Cerdas Finansial harus jadi Prioritas Zaman Now


Cerdas finansial seharusnya bukan sebuah mimpi besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di kota besar. Masyarakat yang tercukupi kebutuhannya, masyarakat yang cukup makan bangku sekolah, masyarakat yang merasa tak pernah cukup dengan perolehan gaji yang sudah di atas upah minimum. Gaya hidup, trend, lingkungan, gengsi, dengan mengatasnamakan harga diri terbentuklah masyarakat yang konsumtif. Pengeluaran lebih besar dari penghasilan, sehingga pensiun tidak terencana bahkan mungkin tak terpikirkan. Cara-cara berinvestasi pun tidak dikenali dan menabung menjadi sebuah pilihan yang sulit.

Sabtu, 4 November 2017 berlokasi di EvHive D.Lab, Bapak Eko Pratomo selaku pendiri Yayasan Syamsi Dhuha foundation dan Financial Wisdom lebih membuka mata dan pikiran saya bahwa salah satu kecerdasan manusia yang perlu diasah adalah kecerdasan finansial. Berbagai latar belakang dan tujuan peserta yang hadir di Cerdas Finansial dikorek oleh Bapak Eko sebelum diskusi dimulai. Ada mahasiswa manajemen keuangan yang belum pernah memperoleh ilmu manjemen keuangan pribadi dan keluarga, ada seorang dokter yang ingin merintis bisnis tambahan, awak media, dan saya sendiri seorang yang baru berumah tangga serta berkeinginan berpenghasilan dari rumah.


Pak Eko adalah belahan jiwa dari Ibu Dian W. Syarief, penyandang lupus dan low vision. Perjalanan kehidupan beliau sudah jungkir balik dan menemui titik balik sejak beliau mengarungi bahtera rumah tangga. Pengelolaan dan perencanaan keuangan yang baik menjadi salah satu kunci jaminan hari tua Pak Eko yang tak pernah ingin pensiun. Bagi beliau, pensiun adalah istilah yang digunakan oleh perusahaan pada karyawannya.


Paradigma baru persoalan "harus kaya" atau "ingin kaya" kemudian dijabarkan beliau dalam paparannya. Ah... saya tidak ingin kaya di dunia Pak, saya sudah pernah ada di titik lelah menginginkan dunia, dalam hati saya saat itu. Sampai dengan tahun 2014, keluarga kami yang hanya empat orang berada di titik aman. Setahun berikutnya, keluarga kami dihujam badai finansial. Saya tak pernah sanggup memandang bahkan bicara dengan ayah dan ibu. Saya berusaha menguatkan diri sendiri dan sempat lari dari kenyataan. 2017, menjadi awal baru bagi saya dan suami yang dilalahnya senasib. Kemudian kami belajar dan berbagi tentang badai yang pernah kami alami sebelumnya. Allah memang tak pernah salah merencanakan hidup seseorang. Allah mempertemukan pasti dengan sebuah maksud dan tujuan.




Setelah menikah, saya sempat bingung mengelola uang yang diperoleh dari hadiah pascapernikahan. Akhirnya saya mengamini apa yang Pak Eko sampaikan, lebih memilih mempersiapkan pensiun dibandingkan pendidikan anak. Anak adalah titipan Tuhan yang sudah memiliki rezekinya masing-masing. Pilihan saya pun jatuh pada bank syariah yang belum tahu untuk apa yang penting ditabung dulu, begitu pikir saya.

Pak Eko kemudian memberikan akses Financial Quotients Test-Online yang menunjukkan hasil bahwa saya perlu berhati-hati dalam perencanaan keuangan. Sampai di rumah pun suami saya mencoba tes ini dan hasilnya sama hahaha. Kami pun membahas sedikit rencana apa yang mesti kami ubah, khususnya dalam hal keuangan.


Sebelum menikah, saya memang bukan tipikal orang yang merencanakan keuangan secara matang dan terperinci. Alhamdulillah setelah menikah, suami saya adalah seorang planner garis keras yang baik. Walaupun kami masih meraba-raba tentang target jangka pendek dan panjang. Ibu saya pun tak pernah memberikan ilmu khusus tentang perencanaan keuangan. Beliau hanya berpesan saat pertama kali saya memiliki gaji sendiri, "Ibu tidak perlu mencicipi gaji pertamamu, Insya Allah ibu cukup, ibu hanya ingin gajimu ditabung setengahnya di rekening ayah demi masa depanmu (pernikahan) juga." Walaupun saat itu belum tahu kapan nikahnya. Sekitar tahun 2013 sedang menyelesaikan skripsi, gaji pertama saya adalah satu juta lima ratus ribu rupiah. Satu juta masuk rekening ayah saya yang masih aktif bekerja sebagai karyawan swasta. Sisanya saya habiskan dengan kondisi uang transport dan makan masih minta orang tua. 

Jujur saat masuk bagian angka dalam paparan Pak Eko rasanya pusing. Sejak sekolah saya tidak suka dengan angka. Pernah saya coba menghitung uang jajan secara rinci, namun tak bertahan lama. Sebelum menikah, saya masih percaya hitung-hitungan Allah tidak pernah sama dengan manusia. Apalagi urusan rezeki, jodoh, hidup, dan mati. Setelah menikah, kalimat tersebut masih saya imani namun harus dirinci rencana dua kepala yang dipersatukan illahi ini.

Selalu bersyukur, berpikir positif, tak pernah lelah berbagi, dan tak pernah sedih/iri melihat orang lain bahagia adalah mindset yang berusaha saya tanamkan saat ini setiap hari, karena sampai kapanpun rumput tetangga pasti selalu lebih hijau. Rumput depan rumah sendiri padahal belum diurusi.

Terimakasih untuk ilmu yang bermanfaat dari dua insan yg luar biasa
Posting Komentar