Living in Harmony with Risk: Kunjungan Blogger ke Kawasan Reklamasi Tambang Indocement

Pabrik semen bukan hal asing bagi saya yang tumbuh dan berkembang di kawasan industri dua pabrik semen serta pabrik-pabrik lainnya yang menjamur, khususnya di Kecamatan Citeureup. Hujan debu yang menempel pada pakaian-pakaian yang sedang dijemur, debu-debu yang bertebaran saat berangkat dan pulang sekolah, bekas ban truk-truk pengangkut yang bikin kotor jalanan aspal, pernah saya rasakan. Pendidikan terbaik yang diberikan sebagai bentuk kepedulian dan komitmen perusahaan terhadap masyarakat sekitar, di bangku SD dan SMP, saya jalani dengan penuh semangat.

Rabu, 22 November 2017, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) mengundang teman-teman blogger untuk mengunjungi Kompleks Pabrik Citeureup. Lima orang Blogger Bogor berkumpul di titik temu yang sudah ditentukan, tidak jauh dari Gerbang Tol Citeureup. Kami pun sempat sarapan nasi kuning dulu :D 



Rombongan Blogger dari titik temu Wisma Indocement, Jakarta, akhirnya mendarat dan kami bergegas naik bus. Sampai di Gedung serbaguna area guest house, kami disambut oleh Bapak Pigo Pramusakti selaku Corporate Public & Communication Manager. Pak Pigo memberikan gambaran tentang kunjungan yang akan dilakukan di Kompleks Pabrik Citeureup. Kami akan berkunjung ke tempat-tempat binaan langsung CSR (Corporate Social Responsibility) Indocement yang memiliki banyak program nyata serta berkesinambungan. Kami mendapat safety pause dari Mbak Novi sebelum kegiatan berlanjut.  

CSR identik dengan aliran dana, padahal CSR tidak melulu soal “bagi-bagi” uang, tidak hanya filantropis. Berbagai bentuk program diselenggarakan Indocement, seperti:
1.   Sunatan massal
2.   Puskesmas keliling
3.   Bantuan beasiswa
4.   Pembagian sapi kurban saat hari raya
5.   Sekolah Magang Indocement
6.   Koperasi di Kampung kaleng untuk para pengrajin kaleng
7. Hingga konservasi alam dan pemberdayaan melalui pendidikan yang diberikan ke sekolah-sekolah dengan menumbuhkan kesadaran lingkungan pada peserta didik, mulai dari menanam pohon, membuat biopori, dan mengolah sampah.

Pak Adit Purnawarman, CSR Citeureup Department Head pun menyampaikan lebih lanjut program CSR Indocement yang mengacu pada lima pilar, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan. Saat ini, Indocement bermitra dengan 12 desa yang berada di sekitar area operasional pabrik. Setiap kegiataan industri pasti menghasilkan polusi, namun Indocement berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun lingkungan. Setiap pabrik semen memang menghasilkan polutan, namun kecanggihan teknologi dapat  meredam polusi suara/getaran, debu, dan emisi. Teknologi yang digunakan oleh perusahaan sanggup menangkap debu-debu yang terbang, sehingga emisi debu hampir nol. Bahan bakar alternatif pun dimanfaatkan oleh Indocement, salah satunya merupakan hasil dari pengolahan sampah. Indocement telah melakukan efisiensi yang cukup baik dalam pengelolaan perusahaan namun komitmen pada program-program CSR terus berjalan dan tidak berkurang.

Setelah mengenakan safety vest, Bapak Jafar Arifiyanto dari General Service Department memandu kami menuju ke lokasi pertama. Area yang dituju berlokasi jauh dari jalan raya, masuk ke dalam kawasan pabrik, Pak Jafar menunjukkan beragam gedung dan fasililtas yang dimiliki oleh perusahaan. Pabrik tertua Indocement yaitu Plant 1 dan Plant 2 pun kami lewati, di sisi kanan dan kiri jalanan ditanami berbagai jenis pohon untuk penghijauan, tersedia juga tempat ibadah umat muslim ‘Masjid As-salam’, kompleks perkantoran, poliklinik yang dimanfaatkan juga oleh warga sekitar dengan delapan dokter tetap.

Indocement juga membangun jalan umum untuk memudahkan warga bepergian dari tempat tinggalnya yang berada tak jauh dari kawasan pabrik. Training center pun dimiliki oleh Indocement, salah satunya untuk kegiatan pelatihan keselamatan kerja. Stasiun Nambo juga berada di dekat kawasan Indocement, selain digunakan sebagai transportasi umum yang mengangkut penumpang, kereta api juga dimanfaatkan untuk mendistribusikan semen sehingga lebih tepat waktu dan efisien. Perusahaan juga memiliki fasilitas bio-drying sebagai tempat percontohan pengolahan sampah mandiri dari pabrik maupun dari masyarakat. Indocement menerapkan zero waste, sampah-sampah yang telah diolah menjadi bahan bakar alternatif. Ada pula bengkel motor dan workshop kerajinan yang merupakan mitra Indocement.  

Melewati gerbang kawasan tambang, kami disambut pohon-pohon jati yang berjejer rapi, sekawanan kupu-kupu, dan capung yang terbang bebas di lokasi pertambangan. Kupu-kupu adalah makhluk rentan, komitmen Indocement terhadap lingkungan membuat mereka bisa bertahan hidup di kawasan reklamasi tambang yang berlokasi di Quarry D. Area ini juga dapat digunakan untuk penelitian oleh siswa sekolah menengah, dosen, dan mahasiswa.

Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki *elus-elus perut* :))

Pak Endang, Pak Dadang, dan bapak-bapak petani yang lain mengawal kami melihat-lihat kebun hasil binaan Indocement melalui program GTM (Gerakan Tani Mandiri). Untuk mengurangi jumlah pengangguran warga desa Leuwikaret dan meminimalisasi penambangan illegal oleh warga sekitar, Indocement membentuk kelompok tani. Pengelola kebun mengajak kami melihat kebun buncis, jalur yang dilalui menurun, gampang murudul’, lembek-lembek tapi subur gitu. Terdapat pula tanaman rempah-rempah seperti sereh, cabai, pohon pisang, pohon pepaya, daun katuk, dan berbagai tanaman yang cocok dengan kondisi tanah bekas tambang.

Dok. Indocement

Kunjungan berlanjut ke lokasi kedua, Mata air Cikukulu yang masih berada di Kawasan
Quarry D. Mata air ini dipompa dan disalurkan ke desa-desa binaan indocement. Dulu, saat musim kemarau, Indocement membantu kebutuhan air warga dengan truk tangki. Sekarang airan mata air Cikukulu mampu mencukupi kebutuhan 350 Kepala Keluarga yang dimanfaatkan untuk MCK. Airnya persis di Leuwi hejo, pantulan matahari yang terik siang itu pantulkan rona hijau yang sedap dipandang. 
Kunjungan pun sampai di lokasi terakhir yaitu Tegal Panjang. Indocement memanfaatkan kebun ini untuk tempat budidaya beranekaragam tanaman. Kami disambut barisan pohon jarak yang ditanami sudah sejak 2007. Kayak lagi dimana gitu pas ambil foto diantara pepohonan ini, karena diatur sedemikian rupa sehingga tertata rapi.

Pak Hilman, pengelola kebun, menjelaskan jenis-jenis tanaman yang dikembangkan di kebun Tegal Panjang. Perawatan, pengaturan tanah sebagai media tanam, dan pengaturan jarak saat penanaman pun beliau ceritakan secara singkat.

Lokasi ini juga memiliki kebun koleksi, salah satunya pohon teureup. Teureup yang dikenal sebagai nama daerah Citeureup ternyata ada pohonnya juga! Selanjutnya menuju kebun pohon cinta, pohon yang biasa menjadi hiasan di depan pelaminan, sepanjang perjalanan kami ‘dipayungi’ oleh tanaman markisa yang merambat dan sudah berbuah. Ada juga tanaman hias seperti palem kuning dan hanjuang yang sudah memiliki penampung rutin setiap bulannya.

Penanaman pohon cinta diatur dengan jarak tanam 20 cm, ternyata ada kriteria khusus dari konsumen yang menginginkan lebar daun yang pas. Jika jaraknya diperlebar, bisa jadi pohon yang meneduhkan sampai 3 meter dan bisa untuk bibit indukan dengan persilangan bonggol. Sapi dan kerbau tidak menyukai pohon cinta karena pahit sehingga penanaman pohon cinta di kebun ini aman tidak khawatir dimakan. Satu ikat ada yang 10 ribu, 15 ribu, dan 20 ribu tergantung lebar daunnya. Hama hanya di awal saja, yaitu siput alias bekicot. Selain itu faktor cuaca perlu diperhatikan, jika memasuki musim kemarau harus disiram rutin pagi dan sore. Perbaikan sistem pengairan pun dilakukan. Sebulan sekali, tanaman diberi pupuk urea bergantian dengan pupuk kandang. Di GTM, pohon cinta cocok juga untuk dibudidayakan namun karena GTM membutuhkan perputaran uang yang lebih cepat maka pohon cinta tidak ditanam di sana. Pohon cinta baru setelah enam bulan bisa dipanen. Pohon cinta dapat bertahan hingga 3 minggu jika ujung batangnya rutin disiram air.


Dok. Pribadi

Perjalanan setengah hari berakhir dengan makan siang yang nikmat; ikan asin dan kerupuk kulitnya menggugah selera banget. Saat kembali ke gedung serbaguna
guest house, kami mendengar sirine dan suara ledakan di kawasan tambang. Saya teringat masa orientasi sekolah di basecamp sekitar empat belas tahun yang lalu, 2003. Bernaung di bawah Yayasan Indocement Tunggal Prakarsa, SMP Puspanegara menjadi sekolah favorit bahkan sampai hari ini. Kualitas guru dan hasil lulusannya tak perlu diragukan, Bu Pisma, Pak Sardi, Bu Endang, Bu Sri Lestari, Bu Wahyu, Pak Agung, Pak Dadang, dan segenap guru yang berjasa hingga hari ini. Terima kasih Indocement atas komitmen dan kepedulian terhadap masyarakat dalam hal apa pun. Dinamika yang terjadi dalam manajemen perusahaan adalah bumbu yang harus dievaluasi agar efisiensi tetap sejalan dengan kualitas, komitmen, dan tanggung jawab yang kuat. Semoga Indocement bisa menjadi contoh nyata bagi perusahaan lain yang menjamur, khususnya di Kecamatan Citeureup, pengabdian kepada masyarakat melalui berbagai program CSR yang nyata dan berkesinambungan akan menimbulkan dampak positif dan meningkatkan kesejahteraan.   
continue reading Living in Harmony with Risk: Kunjungan Blogger ke Kawasan Reklamasi Tambang Indocement

Cerdas Finansial harus jadi Prioritas Zaman Now


Cerdas finansial seharusnya bukan sebuah mimpi besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di kota besar. Masyarakat yang tercukupi kebutuhannya, masyarakat yang cukup makan bangku sekolah, masyarakat yang merasa tak pernah cukup dengan perolehan gaji yang sudah di atas upah minimum. Gaya hidup, trend, lingkungan, gengsi, dengan mengatasnamakan harga diri terbentuklah masyarakat yang konsumtif. Pengeluaran lebih besar dari penghasilan, sehingga pensiun tidak terencana bahkan mungkin tak terpikirkan. Cara-cara berinvestasi pun tidak dikenali dan menabung menjadi sebuah pilihan yang sulit.

Sabtu, 4 November 2017 berlokasi di EvHive D.Lab, Bapak Eko Pratomo selaku pendiri Yayasan Syamsi Dhuha foundation dan Financial Wisdom lebih membuka mata dan pikiran saya bahwa salah satu kecerdasan manusia yang perlu diasah adalah kecerdasan finansial. Berbagai latar belakang dan tujuan peserta yang hadir di Cerdas Finansial dikorek oleh Bapak Eko sebelum diskusi dimulai. Ada mahasiswa manajemen keuangan yang belum pernah memperoleh ilmu manjemen keuangan pribadi dan keluarga, ada seorang dokter yang ingin merintis bisnis tambahan, awak media, dan saya sendiri seorang yang baru berumah tangga serta berkeinginan berpenghasilan dari rumah.


Pak Eko adalah belahan jiwa dari Ibu Dian W. Syarief, penyandang lupus dan low vision. Perjalanan kehidupan beliau sudah jungkir balik dan menemui titik balik sejak beliau mengarungi bahtera rumah tangga. Pengelolaan dan perencanaan keuangan yang baik menjadi salah satu kunci jaminan hari tua Pak Eko yang tak pernah ingin pensiun. Bagi beliau, pensiun adalah istilah yang digunakan oleh perusahaan pada karyawannya.


Paradigma baru persoalan "harus kaya" atau "ingin kaya" kemudian dijabarkan beliau dalam paparannya. Ah... saya tidak ingin kaya di dunia Pak, saya sudah pernah ada di titik lelah menginginkan dunia, dalam hati saya saat itu. Sampai dengan tahun 2014, keluarga kami yang hanya empat orang berada di titik aman. Setahun berikutnya, keluarga kami dihujam badai finansial. Saya tak pernah sanggup memandang bahkan bicara dengan ayah dan ibu. Saya berusaha menguatkan diri sendiri dan sempat lari dari kenyataan. 2017, menjadi awal baru bagi saya dan suami yang dilalahnya senasib. Kemudian kami belajar dan berbagi tentang badai yang pernah kami alami sebelumnya. Allah memang tak pernah salah merencanakan hidup seseorang. Allah mempertemukan pasti dengan sebuah maksud dan tujuan.




Setelah menikah, saya sempat bingung mengelola uang yang diperoleh dari hadiah pascapernikahan. Akhirnya saya mengamini apa yang Pak Eko sampaikan, lebih memilih mempersiapkan pensiun dibandingkan pendidikan anak. Anak adalah titipan Tuhan yang sudah memiliki rezekinya masing-masing. Pilihan saya pun jatuh pada bank syariah yang belum tahu untuk apa yang penting ditabung dulu, begitu pikir saya.

Pak Eko kemudian memberikan akses Financial Quotients Test-Online yang menunjukkan hasil bahwa saya perlu berhati-hati dalam perencanaan keuangan. Sampai di rumah pun suami saya mencoba tes ini dan hasilnya sama hahaha. Kami pun membahas sedikit rencana apa yang mesti kami ubah, khususnya dalam hal keuangan.


Sebelum menikah, saya memang bukan tipikal orang yang merencanakan keuangan secara matang dan terperinci. Alhamdulillah setelah menikah, suami saya adalah seorang planner garis keras yang baik. Walaupun kami masih meraba-raba tentang target jangka pendek dan panjang. Ibu saya pun tak pernah memberikan ilmu khusus tentang perencanaan keuangan. Beliau hanya berpesan saat pertama kali saya memiliki gaji sendiri, "Ibu tidak perlu mencicipi gaji pertamamu, Insya Allah ibu cukup, ibu hanya ingin gajimu ditabung setengahnya di rekening ayah demi masa depanmu (pernikahan) juga." Walaupun saat itu belum tahu kapan nikahnya. Sekitar tahun 2013 sedang menyelesaikan skripsi, gaji pertama saya adalah satu juta lima ratus ribu rupiah. Satu juta masuk rekening ayah saya yang masih aktif bekerja sebagai karyawan swasta. Sisanya saya habiskan dengan kondisi uang transport dan makan masih minta orang tua. 

Jujur saat masuk bagian angka dalam paparan Pak Eko rasanya pusing. Sejak sekolah saya tidak suka dengan angka. Pernah saya coba menghitung uang jajan secara rinci, namun tak bertahan lama. Sebelum menikah, saya masih percaya hitung-hitungan Allah tidak pernah sama dengan manusia. Apalagi urusan rezeki, jodoh, hidup, dan mati. Setelah menikah, kalimat tersebut masih saya imani namun harus dirinci rencana dua kepala yang dipersatukan illahi ini.

Selalu bersyukur, berpikir positif, tak pernah lelah berbagi, dan tak pernah sedih/iri melihat orang lain bahagia adalah mindset yang berusaha saya tanamkan saat ini setiap hari, karena sampai kapanpun rumput tetangga pasti selalu lebih hijau. Rumput depan rumah sendiri padahal belum diurusi.

Terimakasih untuk ilmu yang bermanfaat dari dua insan yg luar biasa
continue reading Cerdas Finansial harus jadi Prioritas Zaman Now

From Online to Offline : Blogger adalah Keluarga

For the first time of my life, i created a blog just for dropped my diary book. I don't want anyone read it, share it, moreover put a comment on my blog post or my facebook note. Until one day, someone in somewhere always appear on my comment box. Then he ask me to join a blog community in Bogor. He invited me to the google groups 'Blogor'. Everybody communicate with their email on that 'milis' and i'm not familiar with gmail. As a fast learner, finally i can adjust with it.  

22/10/2010, i officially introduce my self to another member on that group. Kang Asep, Teh Dita, someone in somewhere, Kang Achoey, Bunda Desi, dan Pak WKF adalah enam orang pertama yang menyambut kala itu with warm welcome. 6 years ago, Blogger Bogor made my day. Prisma Gita adalah orang yang berjasa kala itu karena di menit-menit pertama kopdar mancing di rumah alm. Prof Sjafri is sooo boring hahaha. Gita juga teman seperjalanan karena rumah kami berdekatan. Saat itu, jarang terlihat penampakan seusia saya di sana kecuali someone in somewhere.  I never imagine that i'll meet stranger from this virtual world on that time. 


Pesta Blogger membuka pikiran saya bahwa one day this 'curcol' posting will be very usefull for everybody who read it. Saat itu bertaburan barang-barang gratis dari para sponsor yang membuat saya speechless. Master-master di Blogor pun ngeborong banyak doorprize. It's fun and really entertaining. Walaupun saya ini anak baru dan nggak ada yang mengenali, tapi Bapak-bapak dan Ibu-ibu di Blogor membantu saya untuk berkenalan dengan yang lain. It's really something :')

Milis pun ramai, celotehan, sharing, ucapan ulang tahun, undangan event, sampai undangan nikah, bersahutan dan mengasyikkan. Sampai suatu hari ada voting untuk memilih nominasi blog dan dengan sukarela menominasikan blog someone in somewhere, karena berjasa hingga hari ini. :)


Hampir tiap kopdar seingat saya, we always ask each other will come or not. Ketika akan muncul pergantian pengurus di Blogor pun, someone in somewhere selalu mengingatkan saya untuk tidak hadir hahaha supaya nggak jadi pengurus hahaha. Saya sebagai tim hore selalu menuruti kalimatnya. Pernah suatu hari saya nggak hadir kopdar, dia bilang "Itu kan Bapak lu bela-belain dateng (pupuhu) eh lo malah ngga dateng kopdar". Pada saat itu saya cuma mikir, so what? Kekeluargaan di Blogor belum melekat banget untuk saya di Blogor at that time.

HelloBogor jadi 'angin segar' di tengah perkuliahan yang membutuhkan uang jajan tambahan. Bangga banget jadi kontributor, punya penghasilan dari menuliskan sesuatu yang kita suka lewat tulisan di blog dan bermanfaat bagi yang baca. Berhubung saya bukan quiz hunter, blogger event, fashion blogger, apalagi blogger valak, jadi rasanya seneng banget. 


Seiring berjalannya waktu, Blogger Bogor pun mensyukuri ulang tahunnya yang ke delapan. Di tengah up and down dan menjamurnya blogger-blogger. Blogger Bogor mencengkeram kuat eksistensinya sebagai Blogger regional yang masih tetap menggema, makin kasohor.


Di delapan tahun itu saya mulai merasa ada yang hilang, ada yang kurang lengkap, ada semburat senyum yang khas tidak ada di sana. Walaupun hadir anggota yang datang silih berganti tapi ada yang nggak biasa. Salah satunya karena suami saya nggak hadir, ini menjadi titik awal kami menjalin komunikasi setelah sekian purnama.


Di tengah kegalauan mencari pekerjaan, someone in somewhere 'memaksa' saya untuk mengirimkan cv yang tak kunjung saya kirim hingga detik ini. Entahlah itu pertanda atau bukan, namun tak lama setelahnya telepon dari Nias bagaikan petir di siang bolong sanggup membuat saya lemas seketika.


Ada anggota keluarga yang hilang, sahabat yang perhatiannya lebih daripada keluargaku sendiri, khususnya urusan blog ini. FYI, my mom ever ask me to stop writing. Saat itu saya sadar bahwa Blogger Bogor itu bukan agency seperti kebanyakan "komunitas-komunitas" lain yang menjamur, ada keterikatan satu sama lain yang membuat kami layaknya keluarga. Paguyuban blogger yang memiliki pengurus dan hadir meramaikan dunia maya.

Di hari blogger nasional ini menjadi moment bertubi-tubi untuk saya, karena bertepatan dengan masa expired domain blog yang semakin dekat dan ini yang membuat saya sedih. Sedih karena urusan invoice ini masih ditujukan pada someone in somewhere. Mungkin ini salah satu cara Allah SWT mengamanahkan Alfa Naufal Nareswara, memantau perkembangannya dan sekali-sekali berkunjung.

Dear Alfa, maybe someday you read this, maybe you have so many question about blog, blogging, blog walking, and so on. You have to know that blog is one of 'medicine', for healing something, cure someone though invisible. Just like me, who still healing her longing. Someone who post something through this virtual world maybe can't explain everything in the real world. Blogger in virtual world maybe can have different feeling in real world. Both of them are the same, virtual and real world just temporary for everyone who read it.

Tetaplah berkarya, posting, blogwalking, and write something bukan hanya karena materi di dunia tapi sebagai transfer ilmu. layaknya pepatah...

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati hanya tinggal namanya saja. 

continue reading From Online to Offline : Blogger adalah Keluarga

Asli Bogor: Lapis Bogor Sangkuriang

Oleh-oleh atau buah tangan menjadi hal yang lumrah dipenuhi sebagian orang yang bepergian untuk wisata khusus atau sekedar jalan-jalan santai. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, pernak-pernik lucu, dan banyak lagi variasi oleh-oleh lainnya. Berhubung tempat tinggalku berada di wilayah Bogor, oleh-oleh yang diminta pun tak jauh-jauh dari makanan, cemilan, jajanan, whatever you name it!

Bogor terkenal dengan beragam makanan khasnya, wisata kulinernya juara! Bogor menjadi idola karena jaraknya yang terjangkau dari ibukota, baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi tinggal pilih saja senyamannya. Kios kecil maupun rumah makan besar tak pernah sepi dikunjungi wisatawan saat weekend, terlebih lagi long weekend. Tak heran banyak ditemukan pusat oleh-oleh khas Bogor yang menyajikan macam-macam pilihan untuk dibawa pulang.

Sabtu, 14/10, bersama dengan Kang Sae berkesempatan mengunjungi salah satu pusat oleh-oleh khas Bogor di Cibinong yaitu Lapis Bogor Sangkuriang (LBS). Lokasinya masih satu deretan dengan pusat perbelanjaan paling hits, Cibinong City Mall, Jalan Raya Bogor Ruko Galaxy. Outlet ini buka dari jam 06.00 - 22.00 WIB. 

dok. Pribadi
Saat sampai, kami disambut oleh pegawai yang sedang melakukan uji coba tekstur LBS rasa teh hijau keju. Sebenarnya aku nggak terlalu suka teh hijau, biasanya pahit, tapi LBS satu ini nggak meninggalkan rasa pahit sama sekali dan teksturnya pun lembut seperti varian rasa lainnya. 

Kang Sae memberikan opini setelah mencoba LBS Teh Hijau Keju
(dok. Pribadi)
Tak lama berselang, Teh Lina sebagai asisten dari store head LBS Cibinong menyambut kami dan menyampaikan bahwa store head sedang tidak ada dan bisa menyampaikan hal-hal yang ingin ditanyakan melalui pesan whatsapp. Lapis Bogor bermula dari sang pemilik yang mendapat inspirasi dari makanan khas di Surabaya yaitu Lapis Surabaya, di Bogor kok tidak ada oleh-oleh khasnya ya? 




Saat pulang, kami "dibekali" sekotak LBS yang pilihan rasanya kita yang menentukan.  Aku mencoba rasa baru si chocovila keju. Dalam lapisan chocovila, ada biskuit oreo yang "meramaikan" lidah. Taburan keju di atasnya semakin melumerkan kue lapis yang bertekstur lembut. Kemasannya rapi, warna ungu dan kuning mendominasi karena mewakili warna favorit pendiri lapis bogor. LBS tahan selama 3-4 hari loh dan jika disimpan di lemari pendingin tahan maksimal satu minggu.




Oleh-oleh khas Bogor ini bisa diperoleh dengan mudah dengan harga yang nggak bikin kantong jebol, dibandrol dari harga 29rb - 33rb saja. Tak hanya sebagai oleh-oleh, LBS juga bisa disajikan untuk beragam acara seperti arisan, pengajian, atau sekedar kudapan minum teh atau kopi sore hari. Menjamurnya kue-kue kekinian yang seolah khas padahal tidak menggunakan bahan baku khas Bogor, tak menggoyahkan LBS untuk tetap menjaga kualitas dengan harga yang terjangkau serta memahami "lidah" pelanggan. LBS pun fokus pada rasa, kualitas, pelayanan, dan inovasi. Lapis Bogor Sangkuriang terus menerus melakukan uji coba pasar sebelum mengeluarkan produk yang akan dijual dan menjual berdasarkan penilaian pasar atau pelanggan. Jika terdapat keluhan dari pelanggan, LBS akan menanggapi dengan positif dan cek langsung kebenaran dari keluhan tersebut. Kedepannya tidak menutup kemungkinan LBS akan bekerjasama dengan kedai-kedai kopi di Kota Bogor sebagai "teman" ngopi-ngopi cantik.


Belum sempat membeli langsung Lapis Bogor Sangkuriang di outletnya? jangan khawatir karena Lapis Bogor Sangkuriang bisa dipesan online melalui LBS Express di nomor telepon 1500 262. Cari oleh-oleh Bogor yang khas, asli, dan terjangkau? LBS pilihannya ;)   



continue reading Asli Bogor: Lapis Bogor Sangkuriang

Mulai Membiasakan Minum Air Putih

Berawal dari... 

Beberapa bulan yang lalu setelah mudik lebaran, terasa nyeri di pinggang sebelah kanan. Herannya nyeri muncul setiap bangun tidur di pagi hari. Curhat ke temen yang dokter, disarankan untuk dipijet dulu aja. Berhubung aku males ke dokter, jadi memilih untuk diurut dulu. Ternyata sakitnya nggak hilang sampe beberapa hari kemarin setelah menikah.

Beberapa kali panggil tukang urut, beliau hanya menyarankan untuk diurut lagi nanti kalo masih terasa, posisi tidur pun jangan berat sebelah. Sakitnya hanya muncul di pagi hari sih dan tidak demam, makanya aku lupakan si nyeri di pinggang ini. Sempat beberapa kali buang air kecil sering tapi sedikit-sedikit. Aku nggak mencoba googling juga sih lagi kenapa, biasanya suka iseng googling dulu hehehe. Mulai khawatir dan langsung periksa ke dokter. Dokternya heran karena aku kuat nahan sakit selama beberapa bulan. 


Pengobatan

Aku dan suami agak khawatir sama hasilnya, karena sakitnya udah lama tapi baru cek ke dokter sekarang *peace*. Setelah tes urine dan diketahui hasilnya adalah Infeksi Saluran Kemih, dokter pun memberikan antibiotik untuk dihabiskan, obat yang harus diminum ketika pinggang terasa sakit saja, dan multivitamin. Banyak minum air putih, setelah berhubungan langsung dibersihkan, dan sedia air dibotol saat bepergian jauh untuk membasuh setelah buang air.


harus dengan resep dokter

harus dengan resep dokter

Berawal dari ginjal, kotoran di dalam darah disaring dan dikeluarkan dalam bentuk air urine. Kemudian urine tersebut dialirkan dari ginjal melalui ureter menuju tempat penampungan yang disebut kandung kemih. Setelah ditampung, urine kemudian dibuang dari tubuh melalui saluran pelepasan yang disebut uretra. (sumber)


Bakteri yang mengendap inilah yang menyebabkan infeksi. Jangan dibiarkan berlarut-larut ya readers jika mengalami gejala ini. Terutama jika sering mengalaminya karena bukan tidak mungkin dapat menimbulkan penyakit lain yang lebih serius, misalnya gangguan pada ginjal.

Aku termasuk yang jarang minum air putih, lebih sering minum yang manis-manis, bahkan setelah makan siang bareng temen kerja aku hampir selalu ditanya "Nggak minum Ven?". Kurang olahraga juga dan kebanyakan kerja depan komputer dengan posisi duduk yang terlalu nyaman. Padahal ibu saya pernah mengalami hal ini dan berulang namun tidak ke dokter, nggak mau minum obat, hanya diobati dengan air putih saja. Saat kurang minum, terasa lagi sakitnya. Jangan ditiru! Temen ku yang sedang hamil juga terinfeksi penyakit ini, eh ternyata hinggap di aku juga.


Dari rumus kebutuhan air per hari ini, aku membutuhkan 1.680 ml/hari. Berhubung aku nggak terlalu suka rasa air putih. Aku mau coba-coba bikin infused water, walaupun trend ini sudah lama tapi aku belum pernah coba bikin sendiri sih. So, buat kita nih yang nggak suka sama rasa air putih yang hambar gitu aja, bisa dicoba juga! Di zaman teknologi yang canggih ini ternyata banyak loh aplikasi di playstore yang bisa diunduh yang membantu untuk mengawasi air putih yang telah kita minum sudah mencukupi atau belum. Aku sih belum coba, boleh dishare loh pengalamannya :)



Update, 17/10/2017

Setelah obatnya habis dan sempet kelewat sehari untuk minum obat karena lupa ternyata nyeri di pinggang kanan ini belum hilang juga. Aku beranikan diri ke dokter lagi untuk konsultasi. Pikiran dan hati rasanya udah nggak nyatu... sampai akhirnya dokter kasih rujukan untuk cek ke radiologi (ronsen) sama cek lab dengan tujuan untuk tau fungsi ginjal, kurang lebih begitu. 

Keesokan paginya, berdasarkan rujukan surat dr. Annisyafitri di Karadenan, aku menuju ke RS. Trimitra Cibinong yang beliau rekomendasikan. Baru ini aku khawatir banget sama keadaanku sendiri, biasanya kalo ada sakit itu nggak dirasa dan lama-lama hilang atau hanya dengan obat warung sudah cukup. Namun kali ini rasanya beda...

Tempat parkir RS. Trimitra itu menurutku nggak terlalu kelihatan plangnya, terlihat jelas papan rumah sakit namun ternyata tempat parkirnya sudah terlewat. Untuk pengunjung yang berobat atau besuk jangan sampai terlewat jauh ya! Setelah parkir langsung masuk loket pendaftaran, karena membawa surat rujukan langsung menuju ruangan untuk cek darah di laboratorium. Awalnya aku dicek oleh siswa PKL, batinku rasanya udah nolak dan benar saja dia nggak bisa ambil darahnya! Perempuan ini sempet geser-geser jarumnya gitu, ampun deh! kalo aja nggak aku tahan mungkin udah berucap, "Apa ada dokter lain? kok siswa PKL yang menangani saya???". Tak lama berselang petugas medis lainnya membantu, lengkap sudah lengan kanan dan kiri ada bekas tusukan jarum suntik!!!

Lega rasanya setelah keluar dari ruangan itu, selanjutnya menuju ke ruang radiologi yang ternyata untuk melakukan tindakan harus menunggu sekitar satu jam hasil cek darah dari laboratorium. Rasanya makin campur aduk dan berharap aku ni baik-baik saja. Tak berapa lama nama ku dipanggil dan masuk dalam ruangan radiologi. Bukan anak PKL lagi yang aku temukan hehehe, aku disapa petugas medis yang lebih bersahabat dan sedikit mengurangi kekhawatiran. Beliau menjelaskan ada beberapa obat yang harus ditebus, harus puasa, harus makan bubur kecap saja. Selama ini aku selalu bilang bubur itu makanan untuk orang sakit, sekarang aku yang harus masak dan makan bubur itu. Beruntung masih ada jenis kecap ikan yang nolong bangeeet! Harga obat dan beli alat pemeriksaan BNO nya juga cukup bikin aku speechless, tujuh ratus ribu dan biaya radiologi bisa dilihat pada gambar di bawah ini. Rasanya...................

Aku diminta kembali lagi hari Jumat untuk melakukan serangkaian tindakan. Ini tahap-tahap yang aku ingat diantara pikiran yang nggak karuan. Pertama, aku dibaringkan di meja terus lampu disorot ke bagian pusar. Walaupun aku belum pernah dioperasi dan nggak mau juga, tapi rasanya kaya meja operasi di sinetron atau film *lebay. Kedua, aku disuntik obat alergi sama dokter, menunggu dokter datang untuk suntik dan menunggu reaksi obat setelah disuntik lumayan bikin ngantuk tapi tegang. Petugas medis yang baik hati untungnya memutar murotal yang menenangkan sedikit. Ketiga, aku disuntik dengan alat yang lebih besar untuk memasukkan obat ke dalam darah dan melihat perjalanan aliran darahku melalui obat itu, kira-kira begitu. Alat suntiknya lebih besar dari mainan anak-anak. Aku belum pernah donor darah, tapi mungkin beda ya rasanya, proses ini nggak sakit. Keempat, aku diminta minum air yang banyak lalu difoto lagi. Kelima, aku diminta tengkurep dan terakhir aku diminta buang air kecil dan difoto lagi. Serangkaian proses ini memakan waktu sekitar dua jam.

Hasil tes diambil keesokan harinya jam sebelas. Mohon doanya, semoga hasilnya aman-aman aja yah *pukpuk :')


  
continue reading Mulai Membiasakan Minum Air Putih

'Digital Celebration' Blogger Bogor

© Blogor
Blogger Bogor ulang tahun (((lagi)))
makin kasohor karena mengundang komunitas lain untuk ikut serta merayakan kebahagiaan hari jadi Blogger Bogor yang ke-9, 30 September 2017 .

Tahun ini #BLO9OR mengangkat isu-isu kekinian lewat talkshow dari para narasumber yang sharing seputar Digital Life. Acara ngaret-sengaret-ngaretnya hahahahaha
Kita jadi sempet sarapan dan 'popotoan' dulu deh sebelum talkshow dimulai^^

Setelah tahun sebelumnya Blogor Hajatan Sewindu di Kolout, kali ini Blogor bekerjasama dengan CoffeeToffee, POSTshop, yang berlokasi di Kantor Pos Cibadak. Dengan suasana outdoor yang bertabur hadiah *wink wink*


© Blogor
Tema yang diambil adalah "Digital Persona and Branding Strategy" dengan narasumber pertama, yaitu Kang Ibrahim Anwar dari @Hibrkraft

Personal branding as branding strategy itu apa sih? intinya adalah apa yang orang lain tau dan bicarakan tentang kita saat kita tak ada di sekitar mereka. Apakah hal-hal yang positif atau banyak negatifnya? Gimana orang luar melihat kita? Apa yang orang pikirkan saat nama kita disebut? Apakah kita cukup dikenal dengan baik?
Kita bisa membangun Personal Branding dengan berbagai cara, membuat blog dan ikut berkecimpung dalam sebuah komunitas salah satunya. Dengan personal branding yang baik, kita bisa memperoleh kesempatan-kesempatan yang baik pulang di bidang yang kita kuasai dan tentunya bisa menginspirasi orang lain :)

Sesi selanjutnya diisi oleh narasumber dari Kang Finka Ermawan, @GoodNoteID, Kang Finka sharing tentang "Improving Digital Softskill". Cara berpikir digital itu seperti apa sih? pertama adalah kita harus mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan spesifik mengenai hal yang sedang kita kerjakan sehingga teknologi dapat mempermudah meraih tujuan tersebut. Misalnya tujuan @GoodNoteID ingin semua orang tau apapun tentang @GoodNoteID, teknologi mewujudkan tujuan itu dengan membuat website yang informatif khususnya tentang produk-produk dari @GoodNoteID. Kedua, kita harus memiliki komunikasi yang efektif baik itu offline maupun online@GoodNoteID memiliki layanan customer service untuk berkomunikasi dengan customer secara real time dengan memanfaatkan aplikasi line, whatsapp, dan email. Ketiga, lakukanlah kolaborasi dengan orang lain seperti yang @GoodNoteID lakukan dengan @Hibrkraft, membuat notebook mini dengan sampul kulit yang menarik ;)
Keempat, belajar menyelesaikan masalah. Lima, menemukan inovasi-inovasi baru dengan pendekatan yang tepat untuk diadaptasi. Last but not leastPlayfulness, temukan passion dan hobi kamu then show off! Digital tidak hanya bisa menggunakan teknologi-teknologi baru yang sangat mempermudah hidup kita, namun juga mengintegrasikannya dengan pola pikir digital.

Dua sesi sudah berlalu, makin siang makin ramai. Bagi-bagi doorprize pun dikemas layaknya acara cerdas cermat karena pake tanya jawab hahaha

Kang Taufan dari @KitaFoodie Culinary Networks & @10Thrones Creative Syndications duet maut dengan Kang Pai. Mereka berdua sukses meramaikan acara di cuaca yang hareudang pisaaan cuy  
Acara kian ramai dengan hadirnya kue super yummy buatan Bunda Desi @KafeSerambi. Cake orange dengan hiasan coklat putih dan tulisan rasa jeruk yang nagih banget lah pokoknya!


Di sesi terakhir yang aku nggak terlalu menyimak eaaa hahaha. Ada “Pupuhu” kita a.k.a Ketua @BloggerBogor, Kang Hendra Gunawan yang angkat suara berbagi tentang salah satu aktivitas yang sedang beliau gandrungi saat ini seputar Google My Business, khususnya google local guideCara memulai StartUp via Google, membuat Gmail bussiness, klaim nama usaha, sampai set direktori dan lokasi via Akun GoogleDi Bogor ada komunitasnya juga loh, yaitu komunitas Bogor Local Guide yang menjadi acuan untuk direktori Geo-Tagging

Sesi-sesi menarik ini usai diiringi pergantian personil yang hadir. Alhamdulillah yang dateng memang antusiasss, antusias buat doorprize-nya :)))
Nggak koook, nggak salah lagi hahaha

Seharian itu berfaedah sekali, mulai dari jalin silaturahmi, menuntut ilmu, bertemu orang-orang baru (nambah followers terselubung), ngopi-ngopi cantik, dan jalan seharian sama resha :*

Mudah-mudahan Blogger Bogor panjang umur selalu, eksistensinya di jagad dunia maya tak terelakkan lagi di tengah hiruk-pikuk aktivitas online-nersss. Semakin hits dan memberikan dampak positif, khususnya bagi kota hujan tercinta. 

I love you to the moon and back, from online to offline, my world is full with you :)

ps. The phrase "to the moon and back" basically means more than anything or more than anything else. The notion is using the distance from the Earth to the Moon and the return trip (or 455,000 miles or so) as a measure or unit or quantum of (say)love. In short, a lot.
continue reading 'Digital Celebration' Blogger Bogor

Nasib Perut di Makananmu

Kita tak pernah benar-benar tau apa yang ada dalam isi perut kita masing-masing.
Yakin?
Dari mulai melihat, memilih, mengolah, berlanjut mengkonsumsinya dengan lahap. Proses tersebut akan menentukan hasil akhirnya. Apakah hanya terbuang sia-sia berupa kotoran atau terserap dengan baik dan bermanfaat untuk tubuh kita.

Belakangan setelah menikah, lagi seneng-senengnya mengolah apa yang bisa diolah. Terlebih lagi karena suami berkali-kali mengulang kata diet dan saya iya-kan tapi tetep weh masak buat sarapan, makan siang, dan makan malam hahaha..
Harap maklum, masih asik-asiknya cemplung sana cemplung sini terus seneng sendiri.

Biasanya yang diolah itu tergantung request dan berdasarkan apa yang dilihat di tukang sayur. Bisa kalap juga ternyata lihat dagangan emang-emang yang mulai jadi langganan XD

Pertama kali aku masak terong sambel karena belom nemu tukang sayur jadi seketemunya hahaha. Next sayur sop yang ada brokoli, kentang, dan bakso di dalamnya, hmmm maknyuuus! Berikutnya masak pecel yang tinggal direbus-rebus doang dan berhasil nggak overcooked :D

Menu nasi goreng telur pun jadi andalan selanjutnya, masak sayur asem yang dimakan sampe bosen, ayam saus tiram, ayam goreng yang itu-itu saja, sampe berhasil mengolah lagi sarden jadi perkedel kentang plus tahu. Sungguh pencapaian yang luar biasa, karena biasanya aku lebih seneng makan/jajan di luar hahahaha  

Dokumen pribadi tanpa edit filter
Foto di atas adalah beberapa hasil olahan yang berhasil didokumentasikan karena biasanya langsung makan atau mager ambil fotonya. Mungkin difoto tak terlihat menggiurkan tapi kalo lihat langsung suami yang makan dengan lahap aneka masakan ini sanggup kok bikin kenyang. Sambel bawang pun tak pernah terlewat menemani menu dari resep-resep sederhana ini.

Minggu ini bener-bener diniatkan untuk diet sekaligus bergaya hidup sehat dengan pilihan nggak sarapan dan mengurangi makan nasi. Berhubung dapet gratisan buah dari Sunpride pas acara ultahnya Blogger Bogor dan kiriman selada dari teteh yang lagi panen, langsung merambah ke blending selada campur nanas, apel, dan pisang. Hasilnya yummy! 


A post shared by Gioveny Astaning Permana (@gioveny_) on

Hmm.. sepertinya gaya hidup sehat ini akan terus berlanjut, karena banyak manfaatnya. Pertama hemat di kantong hahaha, kedua bahan-bahan alami khususnya sayur dan buah lebih terjamin kebersihannya karena dipilih dan diolah sendiri, ketiga sangat menantang untuk terus menggali resep-resep baru, memunculkan ide-ide, dan kreasi masakan sendiri :D

Kesehatan bener-bener ada di tangan kita berdua sekarang. Dari mulai memilih dan menyantap makanan yang bisa memberikan nutrisi lengkap untuk tubuh kita. Biar nggak gampang capek dan sakit juga. Yuk mulai masak makanan mu sendiri!
continue reading Nasib Perut di Makananmu

Pascanikah : Sebuah Pencerahan



Seminggu sudah lewat...
Rasanya menyenangkan~
mengawali hari baru dengan tatapan dan senyuman yang sama
menutup hari dengan resep-resep dan bumbu cepat saji yang masih terus ku gali.
Aku ternyata mampu merealisasikan hal-hal yang selama ini hanya dalam imajinasi saja.

Seandainya aku nikah nanti...
Seandainya aku sudah tinggal berdua saja dengan suami...
Seandainya tak ada lagi yang komentar saat mulai mencoba sesuatu yang baru.
dan
warna kuning tak lagi berkedip menyebalkan pertanda hati-hati.
Hati-hati gosong, awas keasinan, aneh-aneh aja sih, berantakan kan

Akhirnya keikhlasan dan kesabaran berbuah manis :)
Jadilah orang yang lebih baik, tiru yang baik-baik saja, yg jelek jangan diambil
karena sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri solehah *kemudian dangdutan
hahahahahha

Itu pesan ibu yang mungkin ngga percaya anaknya bisa dan ada bakat beliau yg lungsur. Me time banget pas coba-coba cemplung sana cemplung sini walaupun pake bumbu instan XD 



Dulu.. sekitar Oktober 2013
ketemu orang yang bisa baca pikiran kita
Aku penasaran aja sih, kita pun akhirnya ngobrol di ayunan Villa Hira saat acara gathering.
Kalo kamu pikir dengan menikah, kamu bisa lari dari rumah. Buang pikiran itu jauh-jauh.. menikah nggak se-sederhana itu. Menyatukan dua kepala ditambah keluarga besar. Kamu harus pikirkan itu baik-baik.
ekspresi ku saat itu adalah... loh kok dia tau hahaha

Dari kecil aku sering banget bilang bosen kalo ada di rumah. Sekarang, aku sedang menikmati masa-masa me time aku di rumah. Enak sepi, cuma ada bunyi aku sama minyak panas, suara tv, dan abang tukang jualan yang lewat sekali-kali. Hahahaha

dan suara suami saat dia pulang :)

Bahagia ternyata se-sederhana itu, rasa dihargai lewat cara makannya yang lahap sanggup bikin aku kenyang dan nggak makan nggak apa-apa. Mungkin ini berlebihan, tapi itulah nikmat nyata dari Sang Kuasa.

Aku yang tadinya mulai capek membahagiakan orang lain, sekarang jadi semangat lagi melihat orang lain bahagia :)

Thank you Allah, i can't describe all of my feelings right now

continue reading Pascanikah : Sebuah Pencerahan