Senin, 01 September 2014

Kampung Halaman

Saat mendekati hari raya, sebagian besar orang melakukan tradisi pulang kampung. Tradisi ini pun dilakukan oleh keluarga kami. Sebagian besar keluarga tinggal di Jombang, Jawa Timur, orang tua kamu termasuk perantau. Pulang kampung merupakan salah satu hal yang paling saya tunggu, karena Jombang adalah tempat saya lahir.

Pulang kampung kali ini terasa lain, sanak keluarga dari luar negeri memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Indonesia. Rasanya ingin segera sampai di kampung halaman. Bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar. Kampung halaman kami berada tepatnya di Kecamatan Bareng. Terdapat pasar, bank penjual pernak-pernik, dan sebagainya. Suasananya selalu ramai saat matahari terbit, namun ketika matahari naik ke atas kepala, sebagian besar toko di dalam pasar pun tutup. Kita bisa membeli sayur-mayur dan 'sego pecel' di pagi hari, namun jangan harap menemukannya sore hari di Pasar Bareng.

Jarak antara pasar dan kampung halaman, tempat kakek dan nenek kami tinggal, tidak terlalu jauh. Dengan mengendarai sepeda motor, kurang lebih tiga puluh menit perjalanan. Sepanjang jalan masih dikelilingi sawah dan rumah-rumah penduduk sederhana. Terkadang tercium aroma bakar sampah yang sangat khas dan saya menyukainya.

Sebagian besar anak-anak bersekolah tidak jauh dari kampung. Di depan gerbang kampung terdapat Sekolah Dasar Negeri yang dicat putih dan berpagar rapi. Setelah melewati jembatan, kami dapat melihat masjid terbesar di kampung yang berdekatan dengan Madrasah Tsanawiyah. Di samping kanan dan kiri masjid terdapat pematang sawah yang luas, saat senja datang, kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya.

Setelah melewati jembatan kedua, kami bisa melihat anak-anak yang sedang bermain bola, kerbau yang sedang dimandikan pemiliknya pun merupakan pemandangan khas lainnya. Toko kebutuhan sehari-hari dan warung sayur cukup dekat dari rumah si mbah. Sampai di rumah si mbah, kita akan disuguhi pemandangan sawah dengan sengkedannya yang berundak-undak.

Setiap waktu salat, 'langgar' di rumah di mbah selalu penuh oleh warga kampung yang akan salat berjamaan. Si mbah termasuk orang yang dituakan di kampung, jadi jangan heran saat hari raya, rumah si mbah selalu penuh dipadati orang-orang yang ingin sungkem. Kampung kami masih memegang erat silaturahmi, tidak pulang kampung dalam setahun, rasanya aneh dan merasa bersalah.


tulisan ini merupakan tugas membuat tulisan deskriptif
matrikulasi mata kuliah penulisan ilmiah
dengan nilai A
:p
 

 
Posting Komentar