Mendidik Anak dengan Mengendalikan Emosi

Dalam sharing di grup WhatsApp, ada materi yang sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa dijalani dan dipahami. Insya Allah bermanfaat :')

Mengenal Level Emosi Kita



Bunda Bidadari, begitu narasumber tersebut disapa, Bunda Savitry Indrawardhany menjelaskan bahwa ada 3 level emosi manusia:

1. Nafs lawwamah (lemah)
Contoh: kesal melihat anak yang menurut kita bandel, suka mengeluh dalam kondisi apapun, dan merasa hidupnya paling susah, serta rasa takut yang berlebihan.

2. Nafs ammarah (marah)
Contoh: solat terburu-buru karena sibuk dengan urusan dunia sehingga muncul kemarahan dan kesombongan.

3. Nafs Muthmainnah (jiwa yang tenang)
Ciri-cirinya penuh semangat, damai, dan bersyukur.

Kenalilah level emosi ini agar kita bisa lebih mudah mengendalikan emosi dan itu hanya bisa diperoleh jika kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satunya melalui cara 'bersahabat' dengan Al Qur'an.


Sanggup nggak? Dalam sepersekian detik kita mengubah sikap kita, tadinya mau marah tapi yang keluar malah tangis dan dan dalam otak berkelebat hal-hal yang terjadi kalau saat itu kita mengeluarkan amarah. Ini bukan ilmu ghoib, ini ilmu yang bisa dipelajari dan ngga bisa berhasil dalam sekali dua kali.

Sering kalau udah marah yang berkecamuk dalam otak saya tuh menyalahkan orang lain atas kondisi yang saya alami sekarang. Gampang memang menyalahkan keadaan, saran saya buru-buru ambil wudhu, minum air, atau duduk.


Emang gampang? Nggak. Otak biasanya mengarah langsung ke emosi yang meletup-letup dan hal-hal lain untuk melampiaskan amarah.

Untuk ibu-ibu yang sedang 'berjuang' di luar sana dengan atau tanpa suami, yakinlah bahwa pertolongan Allah itu pasti datang. Mendidik anak adalah tanggung jawab seorang ayah, namun jika ibu mendidik anaknya dengan sukarela maka Insya Allah surga :')


2 Comments

  1. Ya Allah, terasa sederhana merasuk di hati, tapi efeknya luar biasa.
    Saya bacanya langsung nangis.
    Betapa saya suka marahin anak, tapi marah kalau liat anak pemarah hiks

    Semoga Allah menguatkan saya jadi ibu yang bisa mengubah amarah jadi lebih baik dengan menangis.

    Kadang emang saya hampir nangis kalau kesal anak ga dengarin omongan, tapi saya tahan dan malah pertahankan juga amarah

    ReplyDelete

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)