Sabtu, 24 Desember 2016

Pengalaman tes tertulis Ombudsman


Tanggal 9 Desember 2016 adalah hari yang ditunggu-tunggu para pendaftar Ombudsman Batch II. Pemberkasan yang dilakukan melalui jalur pos ataupun datang langsung membuat ku sedikit deg-deg-an, berkas ku sampe nggak ya?

Teman ku menyarankan untuk menggunakan jasa pos Indonesia saja untuk mengirim berkas-berkas, karena menggunakan jasa yang lain khawatir tidak jelas sampainya karena dia mempunyai pengalaman demikian. Aku sebagai bagian dari masyarakat yang masih antusias memanfaatkan layanan publik tetep aja kepikiran, itu berkas sampe nggak ya? Hahaha
Setelah menerima pengumuman resmi melalui website, aku mulai ubek-ubek situs ombudsman.go.id dan membuat rangkuman sendiri berjudul sekilas Ombudsman kira-kira lima halaman. Tiap link pada situs resminya aku klik untuk tau lebih banyak tentang Ombudsman.
FYI, ini pertama kalinya aku ikut tes untuk mengajukan diri sebagai pegawai pemerintah. Beberapa teman yang saling menyemangati saat pemberkasan membuat ku terpacu untuk ikut serta. Panitia menyampaikan bahwa dari sekitar enam ratus berkas yang masuk untuk provinsi yang aku pilih, tersaring sekitar tiga ratus peserta untuk melanjutkan tahap selanjutnya yaitu tes tertulis. Sembilan orang pun dipilih untuk melanjutkan tahap selanjutnya yaitu tes psikologi dan wawancara sehingga diperoleh tiga orang saja.
Aku mengerahkan seluruh kemampuan ku dalam tahap tes tertulis ini, adapun gagal setidaknya ada kepuasan tersendiri karena berhasil menyelesaikan salah satu tahapnya. Pasrah pada Sang Maha Kuasa adalah kalimat terakhir setelah aku berusaha memaksimalkan kemampuan karena usaha tak akan membohongi hasil dalam hal apapun :)

Untuk kita pengguna smartphone dari yang murah sampai yang mahal, di play store tersedia loh tes wawasan kebangsaan, tes kemampuan dasar, dan tes potensi akademik. Aku mengunduh dan mencoba aplikasi tersebut karena belum memiliki bayangan tes tertulis seperti apa yang akan diujikan.

Survey lokasi tes sebelum ujian pun aku lakukan untuk menghindari nervous dan mencari tempat “sembunyi” yang aman, jauh dari keramaian karena ingin tenang dan tidak melihat wajah-wajah peserta lainnya yang bikin jiper :D

Registrasi dibuka pukul 07.00 waktu setempat, aku tiba di lokasi ujian pukul 06.30 untuk mengamati situasi. Tempat menyembunyikan nervous yang aman adalah mesjid yang ada toiletnya, aman untuk bolak-balik kamar mandi karena nervous kayak aku XD

Di mesjid, materi-materi yang sebelumnya sudah diunduh dalam satu folder aku pindahkan ke smartphone sehingga hemat kertas. Ini seharusnya bisa dilakukan sebelum hari ujian agar tidak berat membawa laptop. Ketika registrasi dibuka, tidak ada papan petunjuk antrean sehingga berinteraksi dengan manusia itu perlu banget loh, karena ada antrean untuk verifikasi data dengan identitas, antrean untuk menandatangani daftar hadir, dan antrean untuk mendapatkan kartu peserta ujian. Selama proses antrean yang mengular panjang, kita bisa baca lagi materi yang sudah disimpan rapi dalam folder di smartphone. Undang-undang tentang Ombudsman dan pelayanan publik baru aku baca di menit kedua puluh sebelum tes tertulis dimulai. Sepintas, feeling ku mengatakan akan ada ujian essay dalam tes tertulis ini dan ternyata benar adanya HAHAHA.

Selesai ujian, ke luar ruangan dengan hati puas karena telah memaksimalkan kemampuan otak untuk berpikir. Walaupun hasilnya belum diketahui tapi setelah tes tidak boleh berkecil hati. Senang-senang saja makan bersama dan tunggu hasilnya kemudian.

Selamat mencoba diperiode berikutnya!

Posting Komentar