September 29, 2020

Mendidik Anak, Masa Kini dan Masa Lalu

by , in

 Aku ingat betul masa-masa itu, masa luntang-lantung belum mendapat pekerjaan setelah wisuda pascasarjana. Aku belum memiliki niat yang kuat untuk menjadi dosen, aku juga tidak ada rencana untuk lanjut doktor, penelitian bukan passion ku. Ya, benar adanya aku suka menulis, tapi bukan tulisan ilmiah yang bikin aku susah tidur dan gampang makan. Saat skripsi dan tesis berat badanku selalu naik, bingkai wajah saat foto wisuda tentu saja membengkak dengan pipi yang tumpah juga double chin.


Saat itu aku enggan melamar kerja ke ibukota, kota ini membuatku nyaman hingga rasanya enggan beranjak keluar dari zona nyaman. Sampai akhirnya staf di kampus berbaik hati menyodorkan lamaran pekerjaanku pada bidang-bidang yang membutuhkan. Aku pun menyibukkan diri dengan membentuk lembaga baru bernama Indonesian Youth on Disaster Risk Reduction (IYDRR). Tenaga dan pikiran dengan penuh semangat ku tuangkan disana. Sampai akhirnya aku "menyerahkan diri" mengabdi sebagai guru playgroup di sekolah dekat rumah. 


Tak pernah ku bayangkan sebelumnya kalau aku akan menjadi guru "kecil". Dari mulai guru sampai kepala sekolah keheranan dengan kehadiranku, anak es dua kok mau ya jadi guru playgroup? 


Jujur saat itu aku dalam tekanan, di satu sisi aku sangat ingin terus membersamai IYDRR namun terhalang restu orang tua yang selalu menanyakan walau secara tidak langsung mau sampai kapan aku 'seliweran' tak ada kepastian begitu. Di sela-sela mengajar pun aku curi-curi kesempatan untuk menghadiri undangan blogger, bahkan sampai juara untuk musikal khatulistiwa walau bukan yang pertama tapi aku bangga dengan pencapaianku pada saat itu. 


Aku tidak pernah menyesal membersamai anak-anakku yang lucu dan menggemaskan. Kebahagiaan melihat wajah mereka tak bisa dibayar dengan uang. Beberapa hari setelah mengajar pun aku rindu sama mereka, mungkinkah anak-anak itu masih ingat aku? Yang jelas mereka menanyakan aku kemana dan kenapa tak bersama mereka lagi. 


Sekarang aku mendidik anak kami, tak cukup hanya 2 jam membersamainya untuk bermain seperti saat di playgroup. Bisa lupa masak, lupa makan, dan lupa tidur, karena di usia bermainnya dia senang sekali bermain denganku dan menirukan apapun yang kami perbuat mulai dari memasak, berbicara, sampai mencuci sesuatu. Jika jam 10 dulu murid-muridku pulang, saat ini masak disambi bermain plus mengajak ngobrol. Sungguh, kesabaran yang ku pelajari di playgroup seringnya lose control karena anak kami yang begitu aktif dan cerdas. Bersyukur sekarang aku pernah menjadi bagian keluarga sebuah sekolah, walau hanya 6 bulan tapi itu sangat berarti sekali bagiku.


Anak-anak


September 22, 2020

Mengenal Pikun yang Tak Wajar

by , in

Sebelum menikmati film Morgan Oey yang berperan sebagai penderita Alzheimer beberapa waktu yang lalu, saya pernah menonton film Love dengan Sophan Sophian sebagai penderita Alzheimer juga. Penderita Alzheimer di film-film ini melakukan hal yang sama berulang kali dan begitu terus setiap hari. Daya ingatnya sangat lemah, walaupun sudah diingatkan berulang kali oleh orang-orang di sekitarnya. Perlu kesabaran yang luar biasa bagi orang-orang yang merawat penderita Alzheimer. Saya memang belum pernah bertemu langsung dengan orang yang mengidap penyakit satu ini, membayangkannya saja antara kasihan, sedih, sekaligus geregetan. Sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk mengetahui lebih lanjut apa itu Alzheimer melalui Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia.

Keluarga

Di Indonesia, Alzheimer biasa dikenal dengan pikun dan menganggap itu adalah hal yang wajar. Padahal penderita Alzheimer ini membutuhkan penanganan yang tepat lho. Lewat program kampanye #ObatiPikun dan pengembangan aplikasi deteksi penyakit alzheimer yaitu e-Memory Screening (EMS), PT Eisai Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) berusaha mengedukasi masyarakat bahwa pikun bukanlah sebuah proses penuaan yang normal melainkan penyakit yang harus ditangani. Alzheimer adalah salah satu bagian dari demensia yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai gejala-gejala yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari, kemampuan komunikasi, dan otak. Deteksi dini penyakit satu ini bisa dilihat melalui aplikasi  E- MEMORY SCREENING (EMS) yang tersedia di playstore. EMS bermanfaat sebagai alat edukasi bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui penyakit demensia. Di aplikasi EMS ini juga tersedia direktori/ daftar Rumah sakit yang mempunyai dokter spesialis neurologis. Semakin awal kita mengetahui penyakit ini, bisa semakin cepat ditangani, sehingga kepikunan dapat dicegah. 

Aplikasi pikun

Seseorang yang pikun itu diantaranya memiliki ciri-ciri pertama, lupa nama orang yang sering ia temui. Kedua, sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. Ketiga, sering melupakan hal yang penting dan sering tersesat bahkan di lingkungans sekitar rumahnya. Beberapa ciri-ciri tersebut berdasarkan penelitian dialami oleh lebih dari 50 juta orang Indonesia. Demensia ini termasuk salah satu ancaman bagi para lanjut usia di Indonesia lho, maka dari itu semakin banyak lansia yang terdeteksi Demensia Alzheimer lebih awal, semakin cepat juga penanganannya, sehingga harapannya mereka bisa menjalani kehidupan yang produktif. Kerusakan otak pada pengidap Demensia akan bertambah seiring penambahan usia. Penyakit Demensia memberikan dampak tidak hanya bagi penderitanya tapi juga keluarga dan lingkungan mulai dari aspek psikososial, sosial, dan beban ekonomi. Demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain. 

Demensia

Beberapa orang juga berisiko terjangkit penyakit Demensia lho, seperti pengidap hipertensi, stroke, depresi, obesitas, perokok, pengaruh obat-obatan, kurang olahraga, sampai karena keturunan. Untuk kita yang masih sehat, mulai dari sekarang harus lebih banyak mengkonsumsi makanan yang bernutrisi, rutin berolahraga, dan senantiasa mendekatkan diri pada Sang Pencipta agar kesehatan terjaga. Pengobatan yang teratur dan berkelanjutan merupakan hal utama pada pengobatan ini, karena putus obat atau pengobatan yang tidak teratur akan menyebabkan gejala semakin memburuk.

Cegah pikun

Bagi pembaca yang hidup bersama orang pengidap Demensia, tetap semangat. Memang tak semudah yang diucapkan oleh orang lain yang belum pernah sama sekali merawat pengidap demensia. Bertahanlah untuk membantu orang dengan demensia melakukan aktivitas yang mereka mampu dan sukai. Pengetahuan kali ini benar-benar membuka pikiran saya bahwa orang-orang dengan penyakit tersebut tak hanya ada di film, nggak kebayang jika saya yang mengidapnya atau merawat langsung penderita demensia.

 


Mom Blogger

Kumpulan Emak Blogger

My Instagram