Menjadi Relawan itu Perlu

Menjadi seorang relawan adalah hal yang positif dan banyak manfaat yang bisa diambil. 
  1. Bertemu dengan orang baru adalah salah satu hal yang Saya suka, bertukar pikiran dan bertemu karakter berbeda, berbaur, dan bekerja sama.
  2. Mengisi waktu luang dengan berkontribusi pada kegiatan-kegiatan positif.
  3. Menyerap ilmu baru, mendapat tambahan pengetahuan, belajar dengan cara berpartisipasi langsung dalam kegiatan.
  4. Menghargai, menghormati, dan memberi masukan yang positif.
  5. Relawan adalah bentuk tolong-menolong dengan rasa tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan dan mendukung proses berlangsungnya kegiatan dengan sepenuh hati.
Konsep relawan ini saya jalani sejak SMA. Rela membagi waktu demi menyukseskan kegiatan dengan berkontribusi menjadi panitia yang solid, kompak, dan bertanggung jawab. Kegiatan yang berproses sehari, dua hari, dan baru kali ini rasanya saya mengikuti kegiatan kerelawanan ini berbulan-bulan.

Sejak bulan puasa tahun 2015, sudah ditentukan agenda untuk berkumpul pertama dan berlanjut dengan agenda kumpul kedua di Kebun Raya Bogor (KRB). Tanpa tau pasti agenda jelasnya apa! FYI, kegiatan ini adalah rutin setahun sekali. Untuk ketiga kali ini panitia dibentuk terdiri dari orang yang belum pernah ikut sama sekali dan yang pernah ikut. Sebut saja yang pernah ikut ini dengan istilah "senior".

Saya dan senior-senior ini berkumpul di KRB, sekali lagi dengan agenda yang tidak jelas. Ujug-ujug... tau-tau... saya dan teman-teman yang belum pernah ikut kegiatan ini masuk dalam daftar nama-nama calon struktural yaitu ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara.

JREEENGGG

Pemilihan pun dilakukan dengan cara dikocok, iya dikocok, semacam arisan kemudian dibacakanlah nama-nama tersebut tanpa dasar yang jelas. Arisan sih ya keluar nama happy banget karena dapet rezeki nemplok. LAH INI!
Memilih pemimpin dan bawahan-bawahannya dengan cara yang tidak manusiawi sama sekali. Unsur pemaksaan yang terselubung atau pengalihan tanggung jawab?
Tanpa ada pertanyaan bersedia atau tidak?
Tanpa ada perkenalan lebih lanjut sedang sibuk apa sekarang?
Tidak ada kandidat, tak ada kalimat berkenan atau tidak?
Seolah-olah kami adalah junior mereka yang siap jiwa raga untuk "diajari".

Sempurna, kalian merusak jiwa kerelawanan saya!
mulai hari itu saya berpikir ulang untuk menjadi relawan. Dalam hati saya harus mengambil hikmah dari agenda sampah hari ini. Saya merasa dijebak, dijebak datang dan hadir dengan kemasan halal-bihalal. Oh sungguh dosa besar dan bau busuk!

Saya memilih fokus pada divisi tempat saya bernaung, karena masih mau belajar dan berkenalan dengan ambience baru, Alhamdulillah saya tidak salah divisi. Biarlah senior-senior itu yang mengambil alih kewajiban saya, toh saya tidak menuntut hak. Ini menjadi lesson learned yang sangat berharga banget. Jiwa kerelawanan saya sudah dikotori dengan cara yang tidak manusiawi. Terbukti! dewasa itu bukan usia, banyak ilmu seharusnya semakin merunduk.

Atas nama profesionalitas tahi ayam tulisan ini dibuat sebagai refleksi diri atas risiko yang saya ambil serta hasil yang saya terima. Ditulis dan dipost pada hari rapat besar terakhir sebelum briefing dan maaf Saya tidak MAU hadir hanya sebagai bentuk pengalihan tanggung jawab atau lebih kasarnya kacung?

menjadi relawan seharusnya tidak sedrama ini. Jiwa relawan tumbuh dari lubuk hati manusia yang mau dan mampu dengan senang hati menolong dalam bentuk apapun :)


flickr

Posting Komentar