Mulai Membiasakan Minum Air Putih

Berawal dari... 

Beberapa bulan yang lalu setelah mudik lebaran, terasa nyeri di pinggang sebelah kanan. Herannya nyeri muncul setiap bangun tidur di pagi hari. Curhat ke temen yang dokter, disarankan untuk dipijet dulu aja. Berhubung aku males ke dokter, jadi memilih untuk diurut dulu. Ternyata sakitnya nggak hilang sampe beberapa hari kemarin setelah menikah.

Beberapa kali panggil tukang urut, beliau hanya menyarankan untuk diurut lagi nanti kalo masih terasa, posisi tidur pun jangan berat sebelah. Sakitnya hanya muncul di pagi hari sih dan tidak demam, makanya aku lupakan si nyeri di pinggang ini. Sempat beberapa kali buang air kecil sering tapi sedikit-sedikit. Aku nggak mencoba googling juga sih lagi kenapa, biasanya suka iseng googling dulu hehehe. Mulai khawatir dan langsung periksa ke dokter. Dokternya heran karena aku kuat nahan sakit selama beberapa bulan. 


Pengobatan

Aku dan suami agak khawatir sama hasilnya, karena sakitnya udah lama tapi baru cek ke dokter sekarang *peace*. Setelah tes urine dan diketahui hasilnya adalah Infeksi Saluran Kemih, dokter pun memberikan antibiotik untuk dihabiskan, obat yang harus diminum ketika pinggang terasa sakit saja, dan multivitamin. Banyak minum air putih, setelah berhubungan langsung dibersihkan, dan sedia air dibotol saat bepergian jauh untuk membasuh setelah buang air.


harus dengan resep dokter

harus dengan resep dokter

Berawal dari ginjal, kotoran di dalam darah disaring dan dikeluarkan dalam bentuk air urine. Kemudian urine tersebut dialirkan dari ginjal melalui ureter menuju tempat penampungan yang disebut kandung kemih. Setelah ditampung, urine kemudian dibuang dari tubuh melalui saluran pelepasan yang disebut uretra. (sumber)


Bakteri yang mengendap inilah yang menyebabkan infeksi. Jangan dibiarkan berlarut-larut ya readers jika mengalami gejala ini. Terutama jika sering mengalaminya karena bukan tidak mungkin dapat menimbulkan penyakit lain yang lebih serius, misalnya gangguan pada ginjal.

Aku termasuk yang jarang minum air putih, lebih sering minum yang manis-manis, bahkan setelah makan siang bareng temen kerja aku hampir selalu ditanya "Nggak minum Ven?". Kurang olahraga juga dan kebanyakan kerja depan komputer dengan posisi duduk yang terlalu nyaman. Padahal ibu saya pernah mengalami hal ini dan berulang namun tidak ke dokter, nggak mau minum obat, hanya diobati dengan air putih saja. Saat kurang minum, terasa lagi sakitnya. Jangan ditiru! Temen ku yang sedang hamil juga terinfeksi penyakit ini, eh ternyata hinggap di aku juga.


Dari rumus kebutuhan air per hari ini, aku membutuhkan 1.680 ml/hari. Berhubung aku nggak terlalu suka rasa air putih. Aku mau coba-coba bikin infused water, walaupun trend ini sudah lama tapi aku belum pernah coba bikin sendiri sih. So, buat kita nih yang nggak suka sama rasa air putih yang hambar gitu aja, bisa dicoba juga! Di zaman teknologi yang canggih ini ternyata banyak loh aplikasi di playstore yang bisa diunduh yang membantu untuk mengawasi air putih yang telah kita minum sudah mencukupi atau belum. Aku sih belum coba, boleh dishare loh pengalamannya :)



Update, 17/10/2017

Setelah obatnya habis dan sempet kelewat sehari untuk minum obat karena lupa ternyata nyeri di pinggang kanan ini belum hilang juga. Aku beranikan diri ke dokter lagi untuk konsultasi. Pikiran dan hati rasanya udah nggak nyatu... sampai akhirnya dokter kasih rujukan untuk cek ke radiologi (ronsen) sama cek lab dengan tujuan untuk tau fungsi ginjal, kurang lebih begitu. 

Keesokan paginya, berdasarkan rujukan surat dr. Annisyafitri di Karadenan, aku menuju ke RS. Trimitra Cibinong yang beliau rekomendasikan. Baru ini aku khawatir banget sama keadaanku sendiri, biasanya kalo ada sakit itu nggak dirasa dan lama-lama hilang atau hanya dengan obat warung sudah cukup. Namun kali ini rasanya beda...

Tempat parkir RS. Trimitra itu menurutku nggak terlalu kelihatan plangnya, terlihat jelas papan rumah sakit namun ternyata tempat parkirnya sudah terlewat. Untuk pengunjung yang berobat atau besuk jangan sampai terlewat jauh ya! Setelah parkir langsung masuk loket pendaftaran, karena membawa surat rujukan langsung menuju ruangan untuk cek darah di laboratorium. Awalnya aku dicek oleh siswa PKL, batinku rasanya udah nolak dan benar saja dia nggak bisa ambil darahnya! Perempuan ini sempet geser-geser jarumnya gitu, ampun deh! kalo aja nggak aku tahan mungkin udah berucap, "Apa ada dokter lain? kok siswa PKL yang menangani saya???". Tak lama berselang petugas medis lainnya membantu, lengkap sudah lengan kanan dan kiri ada bekas tusukan jarum suntik!!!

Lega rasanya setelah keluar dari ruangan itu, selanjutnya menuju ke ruang radiologi yang ternyata untuk melakukan tindakan harus menunggu sekitar satu jam hasil cek darah dari laboratorium. Rasanya makin campur aduk dan berharap aku ni baik-baik saja. Tak berapa lama nama ku dipanggil dan masuk dalam ruangan radiologi. Bukan anak PKL lagi yang aku temukan hehehe, aku disapa petugas medis yang lebih bersahabat dan sedikit mengurangi kekhawatiran. Beliau menjelaskan ada beberapa obat yang harus ditebus, harus puasa, harus makan bubur kecap saja. Selama ini aku selalu bilang bubur itu makanan untuk orang sakit, sekarang aku yang harus masak dan makan bubur itu. Beruntung masih ada jenis kecap ikan yang nolong bangeeet! Harga obat dan beli alat pemeriksaan BNO nya juga cukup bikin aku speechless, tujuh ratus ribu dan biaya radiologi bisa dilihat pada gambar di bawah ini. Rasanya...................

Aku diminta kembali lagi hari Jumat untuk melakukan serangkaian tindakan. Ini tahap-tahap yang aku ingat diantara pikiran yang nggak karuan. Pertama, aku dibaringkan di meja terus lampu disorot ke bagian pusar. Walaupun aku belum pernah dioperasi dan nggak mau juga, tapi rasanya kaya meja operasi di sinetron atau film *lebay. Kedua, aku disuntik obat alergi sama dokter, menunggu dokter datang untuk suntik dan menunggu reaksi obat setelah disuntik lumayan bikin ngantuk tapi tegang. Petugas medis yang baik hati untungnya memutar murotal yang menenangkan sedikit. Ketiga, aku disuntik dengan alat yang lebih besar untuk memasukkan obat ke dalam darah dan melihat perjalanan aliran darahku melalui obat itu, kira-kira begitu. Alat suntiknya lebih besar dari mainan anak-anak. Aku belum pernah donor darah, tapi mungkin beda ya rasanya, proses ini nggak sakit. Keempat, aku diminta minum air yang banyak lalu difoto lagi. Kelima, aku diminta tengkurep dan terakhir aku diminta buang air kecil dan difoto lagi. Serangkaian proses ini memakan waktu sekitar dua jam.

Hasil tes diambil keesokan harinya jam sebelas. Mohon doanya, semoga hasilnya aman-aman aja yah *pukpuk :')


  
Posting Komentar