Pendidikan di Perbatasan

Judul makalah hasil Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) ke Temajuk, Kalimantan, teman-teman program studi Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan adalah Kekerabatan dan Pendidikan Kebangsaan sebagai Bagian dari Kapabilitas Keamanan Perbatasan yang Menggunakan Prinsip Kemanunggalan.

Temajuk? Kalimantan? dimana itu??



Luasnya sekitar 700 hektar (sumber)

di Desa Temajuk sebagian besar kebutuhan sehari-hari berasal dari Teluk Melano, Malaysia, karena aksesnya lebih mudah dibandingkan dari Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Paradigma pembangunan perbatasan bukan hanya aspek pertahanan negara saja, namun aspek kesejahteraan masyarakat.Tawaran untuk pindah kewarganegaraan dari Malaysia sudah bukan hal asing lagi. Pendidikan adalah salah satu media tepat yang akurat dan efektif dalam menciptakan generasi muda yang menghasilkan pemikiran kritis, bijaksana, terbuka, dan konstruktif (Meliono, 2011). Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme warga negara, pendidikan adalah salah satu hal yang mempengaruhi pembentukan karakter. 

Saya tertarik pada fokus peranan pendidikan dalam membangun identitas kebangsaan masyarakat Desa Temajuk. Teman-teman prodi Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan ternyata mengunjungi beberapa sekolah dan mewawancara kepala sekolah. 

Ada tiga wujud institusi pendidikan dengan sistem nilainya masing-masing, menurut Engkoswara (2002):
  1. Keluarga, awal pendidikan seorang anak yang lahir dari rahim seorang ibu menentukan bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya kelak.
  2. Masyarakat, budaya dalam masyarakat di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan yang lebih luas akan mempengaruhi interaksi sosial dan membentuk ciri dari masyarakat tersebut.
  3. Sekolah, pendidikan formal yang diwajibkan oleh pemerintah. Sekolah dianggap sebagai satu-satunya institusi pendidikan yang memiliki perencanaan matang dengan rancangan anggaran dan tujuan pembelajaran yang ditentukan.

Pengetahuan umum tentang Indonesia khususnya mengenai kekayaan alam juga menjadi salah satu cara mengajarkan nilai-nilai kebangsaan pada peserta didik. Masalah infrastruktur salah satunya pasokan listrik yang hanya tersedia di malam hari menjadi kendala guru kelas dalam menyajikan film-film bertema nasionalisme pada jam pelajaran tidak dapat terlaksana. Guru kelas menyiasatinya dengan menceritakan perjuangan pahlawan Indonesia, pengenalan patok-patok perbatasan, dan kegiatan upacara bendera.

Penanaman nilai-nilai kebangsaan melalui pelajaran di sekolah diharapkan membuat peserta didik memahami nilai-nilai dan norma-norma yang dianut bangsa Indonesia, hak dan kewajiban sebagai warga negara, penghayatan nilai-nilai pancasila, dan sebagainya. Peserta didik di Desa Temajuk mempunyai keinginan belajar yang tinggi, walaupun motivasi untuk meraih prestasi  tanpa mengenal batas di wilayah perbatasan masih menjadi salah satu hambatan.

referensi:

Engkoswara. (2002). Lembaga Pendidikan sebagai Pusat Pembudayaan: Hidup harmoni di keluarga, sekolah, dan di masyarakat. Bandung: Yayasan Amal Keluarga.

Meliono, I. (2011). Understanding the Nusantara Thought and Local Wisdom as an Aspect of the Indonesian Education. TAWARIKH, International Journal for Historical Studies2(2), 2011.

Tulisan ini diambil dari makalah paparan Hasil KKDN & KKLN dengan perubahan
Posting Komentar