Cara ke Wakatobi: Coba Dengarkan Raim La Ode

Indonesia mempunyai banyak tempat-tempat hidden gems, termasuk Wakatobi. Sebelum mendengarkan podcast rekomendasi suami yang mengundang Raim La Ode, saya pikir Wakatobi itu dekat Lombok atau sekitar daerah Nusa Tenggara lainnya. Ternyata Wakatobi berlokasi di Pulau Sulawesi, lebih tepatnya di Sulawesi Tenggara.

Sebagai orang yang kadang-kadang masih menikmati musik, saya tahu betul lagu anak bangsa yang satu ini. Mas-mas senja yang lahir dari wilayah yang jauh dari ibukota tapi justru itulah yang membuat beliau berkembang secara alami dengan berbagai ide dan inspirasi yang lahir dari kota kelahirannya. Raim La Ode mengingatkan saya pada salah satu dosen di program studi Damai dan Resolusi Konflik yang cukup dikenal di kampus tempat saya pernah mengenyam pendidikan pascasarjana, Bapak dosen  M. Dahrin La Ode. Faktanya nama La adalah nama yang umum digunakan untuk laki-laki dan Ode adalah salah satu nama untuk keturunan bangsawan, begitu Raim La Ode menceritakan.

Raim La Ode

Tak hanya mendengar ceramah dari ustadz maupun ustadzah, banyak juga pelajaran hidup yang bisa saya cermati dari sosok Raim La Ode. Beberapa pelajaran itu, menarik saya untuk menuangkannya disini selain tentang Wakatobi yang diceritakan dengan begitu indah dan rasanya seperti sudah sampai disana.

Anak Wakatobi

Hal pertama yang disampaikan Raim La Ode adalah untuk membanggakan orang tua itu tidak harus pegang piala dulu, namun hanya dengan menelepon saja dan ngobrol tentang hal-hal sederhana itu sudah cukup membuat orang tua senang. Kadang kita lebih memilih mencintai orang selain orang tua kita, padahal mungkin di masa depan hubungan dengan orang asing itu bisa putus di tengah jalan. Sementara cinta orang tua akan selalu ada sebagai tempat pulang ternyaman bagi kita.

Ucapan beliau cukup menampar saya sih, karena sebelum menikah, rumah bukanlah tempat yang nyaman untuk saya pulang. Dalam proses pencarian jati diri saya di masa muda, banyak bergumul dengan pergaulan campur-baur laki-laki juga perempuan, menclok komunitas sana menclok komunitas sini, dan berbagai hal saya coba jalani. Sampai akhirnya orang tualah tempat ternyaman untuk kembali, menerima tangis dan tawa saya sehari-hari.

Percaya diri Raim La Ode

Lelah yang Raim La Ode rasakan saat melihat pencapaian orang lain sebagai tolak ukur kesuksesan hidupnya. Padahal menurutnya cukup lebih baik saja dari yang sudah ia lakukan kemarin. Maka hari-hari yang menyenangkan diperolehnya dari situ, tanpa membandingkan dirinya dengan yang lain.

Saya juga sadar betul sudah mencapai titik ini, terutama setelah berumah tangga yang seringnya melihat rumput tetangga jauh lebih hijau. Di tengah derasnya arus informasi seputar pengasuhan anak dan berbagai hal lainnya, saya pernah meratapi diri yang merasa belum menjadi ibu yang baik untuk anak saya seperti kriteria ibu yang baik yang diutarakan oleh ibu saya sendiri. Nah lho bingung nggak tuh hahaha.

Quote Raim La Ode

Selanjutnya Raim La Ode menyampaikan alasan dia jarang hadir di podcast. Menurutnya, bertahan dengan keahlian yang sama salah satu caranya adalah ketika sedang naik daun dan dikenal dimana-mana jangan aji mumpung karena itu ibarat menggali kuburan sendiri. Saat sedang terkenal, Raim La Ode justru memperkuat timnya dan upgrade segala hal yang berkaitan dengan karyanya. Tidak langsung menerima undangan untuk podcast disana-sini.

Raim La Ode Wakatobi

Ketidaknyamanan yang Raim La Ode rasakan saat menjadi seorang komika pun membuatnya terbiasa dengan hal itu. Justru rasa ketidaknyamanan itu yang membuatnya berkarya. Berdamai dengan ketidaknyamanan sampai akhirnya dia merasakan kenyamanannya sebagai penyanyi yang dihargai. Dengan begitu, dia menjadi lebih menghargai hidup. Raim La Ode sang penulis ulung, begitu dia menyebut dirinya sendiri karena menurutnya menulis adalah keahlian yang tidak akan tergerus perkembangan zaman. 

stand up comedy

Problem mental illness yang saya alami pun tanpa disadari membawa saya ke titik nyaman yang sekarang. Suami saya yang mengingatkan tentang hal ini. Saya yang dari kecil mendapat perlakuan yang kurang nyaman, tumbuh besar dengan passion menulis yang mungkin diidamkan banyak orang. Alhamdulillah mimpi-mimpi yang tak terlalu menggebu-gebu saya kejar, dipertemukan sendiri jalannya oleh Sang Maha Kuasa. Terimakasih Raim La Ode, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari perjalanan hidup beliau.

Bagi pembaca, mungkin terbersit keresahan ya di hatinya. Lho kok masih mendengarkan musik? bukannya musik itu haram??

Dalam sudut pandang saya yang awam dan masih terus belajar ini saya hanya bisa bercerita sedikit. Saya lahir dengan alunan musik dangdut terbaik zaman dulu seperti Rhoma Irama, Camelia Malik, Evi Tamala, Rita Sugiarto, siapapun itu sebutlah, yang sampai hari ini terngiang di kepala saya. Seiring berjalannya waktu saya berkenalan dengan musik-musik nasyid dan qosidah seperti Nasida Ria, Raihan, dan Snada. Bergetar hati saat mendengar Peristiwa Subuh dan judul lainnya. Tiba di kehidupan setelah menikah dengan lingkungan yang berbeda drastis, dalam pikiran saya timbul satu pertanyaan "Bukankah penyanyi itu keahliannya juga berasal dari Allah SWT?"

Sampai akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri. Allah SWT tidak menciptakan sesuatu kejadian dan penciptaan makhluk itu secara kebetulan. Semua ada tujuannya, ada yang lahir langsung mengatakan musik itu haram, ada yang lahir seperti saya dari lantunan syair menjadi dekat dengan Allah SWT melalui Al Qur'an. Mohon maaf kalimat-kalimat ini tidak bermaksud riya atau sombong, karena sejatinya Allah SWT sangat memuliakan wanita (Begitu ustad Oemar Mita menyampaikan).

Apa kita bisa pilih terlahir dari rahim siapa? Atau kita yg terlahir bersamaan dengan musik dangdut tak bisa memberi manfaat besar untuk umat?

Semua asalkan sesuai porsinya, tidak mengambil hal yang negatif seperti terlalu fanatik dengan penyanyinya sampai mengelu-elukannya, harus datang konser, wajib beli merchandise, joget campur baur dengan laki-laki juga perempuan, menyerang orang lain yang tidak suka dengan idolanya, begitu pesan suami saya. Naudzubillahiminzalik.

Bagi pembaca yang mampir kesini, semoga tidak menimbulkan keresahan ya apalagi sampai perpecahan. Harapannya tercerahkan!

Kalau memiliki keyakinan yg berbeda, janganlah terlalu ekstrim. Sebab tidak semua orang mempunyai privilege keilmuan yang sama.

Wallahu'alam




4 Komentar

thank you for stopping by dear, your comment will create happiness :)

  1. raim laode memang ajaib sih, makin digali, makin dalem insight yang bisa diambil sebagai hikmah kehidupan 😊👍

    BalasHapus
  2. ini tuh nyata banget gak sih? enggak semua orang menganggap rumahnya sendiri adalah rumah. makanya ada film Indonesia yang dibintangi Prilly, judulnya: Kukira Kau Rumah Makan Padang.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama