Kamis, 24 November 2016

Jejak Langkah Pejuang Negeriku


Taman Ismail Marzuki
Pejuang Indonesia sudah tumpah darah memperjuangkan kemerdekaan dengan tujuan mempersatukan Indonesia. Sekarang sudah bersatu, jejak langkah negeri kita tergores dengan jelas pada kitab-kitab kuno yang mencatat kehebatannya. Penayangan perdana Drama Musikal Khatulistiwa pada 18 November 2016 di Teater Utama Taman Ismail Marzuki dipersembahkan untuk anak-anak bangsa Indonesia, agar mereka bangga sebagai bangsa Indonesia, mau berbakti, dan mencintai tanah air Indonesia.

Actually, two tickets
Sun Life Financial mendukung penuh terselenggaranya Drama Musikal Khatulistiwa. Dengan misi membantu nasabah mencapai kesejahteraan dan kemapanan financial, Sun Life Financial hadir sebagai jawaban kebutuhan dunia yang dinamis dan terus berkembang. Pengelolaan financial yang dilakukan oleh Sun Life tidak diperoleh dengan sekejap mata. Produk-produk dan layanan Sun Life Financial telah teruji oleh waktu sejak tahun 1995. Begitupun halnya dengan kemerdekaan Indonesia. Walaupun pada saat itu belum ada kecanggihan teknologi seperti saat ini, namun para pejuang tanah air mau bersatu-padu mengusir penjajah, mempersatukan Indonesia demi bangsa yang lebih baik.

Tiara Djosodirdjo
Perjuangan para pahlawan dikemas dengan apik oleh sang sutradara, Adjie N.A., diawali dengan lagu kebangsaan tanah air yang menggema ke seluruh ruangan teater. 
Pergi Berkemah
Jejak langkah negeriku dikisahkan melalui perjalanan seorang ayah yang mengajak anak-anaknya pergi berkemah. Pada sepanjang jalan yang dilalui, sang ayah mengawali cerita jalan raya pos yang dibangun oleh Daendels sebagai pengawasan militer Belanda dengan mengerahkan tenaga rakyat secara paksa. Pangeran Kusuma Dinata mengajak Daendels berunding hingga akhirnya rakyat Sumedang melakukan perlawanan. Untuk mengenang jasa sang pahlawan dibangun sebuah patung di jalan cadas pangeran



Perjalanan menuju tempat kemah pun dilanjutkan bercerita tentang kisah Sultan Hasanuddin yang memiliki kepribadian tak tergoyahkan sehingga sulit berdamai dengan Belanda. Penjajah memang senang datang ke negeri ini karena di tanah kita tumbuh, apa yang tidak tumbuh di tanah penjajah.


Rasa penasaran anak-anak semakin bertambah dan mereka ingin mendengar kisah tentang perjuangan perempuan yang menjadi pemimpin. Ayah pun menceritakan perjuangan Tjut Nyak Dien dan Teuku Umar serta anak perempuannya Tjut Gambang, ada juga Martha Christinan Tiahahu dari Maluku, dan Putri Lopian Sinambela dari Sumatera Utara.


Perjuangan pahlawan I ketut Djelantik dari Kerajaan Buleleng, Bali, pun dituturkan. Belanda melakukan penyerangan karena kapal-kapalnya disita karena hukum hak tawan karang yang berlaku di Bali.

Tahun 1900-an, Indonesia mulai berperang dengan buah pikiran yang disebut dengan perang intelektual. Belanda menangkap sang raja tanpa mahkota, Tjokroaminoto, karena pidatonya yang dianggap membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk melawan Belanda. Beliau memiliki tiga murid yang berperan dalam sejarah pergerakan Indonesia, yaitu Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo.  

Pers Conference
Pemuda-pemuda intelektual pun berkumpul dan melahirkan sumpah pemuda. Namun, setelah itu Jepang datang menjajah Indonesia dengan praktik romusha yang mengakibatkan ribuan nyawa hilang. Jika bukan karena generasi muda, bangsa Indonesia belum merdeka pada 1945. Soekarno didesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pemenang Hiburan ke-3 (salah ketik nama)
Belajar sejarah belum pernah menyenangkan seperti ini, perasaan haru dan merinding saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama seluruh penonton membuat ku takjub karena baru pertama kali menyaksikan teater. Pernah mempunyai keinginan untuk ambil peran dalam teater tapi nyali ku belum sejauh itu, langsung ciut dan nggak pede jika diminta tampil di atas panggung. "Nagih Mbak!", ucap adikku yang ikut menyaksikan pementasan ini. Video kompetisi aksi dari hati telah mengantarkan kami berdua melihat dan mengingat kembali bahwa sejarah panjang kemerdekaan Indonesia tidak diraih dalam sekejap mata, tak semudah membalikkan telapak tangan, aku yang mengagumi H.O.S Tjokroaminoto terus menggaungkan dalam hati kalimat penuh inspirasi dari beliau "Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat".

 

Tahun berganti, semangat pahlawan Indonesia tetap membara di hati, rasa cinta tanah air pun semakin bertambah. Drama Musikal Khatulistiwa semoga bisa menjadi pemicu pada generasi muda untuk terus memberikan yg terbaik untuk Indonesia. Terimakasih Sun Life Financial yang telah mengapresiasi video aksi dari hati saya sebagai relawan. Mari bersama-sama lanjutkan perjuangan nenek moyang bangsa Indonesia mulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita.

Apa ada yang penasaran dengan video aksi dari hati saya that unexpectedly menang!
Check on my Youtube Channel
Subscribe and like yes :*  

#lebihbaik #aksidarihati
Posting Komentar