Living in Harmony with Risk: Kunjungan Blogger ke Kawasan Reklamasi Tambang Indocement

Pabrik semen bukan hal asing bagi saya yang tumbuh dan berkembang di kawasan industri dua pabrik semen serta pabrik-pabrik lainnya yang menjamur, khususnya di Kecamatan Citeureup. Hujan debu yang menempel pada pakaian-pakaian yang sedang dijemur, debu-debu yang bertebaran saat berangkat dan pulang sekolah, bekas ban truk-truk pengangkut yang bikin kotor jalanan aspal, pernah saya rasakan. Pendidikan terbaik yang diberikan sebagai bentuk kepedulian dan komitmen perusahaan terhadap masyarakat sekitar, di bangku SD dan SMP, saya jalani dengan penuh semangat.

Rabu, 22 November 2017, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) mengundang teman-teman blogger untuk mengunjungi Kompleks Pabrik Citeureup. Lima orang Blogger Bogor berkumpul di titik temu yang sudah ditentukan, tidak jauh dari Gerbang Tol Citeureup. Kami pun sempat sarapan nasi kuning dulu :D 



Rombongan Blogger dari titik temu Wisma Indocement, Jakarta, akhirnya mendarat dan kami bergegas naik bus. Sampai di Gedung serbaguna area guest house, kami disambut oleh Bapak Pigo Pramusakti selaku Corporate Public & Communication Manager. Pak Pigo memberikan gambaran tentang kunjungan yang akan dilakukan di Kompleks Pabrik Citeureup. Kami akan berkunjung ke tempat-tempat binaan langsung CSR (Corporate Social Responsibility) Indocement yang memiliki banyak program nyata serta berkesinambungan. Kami mendapat safety pause dari Mbak Novi sebelum kegiatan berlanjut.  

CSR identik dengan aliran dana, padahal CSR tidak melulu soal “bagi-bagi” uang, tidak hanya filantropis. Berbagai bentuk program diselenggarakan Indocement, seperti:
1.   Sunatan massal
2.   Puskesmas keliling
3.   Bantuan beasiswa
4.   Pembagian sapi kurban saat hari raya
5.   Sekolah Magang Indocement
6.   Koperasi di Kampung kaleng untuk para pengrajin kaleng
7. Hingga konservasi alam dan pemberdayaan melalui pendidikan yang diberikan ke sekolah-sekolah dengan menumbuhkan kesadaran lingkungan pada peserta didik, mulai dari menanam pohon, membuat biopori, dan mengolah sampah.

Pak Adit Purnawarman, CSR Citeureup Department Head pun menyampaikan lebih lanjut program CSR Indocement yang mengacu pada lima pilar, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan. Saat ini, Indocement bermitra dengan 12 desa yang berada di sekitar area operasional pabrik. Setiap kegiataan industri pasti menghasilkan polusi, namun Indocement berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun lingkungan. Setiap pabrik semen memang menghasilkan polutan, namun kecanggihan teknologi dapat  meredam polusi suara/getaran, debu, dan emisi. Teknologi yang digunakan oleh perusahaan sanggup menangkap debu-debu yang terbang, sehingga emisi debu hampir nol. Bahan bakar alternatif pun dimanfaatkan oleh Indocement, salah satunya merupakan hasil dari pengolahan sampah. Indocement telah melakukan efisiensi yang cukup baik dalam pengelolaan perusahaan namun komitmen pada program-program CSR terus berjalan dan tidak berkurang.

Setelah mengenakan safety vest, Bapak Jafar Arifiyanto dari General Service Department memandu kami menuju ke lokasi pertama. Area yang dituju berlokasi jauh dari jalan raya, masuk ke dalam kawasan pabrik, Pak Jafar menunjukkan beragam gedung dan fasililtas yang dimiliki oleh perusahaan. Pabrik tertua Indocement yaitu Plant 1 dan Plant 2 pun kami lewati, di sisi kanan dan kiri jalanan ditanami berbagai jenis pohon untuk penghijauan, tersedia juga tempat ibadah umat muslim ‘Masjid As-salam’, kompleks perkantoran, poliklinik yang dimanfaatkan juga oleh warga sekitar dengan delapan dokter tetap.

Indocement juga membangun jalan umum untuk memudahkan warga bepergian dari tempat tinggalnya yang berada tak jauh dari kawasan pabrik. Training center pun dimiliki oleh Indocement, salah satunya untuk kegiatan pelatihan keselamatan kerja. Stasiun Nambo juga berada di dekat kawasan Indocement, selain digunakan sebagai transportasi umum yang mengangkut penumpang, kereta api juga dimanfaatkan untuk mendistribusikan semen sehingga lebih tepat waktu dan efisien. Perusahaan juga memiliki fasilitas bio-drying sebagai tempat percontohan pengolahan sampah mandiri dari pabrik maupun dari masyarakat. Indocement menerapkan zero waste, sampah-sampah yang telah diolah menjadi bahan bakar alternatif. Ada pula bengkel motor dan workshop kerajinan yang merupakan mitra Indocement.  

Melewati gerbang kawasan tambang, kami disambut pohon-pohon jati yang berjejer rapi, sekawanan kupu-kupu, dan capung yang terbang bebas di lokasi pertambangan. Kupu-kupu adalah makhluk rentan, komitmen Indocement terhadap lingkungan membuat mereka bisa bertahan hidup di kawasan reklamasi tambang yang berlokasi di Quarry D. Area ini juga dapat digunakan untuk penelitian oleh siswa sekolah menengah, dosen, dan mahasiswa.

Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki *elus-elus perut* :))

Pak Endang, Pak Dadang, dan bapak-bapak petani yang lain mengawal kami melihat-lihat kebun hasil binaan Indocement melalui program GTM (Gerakan Tani Mandiri). Untuk mengurangi jumlah pengangguran warga desa Leuwikaret dan meminimalisasi penambangan illegal oleh warga sekitar, Indocement membentuk kelompok tani. Pengelola kebun mengajak kami melihat kebun buncis, jalur yang dilalui menurun, gampang murudul’, lembek-lembek tapi subur gitu. Terdapat pula tanaman rempah-rempah seperti sereh, cabai, pohon pisang, pohon pepaya, daun katuk, dan berbagai tanaman yang cocok dengan kondisi tanah bekas tambang.

Dok. Indocement

Kunjungan berlanjut ke lokasi kedua, Mata air Cikukulu yang masih berada di Kawasan
Quarry D. Mata air ini dipompa dan disalurkan ke desa-desa binaan indocement. Dulu, saat musim kemarau, Indocement membantu kebutuhan air warga dengan truk tangki. Sekarang airan mata air Cikukulu mampu mencukupi kebutuhan 350 Kepala Keluarga yang dimanfaatkan untuk MCK. Airnya persis di Leuwi hejo, pantulan matahari yang terik siang itu pantulkan rona hijau yang sedap dipandang. 
Kunjungan pun sampai di lokasi terakhir yaitu Tegal Panjang. Indocement memanfaatkan kebun ini untuk tempat budidaya beranekaragam tanaman. Kami disambut barisan pohon jarak yang ditanami sudah sejak 2007. Kayak lagi dimana gitu pas ambil foto diantara pepohonan ini, karena diatur sedemikian rupa sehingga tertata rapi.

Pak Hilman, pengelola kebun, menjelaskan jenis-jenis tanaman yang dikembangkan di kebun Tegal Panjang. Perawatan, pengaturan tanah sebagai media tanam, dan pengaturan jarak saat penanaman pun beliau ceritakan secara singkat.

Lokasi ini juga memiliki kebun koleksi, salah satunya pohon teureup. Teureup yang dikenal sebagai nama daerah Citeureup ternyata ada pohonnya juga! Selanjutnya menuju kebun pohon cinta, pohon yang biasa menjadi hiasan di depan pelaminan, sepanjang perjalanan kami ‘dipayungi’ oleh tanaman markisa yang merambat dan sudah berbuah. Ada juga tanaman hias seperti palem kuning dan hanjuang yang sudah memiliki penampung rutin setiap bulannya.

Penanaman pohon cinta diatur dengan jarak tanam 20 cm, ternyata ada kriteria khusus dari konsumen yang menginginkan lebar daun yang pas. Jika jaraknya diperlebar, bisa jadi pohon yang meneduhkan sampai 3 meter dan bisa untuk bibit indukan dengan persilangan bonggol. Sapi dan kerbau tidak menyukai pohon cinta karena pahit sehingga penanaman pohon cinta di kebun ini aman tidak khawatir dimakan. Satu ikat ada yang 10 ribu, 15 ribu, dan 20 ribu tergantung lebar daunnya. Hama hanya di awal saja, yaitu siput alias bekicot. Selain itu faktor cuaca perlu diperhatikan, jika memasuki musim kemarau harus disiram rutin pagi dan sore. Perbaikan sistem pengairan pun dilakukan. Sebulan sekali, tanaman diberi pupuk urea bergantian dengan pupuk kandang. Di GTM, pohon cinta cocok juga untuk dibudidayakan namun karena GTM membutuhkan perputaran uang yang lebih cepat maka pohon cinta tidak ditanam di sana. Pohon cinta baru setelah enam bulan bisa dipanen. Pohon cinta dapat bertahan hingga 3 minggu jika ujung batangnya rutin disiram air.


Dok. Pribadi

Perjalanan setengah hari berakhir dengan makan siang yang nikmat; ikan asin dan kerupuk kulitnya menggugah selera banget. Saat kembali ke gedung serbaguna
guest house, kami mendengar sirine dan suara ledakan di kawasan tambang. Saya teringat masa orientasi sekolah di basecamp sekitar empat belas tahun yang lalu, 2003. Bernaung di bawah Yayasan Indocement Tunggal Prakarsa, SMP Puspanegara menjadi sekolah favorit bahkan sampai hari ini. Kualitas guru dan hasil lulusannya tak perlu diragukan, Bu Pisma, Pak Sardi, Bu Endang, Bu Sri Lestari, Bu Wahyu, Pak Agung, Pak Dadang, dan segenap guru yang berjasa hingga hari ini. Terima kasih Indocement atas komitmen dan kepedulian terhadap masyarakat dalam hal apa pun. Dinamika yang terjadi dalam manajemen perusahaan adalah bumbu yang harus dievaluasi agar efisiensi tetap sejalan dengan kualitas, komitmen, dan tanggung jawab yang kuat. Semoga Indocement bisa menjadi contoh nyata bagi perusahaan lain yang menjamur, khususnya di Kecamatan Citeureup, pengabdian kepada masyarakat melalui berbagai program CSR yang nyata dan berkesinambungan akan menimbulkan dampak positif dan meningkatkan kesejahteraan.   
continue reading Living in Harmony with Risk: Kunjungan Blogger ke Kawasan Reklamasi Tambang Indocement

Cerdas Finansial harus jadi Prioritas Zaman Now


Cerdas finansial seharusnya bukan sebuah mimpi besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di kota besar. Masyarakat yang tercukupi kebutuhannya, masyarakat yang cukup makan bangku sekolah, masyarakat yang merasa tak pernah cukup dengan perolehan gaji yang sudah di atas upah minimum. Gaya hidup, trend, lingkungan, gengsi, dengan mengatasnamakan harga diri terbentuklah masyarakat yang konsumtif. Pengeluaran lebih besar dari penghasilan, sehingga pensiun tidak terencana bahkan mungkin tak terpikirkan. Cara-cara berinvestasi pun tidak dikenali dan menabung menjadi sebuah pilihan yang sulit.

Sabtu, 4 November 2017 berlokasi di EvHive D.Lab, Bapak Eko Pratomo selaku pendiri Yayasan Syamsi Dhuha foundation dan Financial Wisdom lebih membuka mata dan pikiran saya bahwa salah satu kecerdasan manusia yang perlu diasah adalah kecerdasan finansial. Berbagai latar belakang dan tujuan peserta yang hadir di Cerdas Finansial dikorek oleh Bapak Eko sebelum diskusi dimulai. Ada mahasiswa manajemen keuangan yang belum pernah memperoleh ilmu manjemen keuangan pribadi dan keluarga, ada seorang dokter yang ingin merintis bisnis tambahan, awak media, dan saya sendiri seorang yang baru berumah tangga serta berkeinginan berpenghasilan dari rumah.


Pak Eko adalah belahan jiwa dari Ibu Dian W. Syarief, penyandang lupus dan low vision. Perjalanan kehidupan beliau sudah jungkir balik dan menemui titik balik sejak beliau mengarungi bahtera rumah tangga. Pengelolaan dan perencanaan keuangan yang baik menjadi salah satu kunci jaminan hari tua Pak Eko yang tak pernah ingin pensiun. Bagi beliau, pensiun adalah istilah yang digunakan oleh perusahaan pada karyawannya.


Paradigma baru persoalan "harus kaya" atau "ingin kaya" kemudian dijabarkan beliau dalam paparannya. Ah... saya tidak ingin kaya di dunia Pak, saya sudah pernah ada di titik lelah menginginkan dunia, dalam hati saya saat itu. Sampai dengan tahun 2014, keluarga kami yang hanya empat orang berada di titik aman. Setahun berikutnya, keluarga kami dihujam badai finansial. Saya tak pernah sanggup memandang bahkan bicara dengan ayah dan ibu. Saya berusaha menguatkan diri sendiri dan sempat lari dari kenyataan. 2017, menjadi awal baru bagi saya dan suami yang dilalahnya senasib. Kemudian kami belajar dan berbagi tentang badai yang pernah kami alami sebelumnya. Allah memang tak pernah salah merencanakan hidup seseorang. Allah mempertemukan pasti dengan sebuah maksud dan tujuan.




Setelah menikah, saya sempat bingung mengelola uang yang diperoleh dari hadiah pascapernikahan. Akhirnya saya mengamini apa yang Pak Eko sampaikan, lebih memilih mempersiapkan pensiun dibandingkan pendidikan anak. Anak adalah titipan Tuhan yang sudah memiliki rezekinya masing-masing. Pilihan saya pun jatuh pada bank syariah yang belum tahu untuk apa yang penting ditabung dulu, begitu pikir saya.

Pak Eko kemudian memberikan akses Financial Quotients Test-Online yang menunjukkan hasil bahwa saya perlu berhati-hati dalam perencanaan keuangan. Sampai di rumah pun suami saya mencoba tes ini dan hasilnya sama hahaha. Kami pun membahas sedikit rencana apa yang mesti kami ubah, khususnya dalam hal keuangan.


Sebelum menikah, saya memang bukan tipikal orang yang merencanakan keuangan secara matang dan terperinci. Alhamdulillah setelah menikah, suami saya adalah seorang planner garis keras yang baik. Walaupun kami masih meraba-raba tentang target jangka pendek dan panjang. Ibu saya pun tak pernah memberikan ilmu khusus tentang perencanaan keuangan. Beliau hanya berpesan saat pertama kali saya memiliki gaji sendiri, "Ibu tidak perlu mencicipi gaji pertamamu, Insya Allah ibu cukup, ibu hanya ingin gajimu ditabung setengahnya di rekening ayah demi masa depanmu (pernikahan) juga." Walaupun saat itu belum tahu kapan nikahnya. Sekitar tahun 2013 sedang menyelesaikan skripsi, gaji pertama saya adalah satu juta lima ratus ribu rupiah. Satu juta masuk rekening ayah saya yang masih aktif bekerja sebagai karyawan swasta. Sisanya saya habiskan dengan kondisi uang transport dan makan masih minta orang tua. 

Jujur saat masuk bagian angka dalam paparan Pak Eko rasanya pusing. Sejak sekolah saya tidak suka dengan angka. Pernah saya coba menghitung uang jajan secara rinci, namun tak bertahan lama. Sebelum menikah, saya masih percaya hitung-hitungan Allah tidak pernah sama dengan manusia. Apalagi urusan rezeki, jodoh, hidup, dan mati. Setelah menikah, kalimat tersebut masih saya imani namun harus dirinci rencana dua kepala yang dipersatukan illahi ini.

Selalu bersyukur, berpikir positif, tak pernah lelah berbagi, dan tak pernah sedih/iri melihat orang lain bahagia adalah mindset yang berusaha saya tanamkan saat ini setiap hari, karena sampai kapanpun rumput tetangga pasti selalu lebih hijau. Rumput depan rumah sendiri padahal belum diurusi.

Terimakasih untuk ilmu yang bermanfaat dari dua insan yg luar biasa
continue reading Cerdas Finansial harus jadi Prioritas Zaman Now