Senin, 17 Februari 2014

Tere Liye

Aku tau nama Tere Liye dari rekan kerja dua tahun yg lalu. Mengingatnya bikin kangen <3 font="">
Mbak Rani namanya, orang Kebumen yang sedang ketar-ketir menyelesaikan skripsinya di Jurusan Perpustakaan UI. Beberapa bulan bekerja, dia harus berhenti untuk melanjutkan skipsinya karena hampir mendekati batas waktu.

Melihat aku sering membuka facebook, Dia bertanya saat itu.
"Add Tere Liye dong Ven"
"Siapa Mbak Tere Liye?" 
"Penulis novel Ven, updatenya di facebook juga bagus-bagus deh Ven"
"Aku belum pernah dengar nama Tere Liye, coba ya Aku searching Mbak" :)

Di profilnya Aku lihat updatenya seperti quote. Mbak Rani pun mengambil alih facebook Ku dan asyik membaca.

"Mbak, kenapa nggak bikin facebook aja? kan enak bisa baca dimanapun Mbak mau"
"Aku nggak terlalu butuh facebook Ven"

Dalam hati terbersit "What? hari gini?"
tapi ya sudah lah itu kan hak masing-masing orang, nggak perlu dipermasalahkan.
Tahun berganti, Aku sudah nggak bertemu Mbak Rani lagi, Kami sepertinya tertukar. Dia ingin bekerja menjadi guru, dan Aku pribadi merasa tidak mantap jadi guru. Mbak Rani pun pulang ke kampung halamannya setelah lulus kuliah. Update Tere Liye pun selalu muncul di home facebook dan Aku yg membacanya. 

Aku tertarik dengan judul novelnya "Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin"
Padahal Aku sudah lama menghentikan aktifitas Ku membaca fiksi, terlalu mendayu-dayu dan membuat Ku berimajinasi berlebihan. Namun setelah membaca novel ini, hati Ku tergerak membuka lembaran novel lainnya. Adikku yang biasanya enggan dengan kegiatan membaca, sejak beberapa saat sebelum Aku punya novel ini, ikut membacanya.

Ketika berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan pun Aku dan Dia menemukan lagi novel Tere Liye yg lain. Oh ternyata ini candu...
Berjuta Rasanya dan Sepotong Hati yang baru masuk ke plastik belanjaan Kami hari itu.

Bumi, ada di genggaman Ku sejak dua hari yang lalu, dan ternyata isinya..... (bersambung)




Poskan Komentar