari ruang satu ke ruang lain. Saat dulu terasa berat, lalu saat mulai membaca lagi rasanya ringan sekali. Kalimat demi kalimat saya tuntaskan, benar memang 'tak perlu tergesa-gesa menikmatinya'. Dari dua ratusan halaman yang saya baca, rasanya wawasan bertambah. Banyak ilmu-ilmu yang baru saya tau kalau ada teorinya. Ah, teori mungkin hanyalah deskripsi yang jauh berbeda dari kenyataan bagi sebagian orang. Namun bagi saya yang suka menghafal teori, esai ini memantulkan ingatan-ingatan tersendiri. Saya jadi ingin menjadi mahasiswa bu Tami, memperhatikan beliau saat mengajar, membaca tatapan matanya, dan mendiskusikan berbagai hal sambil menyeruput teh tanpa gula seperti yang beliau uraikan dalam esainya.


Ternyata membaca esai itu asik ya! Kegiatan sehari-hari yang selalu kita lakukan bisa dikupas lebih mendalam dan dibumbui teori. Tentunya bukan sekedar teori yang hanya numpang lewat setelah saya hafalkan saat dibangku sekolah.



1 Comments

  1. Yes, sebenernya seru. Tapi gak musti dipaka. Saya suka baca essai, tapi kadang tergantung topik juga sih.

    ReplyDelete

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)