Senin, 01 September 2014

Bencana Longsor di Dusun Kopen



1.      Pendahuluan

Indonesia telah melalui masa puncak curah hujan tertinggi, yakni pada Januari dan Februari. Menurut Paulus Agus Winarso dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), yang diwawancara oleh Liputan6.com, dengan cuaca yang tidak menentu saat itu, jika masyarakat tidak memberi perhatian, bahaya banjir mengintai setiap saat. Rusaknya kawasan hutan terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) akan menjadi faktor munculnya bencana alam seperti longsor. Pemerintah Daerah dan masyarakat harus siap menghadapi kemungkinan bencana alam dan dampaknya.

Fenomena cuaca di Indonesia dan akibat yang muncul bukan dipengaruhi oleh cuaca ekstrem di negara lain. Penyebab utama tingginya curah hujan pada Januari dan Februari yang lalu adalah suhu muka laut perairan Indonesia yang cukup hangat, sehingga menyebabkan penguapan dan pembentukan awan yang intensif. Nanda Alfuadi, seorang Staf BMKG mengutarakan hal tersebut dalam Majalah Kompasiana, bahwa Indonesia terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, kedua samudra ini merupakan sumber udara lembab yang banyak mendatangkan hujan bagi wilayah Indonesia. Letak dua benua yang mengapit Indonesia, yaitu Asia dan Australia, juga berpengaruh pada pola pergerakan angin di Indonesia, arah angin sangat berperan dalam mempengaruhi pola curah hujan (Tukidi, 2014).

Tulisan ini memaparkan penyebab bencana longsor di Dusun Kopen, Kecamatan Bareng, Jombang, serta hal-hal yang berhubungan dengan upaya pemerintah pascabencana di wilayah tersebut. Tujuan penulisan adalah untuk mempelajari hal-hal yang dapat dilakukan sebelum dan sesudah bencana terjadi sehingga bencana yang sama dapat diminimalkan dan mencegahnya terjadi di tempat lain, khususnya di daerah yang sudah terdeteksi rawan bencana.



2.      Bencana Tanah Longsor di Dusun Kopen, Desa Ngrimbi, Bareng, Jombang.

Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, yang dikutip oleh Pusat Pendidikan Mitigasi Bencana Universitas Pendidikan Indonesia (P2MB), bencana didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor non alam, sehingga timbul korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Jawa Timur memiliki dua puluh enam daerah yang termasuk kategori rawan bencana longsor, yaitu Magetan, Ngawi, Trenggalek, Tuban, Bojonegoro, Madiun, Blitar, Jombang, Pacitan, Ponorogo, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Kediri, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Malang, dan Mojokerto (Koran Madura, 2014). Kecamatan Bareng merupakan salah satu titik rawan bencana longsor di Kabupaten Jombang, karena terletak di lereng bukit, dan merupakan kawasan Gunung Anjasmoro. Pada Januari 2014 pun tak luput dari bencana longsor. Menurut menurut Bupati Jombang dalam kompas.com, musibah ini terjadi murni karena bencana alam. Sebab, sehari sebelumnya terjadi hujan yang cukup sering. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Povinsi Jawa Timur, Sudarmawan, dalam detikcom menambahkan penyebab utama musibah longsor di Dusun Kopen karena kondisi pepohonan jati yang usianya masih muda, sehingga perakaran pohon-pohon yang ada di bukit yang longsor belum mampu mencengkeram tanah. Curah hujan bukan salah satu faktor penyebab utama terjadinya tanah longsor. Faktor yang menyebabkan terjadi longsor, seperti daya dukung lingkungan di sekitarnya, tidak mampu menampung hujan. Namun, menurut Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat dihubungi detikcom mengatakan bahwa longsor terjadi bukan hanya karena curah hujan yang tinggi,  jika di lahan tersebut banyak yang terbuka, dan kurang pepohonan, maka bisa menimbulkan longsor. Meskipun curah hujan tinggi, jika daya dukung tanahnya kuat, longsor tidak akan terjadi.

Tribunnews.com menginformasikan bahwa terdapat empat belas orang tertimbun longsor. Tujuh jenazah ditemukan di hari pertama pencarian dan lima jenazah ditemukan hari ketiga. Pencarian korban membutuhkan waktu berhari-hari karena menurut Yuwono, Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, ketebalan material longsoran mencapai sekitar 3 hingga 4 meter. Pihaknya pun mengusahakan beberapa alat berat yang dinilai masih kurang untuk memaksimalkan pencarian.

Pusat Pendidikan Mitigasi Bencana Universitas Pendidikan Indonesia (P2MB), Bandung, mendefinisikan longsor merupakan perpindahan bebatuan dan material lainnya dalam jumlah besar secara tiba-tiba atau berangsur yang umumnya terjadi di daerah terjal dan tidak stabil. Ada dua faktor yang menjadi penyebab longsor, pertama karena faktor alam dan kedua karena faktor manusia. Bencana longsor yang terjadi di Dusun Kopen, Kecamatan Bareng, Jombang terjadi secara langsung karena faktor alam, namun kita faktor manusia pun disinyalir menjadi penyebab dalam bencana longsor tersebut. Penggundulan hutan, sistem pertanian yang tidak memperhatikan sistem pengairan yang aman, dan sistem drainase pada daerah tersebut menjadi penyebab dugaan lainnya.



3.      Upaya Pemerintah Pascalongsor

Bupati Jombang Nyono Suharli, seperti dikutip dalam regional kompas, mengajak masyarakat meningkatkan reboisasi untuk menghindari terjadinya bencana banjir maupun tanah longsor. Bencana longsor sebeneranya dapat dicegah dengan menjaga pepohonan di lereng. Tumbuhan akan menyerap air dan akarnya mengikat tanah. Humas Ristek menjelaskan, lereng terjal yang berpotensi longsor sebaiknya dihindari dengan tidak membangun rumah di kaki lereng. Tebing terjal dekat jalan dan permukiman sebaiknya dilandaikan untuk mencegah runtuh. Permukaannya dipadatkan sesuai dengan kondisi tanah dan ditutupi tumbuhan yang sesuai. Stabilisasi lereng juga dapat dilakukan dengan pendekatan teknik sipil, yaitu membuat dinding beton bertulang atau batu. Dinding itu harus dilengkapi dengan sistem drainase berupa lubang-lubang saluran air di beberapa bagian dinding.

Relokasi warga yang masih tinggal di daerah rawan longsor pun direncanakan oleh pemerintah. Namun, rencana ini ditunda hingga waktu yang belum ditentukan, karena musibah erupsi Gunung Kelud terjadi. Menurut Tim Bakornas, yang dikutip oleh harianhaluan.com, ciri-ciri daerah rawan longsor adalah derah berbukit dengan kelerengan lebih dari 20 derajat, lapisan tanah tebal di atas lereng, sistem tata air, dan tata guna lahan yang kurang baik, lereng terbuka atau gundul, terdapat retakan tapal kuda pada bagian atas tebing. Seharusnya penduduk yang tinggal di wilayah tersebut dapat mengurangi tanah longsor dengan cara menutup retakan pada atas tebing dengan material lempung, waspada terhadap rembesan air pada lereng, dan siaga saat curah hujan tinggi dengan durasi yang panjang.   

Dikutip dari Yusuf Wibisono dalam beritajatim.com, Aan Anshori, Direktur Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LinK) Jombang, menyatakan bahwa Pemkab Jombang berdalih relokasi korban longsor tidak bisa dilakukan karena bantuan dari provinsi dialihkan ke bencana Gunung Kelud, pihaknya mendesak agar Bupati dan Wakil Bupati mundur dari jabatannya. Padahal sejak 5 tahun lalu pemerintah mendapat peringatan mengenai potensi empat bencana besar yang akan mengancam Jombang. Aan Anshori menganggap Pemkab Jombang sejak awal tidak pernah serius menangani persoalan bencana di Jombang.



4.      Simpulan

Berita mengenai hak relokasi korban longsor di Dusun Kopen, Kecamatan Ngrimbi, Bareng, Jombang, belum diperoleh informasi selanjutnya. Pada dasarnya, penanggulangan bencana longsor perlu partisipasi semua pihak, khususnya masyarakat setempat. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor perlu diberikan pembelajaran terkait dengan hal-hal seperti pengenalan awal gejala longsor, sehingga pencegahan bencana longsor bisa dilakukan. Masyarakat perlu menyadari pentingnya melakukan reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul. Saat pohon-pohon di hutan selesai ditebang, maka masyarakat harus menanam kembali bibit-bibit pohon yang baru. Sehingga ketika musim hujan tiba, air hujan tidak langsung jatuh ke tanah, namun dapat ditahan oleh dedaunan dan akar-akar pohon.  

Identifikasi daerah rawan longsor dan pemantauan daerah tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pembangunan rumah oleh masyarakat pun seharusnya menghindari tempat-tempat rawan bencana. Pusat Pendidikan Mitigasi Bencana Universitas Pendidikan Indonesia (P2MB) menyebutkan masyarakat harus dihindarkan dari membuat pencetakan sawah baru atau kolam pada lereng terjal, karena air yang digunakan membuat tanah kehilangan kekuatannya sehingga mudah bergeser.   

      Hal yang harus dilakukan setelah bencana ini berlalu, selain relokasi penduduk ke daerah tempat tinggal yang lebih aman, yaitu mengevaluasi kebijakan instansi atau dinas yang memiliki pengaruh terganggunya ekosistem, normalisasi daerah penyebab bencana, dan membuat kerjasama antar daerah dalam penanggulangan bencana. Sebagian penduduk yang merasakan trauma akibat bencana longsor juga perlu mendapat perhatian khusus, walaupun bencana yang sudah berlalu tidak termasuk dalam bencana nasional, namun penduduk yang merasakan langsung akibat dari bencana tersebut perlu diperhatikan dari berbagai aspek, seperti kesehatan, bantuan uang tunai, perlengkapan sekolah untuk anak-anak, dan kebutuhan sehari-hari.



Daftar Acuan           

Enggran E.B. (2014). Ini Penjelasan BPDB Penyebab Longsor di Jombang. http://news.detik.com/surabaya/read/2014/01/28/191939/2481170/475/ini-penjelasan-bpbd-penyebab-longsor-di-jombang, yang diakses pada pukul 04.25 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

H. (2014). Mengenal Titik Rawan Longsor. www.harianhaluan.com/index.php/berita/sigab/14511-mengenal-titik-rawan-longsor, yang diakses pada pukul 09.54 WIB tanggal 15 Agustus 2014

Humas Ristek. (2013). Menahan agar Tanah Tak Longsor. http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/13003, yang diakses pada pukul 04.36 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

Koran Madura. (2014). Temukan 26 Titik Rawan Longsor di Jatim. www.koranmadura.com/2014/02/03/temukan-26-titik-rawan-longsor-di-jatim/, yang diakses pada pukul 09.41 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

M. Agus F.H. (2014a). Hindari Bencana, Bupati Jombang Minta Galakkan Reboisasi. http://regional.kompas.com/read/2014/01/28/2306573/Hindari.Bencana.Bupati.Jombang.Minta.Galakkan.Reboisasi, yang diakses pada pukul 04.21 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

-------------------. (2014b). Ketebalan Tanah Longsor di Jombang Capai 4 Meter. http://regional.kompas.com/read/2014/01/29/0628578/Ketebalan.Tanah.Longsor.di.Jombang.Capai.4.Meter, yang diakses pada pukul 05.33 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

-------------------. (2014c). Di Jombang, Ada 146 Desa Rawan Bencana. regional.kompas.com/read/2014/01/29/0736508/Di.Jombang.Ada.146.Desa.Rawan.Bencana, yang diakses pada pukul 04.15 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

------------------. (2014d). Pencarian Korban Longsor Jombang Dihentikan. http://www.tribunnews.com/regional/2014/02/01/pencarian-korban-longsor-jombang-dihentikan, yang diakses pada pukul 05.15 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

Nanda A. (2014). Cuaca di Indonesia Merupakan Imbas Cuaca Ekstrem Mancanegara?. http://green.kompasiana.com/iklim/2014/01/21/cuaca-di-indonesia-merupakan-imbas-cuaca-ekstrim-mancanegara-629571.html, yang diakses pada pukul 04.00 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

P2MB UPI. (2010). Longsor. p2mb.geografi.upi.edu/Landslide.html, yang diakses pada pukul 09.14 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

P2MB UPI. (2010b). Tentang Bencana. p2mb.geografi.upi.edu/Tentang_Bencana.html, yang diakses pada pukul 09.27 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

Rois J. (2014). BMKG: Curah Hujan Bukan Faktor Utama Terjadinya Tanah Longsor. http://news.detik.com/read/2014/01/28/153259/2480791/475/bmkg-curah-hujan-bukan-faktor-utama-terjadinya-tanah-longsor, yang diakses pada pukul 04.31 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

Sutono. (2014). Gara-gara Kelud, Relokasi Korban Longsor Jombang Terkatung. http://surabaya.tribunnews.com/2014/03/06/gara-gara-kelud-relokasi-korban-longsor-jombang-terkatung, yang diakses pada pukul 04.52 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

Tukidin. (2010). Karakter Curah Hujan di Indonesia. http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JG/article/view/84/85, yang diakses pada pukul 04.04 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

ULF. (2003). Puncak Curah Hujan akan Terjadi Januari – Februari. http://news.liputan6.com/read/68654/puncak-curah-hujan-akan-terjadi-januari-februari, yang diakses pada pukul 03.40 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.

Yusuf W. (2014). Relokasi Korban Longsor Belum Jelas, Bupati Dituntut Mundur. http://m.beritajatim.com/peristiwa/200407/relokasi_korban_longsor_belum_jelas,_bupati_dituntut_mundur.html#.U-0vyqNqMv8, yang diakses pada pukul 05.05 WIB, tanggal 15 Agustus 2014.



Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir Program Matrikulasi Penulisan Ilmiah pada Universitas Pertahanan Indonesia tahun akademik 2014/2015
Poskan Komentar