Sabtu, 31 Agustus 2013

Behind the Sawarna


Perjalanan ini berawal dari mimpi,
Siapa sih yg nggak tau Sawarna? Mungkin sebagian besar tau ya Sawarna itu dimana..

Kebetulan rumah kawan Saya di Rangkasbitung, perjalanan diawali dengan naik kereta api dari Stasiun Tanah Abang, karena nggak ngerti-ngerti banget tentang per-kereta-api-an terlebih dengan sistem yang sekarang jadi ya Saya mah ikut aja sama temen yg satu ini.
Dia bilang kereta yang kita mau naik sekitar jam dua siang itu nggak berhenti di tanah abang, alhasil Kami naik kereta commuter line sampe di Parung Panjang, tiket kereta api temen Saya yg bentuknya seperti ATM itu jatuh dari kantong celananya, duh ada-ada aja ya, tapi nggak masalah kok, hanya Dia nggak dapet refund lima ribu rupiah dari tiket tersebut.

Ketika mau melanjutkan perjalanan dengan kereta ekonomi non-AC ternyata ada kereta anjlok di stasiun setelah Parung Panjang. Saya sih biasa aja yah, karena Saya nggak ngerti harus gimana kalo ada kabar anjlok gitu. Temen Saya malah panik, sempet ke pinggir jalan raya & nyaris memutuskan naik omprengan tapi nggak jadi, karena temen Saya ini bilang akan lama banget dan berjam-jam. Akhirnya Saya yang memutuskan untuk sholat Ashar dulu di Mesjid terdekat dari tempat omprengan tersebut.

Selesai sholat Kami datang lagi ke stasiun untuk memastikan kapan kira-kira kereta bisa normal, namun kepastian jam tak kunjung didapat sampai akhirnya Saya ajak kawan itu untuk makan-makan lucu dulu di dekat stasiun dan Kami makan bakso! Untung baksonya enak dan kebiasaan Saya kalo lagi tertekan itu biasanya nafsu makan meningkat, pesen lagi lah mie ayam.. sampai akhirnya teman Saya dengar sayup-sayup suara dari speaker stasiun “Kereta akan segera diberangkatkan” kira-kira begitu. Mie ayam sudah terlanjur dipesan dan akhirnya teman Saya lari ke stasiun untuk memastikan sayup-sayup speaker stasiun yang barusan terdengar olehnya.

Dia kembali lagi dan bilang “Keretanya mau berangkat! Ayok lari!”
Ngok habis makan harus lari makasi deh, Saya memilih untuk jalan cepat sambil menenteng barang bawaan dan sebungkus mie ayam yang nggak jadi dimakan hehehe
Duduk lah Kami di dalam kereta  ekonomi non-AC tersebut atau yang lebih sering disebut kawan Saya “kereta ayam” karena memang banyak sekali pedagang yang lalu-lalang tidak beraturan dan gerah gitu deh huf

Alhamdulillah pas banget magrib sampai lah Kami di Stasiun Rangkasbitung lalalayeyeye
Sebetulnya ini bukan pertama kalinya Saya pergi ke rumah kawan Saya ini, tapi pengalaman kereta anjloknya baru pertama kali :)








Posting Komentar