Minggu, 14 Juni 2015

Kasepuhan Cipta Gelar

jalur setelah pelabuhan ratu


Semesta mendukung perjalanan kami kesana. Perbekalan yang cukup mengiringi langkah kami. Kasepuhan Cipta Gelar yg terletak di kawasan taman nasional gunung halimun memberikan nuansa tersendiri dihati para pengunjungnya termasuk saya. Boleh dibilang jatuh cinta, demikian pesona cipta gelar membuat saya tertarik untuk kembali. Perjalanan yang kami tempuh seharian penuh sejak pagi hari dari asrama kampus dengan mengendarai empat sepeda motor. Kami berangkat dengan penuh semangat sampai akhirnya menempuh akses yg tak terduga setelah melewati kasepuhan sinar resmi. Kasepuhan cipta gelar menyambut kami hangat pukul 23.00 WIB.

di depan imah gede


Jumat, 15 Mei 2015 adalah hari pertama kami menghirup udara pagi di Cipta Gelar. Terima kasih untuk Pak Ukar dan Pak Upar yang menyambut kami dengan sangat baik semalam. Pakaian-pakaian, alas kaki, dan jas hujan kotor dicuci. Beberapa anjing terlihat berkejaran pagi itu, mereka memang tidak menggigit kami, tapi mereka menggigit dan menyembunyikan alas kaki di kolong rumah panggung. Oh iya, kami beristirahat di imah gede yang berbentuk L. rumah ini nyambung dengan rumah keluarga abah dan dapur yang selalu ngebul. Kami berkeliling melihat-lihat kegiatan masyarakat kasepuhan Cipta Gelar hari itu ditemani seorang kakek yang aku lupa namanya hahaha

pocong-pocongan


Laki-laki disana selalu mengenakan ikat kepala dan perempuannya mengenakan kain bawahan. Kami diajak mengamati kegiatan masyarakat memanen padi dan membuat pocong-pocongan dari padi yang telah menguning. Aku memilih memberi makan kambing saja. Aki pun mengajak kami ke rumah pohon untuk melihat pemandangan dari atas. Setelah itu kami melihat banyak lumbung padi yang bersebelahan dengan bilik-bilik pemandian umum, pemandangannya bagus deh! lumbung-lumbung yang bernama 'leuit' berjajar rapi dan sedap dipandang. Kami pun berkunjung ke rumah seorang warga kasepuhan cipta gelar yang membuat aksesoris gelang dan cincin dari bahan alami. Sore harinya kami mengunjungi tempat pembuatan kopi khas cipta gelar. Kopi dengan gula aren ini lebih enak dimakan gulanya saja bagi saya yang tidak terlalu cinta kopi :D
Kami menghabiskan malam di rumah Kang Yoyon yang hobi banget utak-atik alat musik, otomotif, dan barang-barang elektronik lainnya, kreatif deh!

fajar dan aki pembuat gelang


Malam ini berdatangan tamu-tamu abah yang lainnya, ada serombongan anak-anak sekolah dan tamu dari komunitas lain. Sepanjang malam kami terlelap diiringi musik dangdut. Bising memang tapi tetap saja aku nyenyaks :3
Esoknya, kami mempersiapkan diri lebih awal karena akan berhenti di pantai sekitar jalan pelabuhan ratu dan siang hari kami pun sampai di pantai Citepus. Perjalanan pulang dipilih melalui jalur utama karena khawatir si boncel tak kuat menempuh jalur alternatif.

abah dan kawan-kawan


Pelajaran hidup yang ku ambil selama disana adalah sama sekali nggak boleh membuang nasi. Masyarakat yang tinggal di wilayah kasepuhan cipta gelar sangat menghormati itu dan jika ada musibah yang datang, penyebabnya bisa berasal dari buang-buang nasi. Dari kecil memang sudah diajarkan untuk tidak membuang nasi, namun sekarang aku lebih menghargainya :)

pantai citepus



Poskan Komentar