Rabu, 26 Februari 2014

Terjebak Tere Liye



Sungguh cerita yang mengaharukan dan membolak-balikkan hati. Tak salah Aku memilih judul ini untuk memenuhi kantong belanjaan Ku. Bersama dengan satu judul lain yg belum Ku baca.

Rembulan Tenggelam di Wajah Mu, membawa Aku dalam sebuah kesadaran yg lebih nyata bahwa, Hanya Tuhan lah pemilik segala sesuatu yg ada di bumi ini, manusia sudah sepantasnya tak henti bersyukur, karena selain bersyukur, tak akan ada cara yg lebih memuaskan hawa nafsu manusia.

Lagi-lagi Aku tertarik dengan alur cerita yg dituliskan Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu mempunyai alur maju - mundur yg sempurna. Awalnya Aku sempat bingung, namun lama - kelamaan Aku terbiasa dg tanda khusus yg dituliskan Tere Liye dalam tiap perpindahan alur. 

Entah itu malaikat, atau apa, utusan langit, begitu cerita tersebut menuliskannya. Aku suka, utusan langit itu mendampingi seorang tokoh utama dalam novel ini, Rehan namanya, Rehan Raujana yang kemudian lebih populer dengan panggilan Ray. Tidak tau bagaimana rupa Ayah dan Ibunya sejak ia dilahirkan. Tumbuh di lingkungan panti asuhan bersama anak-anak seusianya dan seorang penjaga panti yg terobsesi ingin naik haji, sayangnya dengan cara apapun.

Fiksi ini lagi-lagi mengajarkan Aku, bahwa hidup begitu sederhana, semudah kita bersyukur, dan belajar ikhlas. Setelah judul Bumi yang belum keluar lanjutan serinya, Aku memilih terjebak dalam deretan judul Tere Liye yg lain. Niat beli satu jadi beli dua, Sunset Bersama Rosie masuk kantong belanja. Ludes sudah sisa uang di tanggal tua hahahahahahahahahahha

Aku benar-benar terjebak Tere Liye, dan aku menyukai ini. Bisa membuang muka dari mobile phone yg akhir-akhir ini sering ku pegang karena online game, dan mengulang kembali kebiasaan lama Ku membaca novel sampai tamat, kemudian tak sabar menunggu kelanjutannya. 

Oh Tere Liye, semoga Kau tak memanfaatkan Ku seperti penulis lain yg juga menjual merchandise dari fiksi-fiksi yang ia ceritakan. Ku mohon jangan.

Nb. Maafkan Aku yg belum pandai meresensi sebuah fiksi yg baru Kubaca

Senin, 17 Februari 2014

Bumi - Tere Liye

Hari ini Aku selesai membaca Bumi 438 halaman, dan ternyata itu berlanjut ke novel berikutnya berjudul Bulan, mungkin Matahari dan Bintang akan menjadi serinya juga :D
Can't wait!!! >_<

Melihat covernya yang biasa saja, namun misterius, Bumi, sudah hanya ada gambar tangan menggengggam Bumi. Sinopsisnya Ku baca, tentang 'Raib' nama yang aneh, dan ternyata dia memiliki bakat menghilang. puf!

Aku sama sekali tidak menyangka novel ini akan membangkitkan imajinasi yg sangar liarrr dan membayangkan jika ada filmnya, akan seperti apa? Harry Potter kah? waw brilliant sekali Tere Liye! Aku nggak tau, apakah ada penulis fiksi yg sekeren dia?!

Biasanya Aku baca novel dan senang meresapi moment dan makna dibalik alur cerita, namun ini, imajinasi Ku bangkit! dulu Aku memandang sebelah mata Harry Potter yg telah habis Ku baca, tapi tak pernah ku miliki fisiknya sampai sekarang, alias pinjam :p
Sekarang, setelah buku Harry Potter tamat, buku dan filmnya, muncul Bumi dari penulis Indonesia!

Dikisahkan ada tiga orang anak manusia (eh manusia apa bukan ya) tersesat ke dunia lain yang menguak semua misteri setelah selama ini tidak diketahui oleh mereka. 
Berbagai kejadian menimpa mereka, dan dengan alur yg sangat masuk akal Aku dengan mudah terhanyut ke dalamnya. 


Apapun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yg kita lihat. Apapun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang Kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang.

Mau tau banget nggak isi novelnya? silahkan baca dan berimajinasi sendiri XD



Tere Liye

Aku tau nama Tere Liye dari rekan kerja dua tahun yg lalu. Mengingatnya bikin kangen <3 font="">
Mbak Rani namanya, orang Kebumen yang sedang ketar-ketir menyelesaikan skripsinya di Jurusan Perpustakaan UI. Beberapa bulan bekerja, dia harus berhenti untuk melanjutkan skipsinya karena hampir mendekati batas waktu.

Melihat aku sering membuka facebook, Dia bertanya saat itu.
"Add Tere Liye dong Ven"
"Siapa Mbak Tere Liye?" 
"Penulis novel Ven, updatenya di facebook juga bagus-bagus deh Ven"
"Aku belum pernah dengar nama Tere Liye, coba ya Aku searching Mbak" :)

Di profilnya Aku lihat updatenya seperti quote. Mbak Rani pun mengambil alih facebook Ku dan asyik membaca.

"Mbak, kenapa nggak bikin facebook aja? kan enak bisa baca dimanapun Mbak mau"
"Aku nggak terlalu butuh facebook Ven"

Dalam hati terbersit "What? hari gini?"
tapi ya sudah lah itu kan hak masing-masing orang, nggak perlu dipermasalahkan.
Tahun berganti, Aku sudah nggak bertemu Mbak Rani lagi, Kami sepertinya tertukar. Dia ingin bekerja menjadi guru, dan Aku pribadi merasa tidak mantap jadi guru. Mbak Rani pun pulang ke kampung halamannya setelah lulus kuliah. Update Tere Liye pun selalu muncul di home facebook dan Aku yg membacanya. 

Aku tertarik dengan judul novelnya "Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin"
Padahal Aku sudah lama menghentikan aktifitas Ku membaca fiksi, terlalu mendayu-dayu dan membuat Ku berimajinasi berlebihan. Namun setelah membaca novel ini, hati Ku tergerak membuka lembaran novel lainnya. Adikku yang biasanya enggan dengan kegiatan membaca, sejak beberapa saat sebelum Aku punya novel ini, ikut membacanya.

Ketika berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan pun Aku dan Dia menemukan lagi novel Tere Liye yg lain. Oh ternyata ini candu...
Berjuta Rasanya dan Sepotong Hati yang baru masuk ke plastik belanjaan Kami hari itu.

Bumi, ada di genggaman Ku sejak dua hari yang lalu, dan ternyata isinya..... (bersambung)




Minggu, 16 Februari 2014

Bicara Jodoh

Aku tak berusaha menutup kuping tentang jodoh.

Wajar, begitu Ibu Ku berujar. 

Tiap tahap dalam hidup manusia pasti akan dipertanyakan (selalu)

Bahkan tanpa sadar, masing-masing dari Kita juga pernah mempertanyakan hal yang sama terhadap orang lain. Reaksinya pun bermacam-macam. Kalo Aku sih tergantung mood.

Mood bagus, jawaban biasa saja
Mood jelek? jawaban Ku biasanya lebih datar, di bawah level biasa saja.

Bertemu teman, pergi ke undangan pernikahan, reuni, sekedar makan siang bersama, obrolan ngalor-ngidulnya pasti ada selingan 'jodoh'
HAHAHAHA

Apalagi kalo kalian kumpul bareng sama anak-anak kosan, kepancing dikit langsung bocor sebocor-bocornya sampe tumpeh-tumpeh :))

Beberapa hari setelah aku menua kemarin jadi menuanya cukup sehari saja :p
Aku chat dengan teman ku dan dia membagikan link ini 
Saat itu larut malam, Aku pun baru pulang

Blog itu menyebutkan do'a yang indah mengutip dari buku

“Ya Allah, siapapun jodohku kelak, jagalah dia agar selalu istiqomah dalam agama-Mu. Semoga ia selalu mencintai-Mu, mencintai Rasul-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu & Rasul-Mu. Jagalah ia dari segala keburukan. Berikan dia kekuatan untuk selalu menegakkan kalimat-Mu, agama-Mu. Jauhilah dia dari kecintaan berlebihan pada dunia. Aamiin”

Selain mendoakan diri sendiri dan calon pasangan kita, kita juga harus mendoakan orang tua kita agar beliau diberikan menantu (pasangan kita kelak) yang sholeh & berakhlak baik, yang tidak hanya mencintai kita tapi juga mencintai keluarga kita nantinya.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada ayah & ibuku, menantu yang sholeh, yang dapat menjadi pasangan anaknya ini untuk mencari keridhoa-Mu. Aamiin”
Do'a ini mulai ku hapal, Aku memang berdoa untuk yang terbaik setiap harinya, dan do'a ini lebih memperjelas maksud do'a ku sehari-hari

Apa Kamu punya referensi do'a yang lain? :)


Kamis, 13 Februari 2014

Turn Back


Aku sedang meresapi usia yang hadir saat ini.

Semalaman Aku memikirkan semuanya.

Apa yang telah Aku lalui selama ini.

Manusia berlumur dosa, masih kurang membahagiakan orang tua, masih terus belajar sabar, bersyukur, dan ikhlas.

Malam sebelum berganti hari, Ku harap Tuhan memberikan umur panjang dan nikmat sehat supaya Aku bisa terus berbakti kepada kedua orang tua ku, jauhkan mereka dari sentuhan api neraka ya Rabb, Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :') 

Terdengar suara Ayah menghampiri tempat tidur ku, Beliau menyelimuti badan ini rupanya, baik dan teramat istimewa Ayah ku.

sehabis maghrib malam itu, Ibu mengucapkan selamat ulang tahun, padahal ulang tahunnya hari ini.

seharian ini, selama di tempat kerja, handphone ku hanya menerima sms dan telepon saja, tidak disetting untuk menerima pesan dari socmed manapun :)

Aku sedang merasakan, nikmat mana lagi yang aku dustakan bisa bernafas sampai detik ini.

Terimakasih ya Allah