Rabu, 02 Juli 2014

Pulau Karimun Jawa Indonesia (1)




Menjejakkan kaki di Karimun Jawa bukan suatu hal yang mudah, cepat, dan instant. Butuh kesabaran ekstra, hati-hati, dan kesehatan yang cukup untuk menikmati keindahan alamnya.

Ini adalah kesempatan pertama Saya dkk berlibur ke Karimun Jawa. Jumat, 20 Juni 2014, pulang kerja langsung meluncur ke terminal rawamangun untuk naik bus eksekutif BEJEU jurusan Rawamangun - Jepara. Dengan membayar tiket sebesar seratus delapan puluh ribu rupiah, anda sudah mendapatkan fasilitas kursi yg empuk, selimut, bantal, sambungan listrik, air panas serta kopi teh gula yg tersedia kapan saja, toilet, snack satu kali, dan makan malam.

Kondisi jalan raya saat itu sangat tidak bersahabat, molor dari jadwal kedatangan yang ditentukan mengakibatkan Kami ditinggal kapal siginjai. Perbaikan jalan dimana-mana, kepadatan kendaraan yang tak terelakkan harus Kami lalui dengan sabar. Sangat disarankan untuk naik kereta, walaupun harus lanjut lagi dari Semarang ke Jepara. Kapal Siginjai yg terjadwal berangkat pukul sembilan pagi pun memajukan jadwal menjadi pukul tujuh pagi, karena kapasitasnya sudah cukup untuk berangkat. 

Sabtu, 21 Juni 2014

Alhamdulillah Kami tiba di terminal Jepara, panas ya cuacanya. Lanjut naik taksi ke Dermaga Kartini karena Kami bertujuh. Naik becak bisa, berdua sepuluh ribu saja. Jangan mau bayar lebih loh guys.

Di Dermaga Kartini, Kami bertemu dan berkenalan dengan rombongan lain yang dari Bandung, Semarang, Kediri dll. Lengkap sudah dua puluh lima orang siap berangkat menuju Pulau Karimun Jawa. Namun, naik apa? menyebrang pulau hari ini atau besok? Kami pun terombang-ambing sebelum naik kapal hahaha

Calo dan petugas pun menghampiri Kami dan menawarkan keberangkatan, tentunya harga yang ditawarkan jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga kapal normal yg hanya lima puluh ribu. Dua ratus ribu menjadi penawaran pertama. Dua ratus ribu aja gitu belum sampai di Karimun Jawa. Sebagian dari Kami keberatan dan memilih mencoba esok hari. Namun, ada kabar hari esok tak ada Kapal Siginjai (kapal ferry), esok juga pasti berdatangan rombongan lain yg mungkin jumlahnya lebih banyak. 

Matahari mulai di atas kepala, akhirnya diputuskan untuk naik kapal kayu dengan harga seratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Terimakasih untuk salah satu Ibu dari rombongan yang sangat membantu Kami meringankan sedikit biaya kapal. Walaupun beliau sangat mengkhawatirkan anaknya yg akan kepanasan dan keselamatan yang tidak terduga, namun dengan penuh semangat dan doa, Kami kompak memutuskan berangkat sekarang.

Pesan Ibu itu hanya satu, apapun yang terjadi tetap kompak, susah senang sama-sama. Akhirnya Kami pun berangkat mengarungi samudera dan langit menjelang sore. Sunset dan bintang menemani perjalanan Kami yang tiba di Pulau Karimun Jawa lebih kurang jam sembilan malam.

karimun jawa

to be continue...

Posting Komentar