Selasa, 22 Desember 2015

Belajar dari Alor

Alun-alun Kalabahi
Ibu Yanti Kerlip mengikusertakan saya dan tiga teman lain untuk melakukan assesment pascagempa di Alor, Nusa Tenggara Timur. Pesawat pun menerbangkan kami ke Kupang selepas solat subuh. Saya, Nura, dan Ksatria duduk berderet dan hanya Kang Usep yg terpisah. Kang Usep meminta saya untuk mengabadikan moment sunrise namun sayang sekali tak nampak sunrise nya. Di kupang, kami sempatkan untuk berfoto dan menunggu sebentar lalu melanjutkan penerbangan dengan pesawat yg lebih kecil. Ada brosur doa selama perjalanan dengan berbagai bahasa di pesawat kecil ini. Angin kencang di luar pun sangat terasa.

Alhamdulillah kami sampai di Bandara Mali dengan rasa syukur yg luar biasa. Air minum yang saya bawa tumpah tapi itu tak menyurutkan hati saya untuk selalu bersyukur atas limpahan rahmat di penghujung tahun ini.

Saya bisa merasakan keramahan orang-orang yg menatap kami. Senyuman tulus dari Pak Supir travel yang dipilih Kang Usep pun menambah semangat saya untuk berada di Alor selama 3 hari ke depan. Di dalam mobil saya antusias bertanya tentang Alor pada Kak Adi. Beliau pun tak ragu menceritakan tentang gambaran umum di Pulau Alor ini. Alor adalah salah satu tempat tujuan wisata favorit wisatawan untuk diving dan snorkeling. Wah saya ke Alor untuk bertugas Kak Adi, demikian saya tanamkan dalam hati.


Kami ke hotel sebentar untuk menyimpan barang dan bertemu Kak Lisa lalu lanjut ke Dinas Pendidikan Kabupaten Alor. Bapak Kepala Dinas menyambut kami dengan gembira didampingi oleh Pak Wan yang selalu tersenyum. Pak Kadis pun merekomendasikan sekolah-sekolah yang bisa kami assesment. Ada 3 sekolah yaitu SD, SMP Maritaing, dan SMA Lantoka. Pak Kadis pun bercerita tentang 7 keajaiban yang ada di Alor namun hanya menyebutkan 4 saja, air laut yg dingin di bulan tertentu sehingga banyak ikan berkumpul dan dengan mudah ditangkap, Al-Qur'an tua, nekara yg bisa menunjukkan pola-pola tenun tertentu, dan pohon kenari.


Sengaja foto-foto di sana tidak saya tampilkan agar pembaca penasaran dan mau terbang langsung ke sana hehehe. Harga tiketnya memang lebih mahal dari tiket ke luar negeri, itulah kekayaan negeri kita sendiri Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika memang nyata ada di Alor karena beragam suku, agama, bahasa, dan adat istiadatnya sangat beraneka ragam tersebar di 17 kecamatan!

Esok pagi matahari dari timur menyambut kami. Setelah sarapan dan persiapan kami didampingi oleh Pak Wan menuju ke sekolah-sekolah. Kunjungan pertama ke SMA Lantoka kemudian lanjut ke SD dan SMP. Mencuci tangan dan membersihkan muka adalah hal yang masih harus dipelajari di sini. Bernyanyi dan bermain bersama anak-anak adalah hal yang paling digemari, tidak hanya anak Alor saja pastinya :D

Sepanjang jalan menuju sekolah-sekolah diiringi pohon kayu putih di kanan dan kiri. Ada juga pemandangan pulau Timor Leste yg tak terlalu nampak. Banyak pulau-pulau kecil lainnya yang bisa disebrangi dan Kak Adi pun menawarkan untuk singgah di villa wisatanya namun karena waktu kami sangat terbatas jadi tidak bisa mampir.

Kak Adi mengajak kami santap malam di resto mama, sup ikan jagoannya sangat ia rekomendasikan! Di halaman resto mama saya melihat bunga kamboja berduri yang hanya bisa tumbuh di Alor. Maha Suci Engkau ya Allah...

Pagi yang mendung menyambut kami di hari selanjutnya. Saya dan Ksatria menuju SLB untuk berkegiatan bersama anak-anak kebutuhan khusus. Nura & Kang Usep melakukan monitoring dengan WVI. Kegiatan di SLB kami awali dengan senam pagi bersama diiringi ost Snoopy and Charlie Brown The Peanuts Movie ^^

Show the world that you on fire!


Kegiatan di SLB pun dilanjutkan di kelas karena tak lama hujan turun dan saya mengajak anak-anak bermain air hujan dengan membuat barisan kereta api, bernyanyi kereta api, kemudian mencuci tangan dengan air hujan. Awesome!


Saya pun melanjutkannya dengan bercerita memanfaatkan boneka tangan milik Nura. Cerita singkat yang membuat anak-anak mampu menaruh perhatiannya pada saya. Setelah foto bersama, saya mengunjungi kelas ksatria yang sedang membuat greeting cards. Anak-anak SMP yang didampingi Ksatria pun membacakannya, ada untuk sahabat dan ada juga berbentuk puisi. Sungguh keunikan anak-anak memang tak terbendung.

Saya kembali ke hotel setelah bertemu dan bercengkrama sebentar dengan teman-teman dari SM3T UNY. Mereka akan ada di Alor hingga Agustus 2015. Saya dan Ksatria lanjut mencari data ke BPBD dan tak lupa mampir ke museum 1001 moko yang hanya kami pengunjungnya karena sudah akan tutup.

Lanjut mencari data ke PMI namun via telepon dikabarkan bahwa ybs tidak ada di tempat. Tak ingin menyiakan waktu saya dan Ksatria berkunjung ke Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) untuk melihat-lihat. Hari sudah semakin sore, kami mampir ke warung kediri dan membungkus sego pecel. Mantap!

Hari terakhir kami di Alor dimanfaatkan untuk mengunjungi Al-Qur'an tua, berkunjung ke kantor bupati, dan ke pasar terbakar. Terimakasih untuk Kak Adi dan Pak Wan juga teman-teman SM3T serta pihak-pihak yang tak bisa disebutkan satu per satu.

Semoga keindahan Alor tetap terjaga dan pertemuan ini adalah awal dari rencana Allah yg indah :)


Posting Komentar