Orang yang banyak mengutamakan kepentingan orang lain, dalam KBBI altruis dikatakan demikian. Sebuah penelitian menyebutkan pula bahwa semakin tinggi rasa syukur seseorang, maka altruismenya pun meningkat. Wow this is beyond my expectation karena rasa syukurku selalu dipertanyakan bahkan oleh pasangan. Kata altruis juga pertama kali ku dengar darinya. Saat pertama kali disebut aku langsung berpikir dan bertanya-tanya "Emang salah ya jadi orang yang rela berkorban?". Suami melanjutkan dengan sebutan pahlawan dan tentang menjadi sok pahlawan. Apa sisi altruisme ku mengganggu hidupnya?
Hidupku dianggap kurang bersyukur menurut keyakinan orang lain. Alhamdulillah aku tak lantas menjadi joker karena sikapku ini pernah disalahartikan pada masanya. Bahkan konon katanya menjadi orang baik di negeri ini membahayakan diri sendiri. Baru kali ini karakterku divalidasi dengan istilan altruis. Jiwaku memang relawan, sejak belum menikah aku senang menceburkan diri dalam hal berbau komunitas yang mungkin untuk sebagian orang buang-buang waktu dan tenaga. Padahal jadi relawan itu gratis, murni ku lakukan karena aku senang. Bonusnya ternyata hal ini termasuk hal yang baik. Bahkan untuk hal-hal bodoh yang pada akhirnya menyakiti diriku sendiri aku rela. Syukurlah tidak terjadi lagi sekarang.
Jika ditarik jauh ke belakang, altruis yang ada dalam diriku dan orang lain mungkin merupakan salah satu pintu taubat yang dibuka jalannya oleh Sang Maha Pengampun. Tak akan sanggup kita menghitung pahala-pahala yang Allah SWT berikan dan dosa-dosa yang dihapuskan melalui pribadi altruis itu. Jadi tak ada salahnya kan menjadi altruis? asal kita memahami sampai mana limit diri dan tau batasan-batasan. Terlebih lagi kebaikan yang dilakukan saat sulit. Jangan lupa mawas diri dan apresiasi diri sendiri karena berharap dari orang lain belum tentu tulus, bisa jadi akal bulus.
Dalam hitungan manusia, beberapa tahun yang lalu. Semua terasa sangat melelahkan, terlalu intimidatif, sampai menggoreskan luka yang tak kunjung sembuh. Kata maaf itu ternyata sepele untuk sebagian orang, "Untuk apa minta maaf? Nanti juga kau ulang lagi."
