Jumat, 27 November 2015

Meningkatkan Ketahanan Energi dalam Menghadapi Perubahan Geopolitik dan Geostrategis Dunia

Saat Kaprodi menyampaikan undangan ini, Saya mikir... tumben mikir hahaha
Why me? kenapa mesti aku sih yang diundang? tapi demi mendengarkan keynote speaker dari Mantan Menhan, Bapak Purnomo Yusgiantoro saya hadir hohoho
Maklum, selama perkuliahan belum pernah beliau mengajar di angkatan saya.

Narasumber hari itu ada empat, dari Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan, BPPT, Ketua Komisi VII DPR, dan Deputi Bid. Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian. Semua narasumber adalah dosen Universitas Pertahanan dan pakar di bidangnya masing-masing.

Fokus saya tertuju pada Bapak Purnomo Yusgiantoro, beliau menyampaikan pokok bahasan yang menjadi fokus utama hari itu. Pertama tercantum dalam pendahuluan, point geopolitik vs geostrategi dan ketahanan energi vs ketahanan nasional. Pokok bahasan kedua tentang perkembangan energi global dengan point-point sebagai berikut:
  1. Energi vs Kelangkaan (scarcity)
  2. Energi vs Lingkungan Hidup (global environment)
  3. Energi vs politik 
  4. Energi vs Demand Side Management (DSM)
Terakhir adalah membahas berkaitan dengan Ketahanan Energi Nasional, yaitu availability (suplai-ketersediaan), accessibility (infrastruktur-sarana/prasarana), dan affordability (daya beli masyarakat).

sudah keliahatan menarik belum materinya? :D

Bapak Purnomo Yusgiantoro menyampaikan bahwa geopolitik adalah cara kita memandang lingkungan kita dalam hal ini cara pandang kita terhadap Indonesia yang biasa disebut orang dengan wawasan nusantara. Geostrategi adalah cara untuk mewujudkan geopolitik atau mencapai tujuan geopolitik tersebut. 

Jawaban dari kelangkaan energi yang dikhawatirkan oleh banyak orang adalah salah satunya dengan teknologi sebagai renewable resources sehingga tidak hanya bergantung pada satu energi saja. Dalam penelitian Tuti Haryati yang berjudul Biogas: Limbah Peternakan yang Menjadi Sumber Energi Alternatif menghasilkan kesimpulan bahwa biogas termasuk sumber renewable energy yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti energi yang berasal dari fosil. Selama ini dominan digunakan yaitu bahan bakar minyak dan gas alam. Teknologi biogas merupakan pilihan yang tepat untuk mengubah limbah organik peternakan untuk menghasilkan energi dan pupuk sehingga diperoleh keuntungan secara sosioekonomi maupun dari segi lingkungan. Biogas telah lama digunakan di negara seperti India, Cina dan negara-negara di Afrika juga Eropa dan Amerika Serikat. Potensi penggunaannya akan terus meningkat karena teknologi proses dan peralatannya masih dapat dikembangkan agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Teknologi biogas di Indonesia masih belum populer tetapi dengan upaya sosialisasi dan penelitian agar biaya konstruksi dan pengoperasian lebih murah dan sederhana akan meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakannya . (sumber)

Berbagai kendala dihadapi negara ini demi meningkatkan ketahanan energi untuk kemandirian bangsa, namun sebagai penganut aliran optimis kita harus percaya bahwa peluang-peluang yang tercetus oleh setiap orang harus diimplementasikan sehingga kekhawatiran di masa depan yang belum pasti terjadi dapat diminimalisasi. Efisiensi energi paling mudah dilakukan di rumah adalah mematikan listrik jika tidak digunakan. Yuk ciptakan budaya hemat energi mulai dari diri sendiri ;)


sumber: dewa-rahyang.blogspot.com

Posting Komentar